Cerita dari Kusala Kampus
Esha Tegar Putra: Puisi Tidak Bisa Dilepaskan dari Hidup

Pada malam pengumuman Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, Esha Tegar Putra berada di rumah orang tuanya di Padang. Dia sengaja menyerahkan handphonenya. “Kalau handphone saya berdering sekitar pukul 00.00 atau 00.30, berarti saya menang,” katanya. Banyak bunyi WhatsApp yang datang. Begitulah cara dia mengetahui bahwa Hantu Padang dinobatkan sebagai pemenang kategori kumpulan puisi.
Dia memohon maaf karena tidak hadir di malam itu. Bukan hanya karena tugas, melainkan juga karena perasaan yang “sangat tidak enak”. Sejak tahun 2000-an dia sudah mengenal perjalanan Kusala, pernah beberapa kali bukunya masuk penilaian, dan malam itu dia memilih menyerahkan hasilnya kepada siapa saja yang menang. “Saya tidak akan kecewa,” ujarnya.
Agustus 2025 menandai dua puluh tahun proses kepenulisannya. Semuanya berawal dari satu malam di Fakultas Sastra Universitas Andalas pada 2005: Malam Tadarus Puisi, tradisi menyambut mahasiswa baru. Puisi dibacakan, diteaterkan, didendangkan dari setelah Isya hingga subuh. Satu puisi seniornya, Agus Hermawan, yang berjudul Narasi di 3 Hari, memikatnya hingga sekarang. Puisi tentang wajah Melayu yang tiris, perdamaian yang mungkin hanya ada di ujung jari, dan kota suci yang menyimpan ratapan. “Puisi inilah yang memantik saya untuk pertama kali menulis puisi,” kenangnya.
Sepulang dari acara itu, dia naik ke atap kampus bersama teman-teman, memandang lampu kota Padang dan laut yang masih terlihat jelas. Pagi harinya, dia meminjam komputer teman sekamar dan menulis puisi pertamanya.
Sebelum itu, sastra hampir tidak pernah hadir dalam hidupnya. Dia tumbuh di perkampungan pinggiran Danau Singkarak, anak seorang guru kesenian SMP yang suaranya indah dan gemar menyanyikan lagu-lagu Minangkabau. Halaman rumahnya sering penuh orang yang berlatih menari, menyanyi, dan sandiwara. Kesenian sudah dekat sejak kecil, tetapi sastra tidak. Di SMA, majalah Horison hanya dibaca untuk