Cerita dari Kusala Kampus

Cicilia Oday: Menulis dengan Kejujuran

Berdiri di depan peserta Kusala Kampus, Cicilia Oday tidak mampu menyembunyikan kegugupannya. “Sejujurnya saya sangat gugup karena saya tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak,” katanya. “Kalau disuruh memilih menulis di sebuah ruangan sendirian atau berbicara di depan orang banyak, saya akan memilih yang pertama. Karena saya orang yang suka bersembunyi.”

Dia membayangkan karyanya sebagai gunung es yang mencuat di permukaan laut. Dirinya sendiri adalah bagian dominan yang tersembunyi di bawahnya. Untuk hadir di Jakarta hari itu, dia harus melintasi lautan, pulau-pulau, bahkan perbedaan zona waktu. Namun dia bangga menjadi bagian dari angkatan pertama pemenang yang berkontribusi dalam program baru Kusala Sastra Khatulistiwa.

Sedari kecil dia tidak merasa percaya diri memiliki kriteria untuk menjadi penulis. Masa kecilnya lebih banyak terpapar media visual: sinetron, telenovela, film-film India. Dia sering tidak bisa memilih apa yang dikonsumsi. Namun di situ justru tumbuh benih pencerita. Setiap kali selesai menonton, dia mengulang penggalan adegan di dalam kepala dengan dialog-dialog yang disusun sendiri. Media visual menjadi referensi membangun cerita. Ketika bertemu medium teks, dia langsung terdorong menulis cerpen dengan bahasa yang masih sangat terbatas. “Menulis membantu menjaga kewarasan,” ujarnya. “Gambaran yang tadinya hanya ada di kepala bisa dituangkan ke atas kertas dalam bentuk kata-kata.”

Sayangnya asupan bacaan jarang. Dia iri pada penulis yang familiar dengan buku sejak kecil. “Seandainya masa kecil saya seperti itu, mungkin saya sudah menjadi penulis yang lebih baik. Bahkan mungkin sudah menerima penghargaan ini lebih awal.” Tapi itu hanya mungkin. Motivasi menulisnya bukan sekadar untuk memenangkan penghargaan. Ketika ditanya kenapa menulis, jawabannya sempat kabur. Lalu dia menemukan dua alasan yang lebih jujur: karena tidak bisa menggambar, dan karena mimpi berakting di masa remaja tidak mendapat ruang penyaluran. Kecintaan pada seni peran mentok di ekstrakurikuler teater dan satu project film pendek tingkat kabupaten. “Ketika satu pintu tertutup, maka pintu yang lain akan terbuka. Melalui pintu yang terbuka itulah pertemuan saya dengan dunia sastra dimulai.”

Pernah dia menulis seperti orang yang tidak tahu cara lain untuk hidup. Padahal dia sendirian, tidak berada di lingkungan orang-orang yang juga menulis. Bahan bakarnya datang dari membaca. Di masa muda, kebanyakan bacaan adalah sastra populer terjemahan, ditambah sastra lokal yang, menurutnya, “serius”. Bagi dia waktu itu semua tulisan adalah produk pemikiran yang setara. Cerpen pertamanya yang terbit di Kompas mendapat banyak pujian dan untuk pertama kali dia mendengar kata “surialisme”. Pembaca menganalisis karyanya dengan teori-teori filsafat yang tidak dipahaminya.

“Saya merasa bodoh, merasa malu karena pembaca lebih mengetahui tentang karya kita daripada kita sendiri.” Belakangan dia mengerti: itulah kekuatan alam bawah sadar. Penulis menampilkan gejala yang ada di dalam diri; pembaca yang lebih ahli mengkaji produk batin itu.

Lalu datang fase gelap. Dia tergila-gila pada teknik, terobsesi menemukan gaya sendiri sampai-sampai tidak mau membaca agar tidak terpengaruh. Proses kreatif macet. Dia mengambil jarak, bekerja di kantor pembiayaan. Mengutip Ayu Utami bahwa menulis itu 60 persen membaca, 40 persen menulis, dia pun kembali membaca apa saja, bukan hanya fiksi. Mesin sehebat apa pun tidak bisa jalan tanpa bahan bakar.

Novel pertama yang terbit bukanlah novel pertama yang ditulisnya. Duri dan Kutuk adalah novel kesekian. Draf pertamanya ditulis secara manual di buku harian sambil mengasuh bayi. Benihnya sudah ada sejak masih lajang: tanaman kemboja di rumah orang tua yang wujudnya ganjil, memicu imajinasi tentang tanaman yang bisa bergerak dan berbicara. Semula berbentuk novela pendek. Masuk kompetisi, hanya sampai daftar panjang. Lalu editor Gramedia meminangnya. Karena formatnya tidak memenuhi kriteria, proyek sempat terhenti. Dia memutuskan menulis ulang, bukan sekadar merevisi atau menyunting, melainkan meruntuhkan bangunan lama hingga nyaris serata tanah dan hanya menyisakan sedikit jejak fondasi. Karakter ditambahkan atau dihilangkan, nama diganti, alur dibuat lebih kompleks, konflik diperjelas, bumbu ironi ditambahkan.

“Hasil akhir dari karya memang tidak pernah saya peroleh dengan hanya satu kali usaha menulis,” katanya.

Dia teringat Haruki Murakami: menulis novel adalah pekerjaan yang sangat tidak efisien dan berbelit-belit. Satu gagasan yang bisa diperoleh dalam tiga menit dari sumber lain, di tangan novelis butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Lalu untuk apa merepotkan diri? Karena terkadang yang terpenting bukan apa yang disampaikan, melainkan bagaimana cerita itu dibawakan melalui medium bernama bahasa. Sejalan dengan kredo Sutarji Calzoum Bachri: kata-kata bukan alat untuk mengantarkan pengertian. Kata adalah pengertian itu sendiri.

Semua penulis yang bukunya pernah dibacanya dianggap sebagai guru menulis, terlepas diidolakan atau tidak. Dari mereka dia belajar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pada 2014 dia mengikuti kelas menulis Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Di pertemuan terakhir di sebuah kedai di kompleks Taman Ismail Marzuki, dia membacakan cerpen baru. Ketika menyodorkan buku saku hanya untuk minta tanda tangan Eka Kurniawan, dia mendapat catatan singkat: “Cerpenmu tadi bagus. Mungkin sedikit lebih dingin dengan narator yang sedikit tersembunyi bisa bagus banget.” Waktu itu dia tidak mengerti. Hampir sepuluh tahun kemudian, saat menulis Duri dan Kutuk  dan karya-karya lain, dia menengok kembali catatan yang sudah dibingkai. Akhirnya dia paham. Narator yang tersembunyi, narasi yang lebih dingin, itulah yang dia terapkan.

Kesadaran itu membuatnya merasa kecil: ada orang yang sejak 2014 sudah mengetahui sesuatu yang baru dimengertinya pada 2024. Kesenjangan besar antara seseorang yang sudah khatam karya-karya kanon sejak muda dengan dirinya yang terlambat mengenal sastra. Namun dari situ juga datang bahan bakar: membaca ulasan The Vegetarian di blog Eka Kurniawan mendorongnya menulis ulang draf Duri dan Kutuk.

Terhadap pertanyaan tentang alam bawah sadar ketika menulis, Cicilia Oday menjawab, “Kita menulis jujur saja. Semakin kita jujur pada diri sendiri ketika menulis, semakin alam bawah sadar itu bisa diakses.” Tidak perlu berpretensi hebat. Tidak perlu merasa berbakat. Jujur saja.

Lantas kalau disuruh memilih lagi antara menulis sendirian di sebuah ruangan atau berdiri di depan orang banyak, jawabannya sudah berubah. “Mungkin saya bisa pilih kedua-duanya. Mungkin saya tidak harus bersembunyi. Mungkin saya bisa berdiri bersandingan dengan karya saya sendiri.”

24 Agustus 2025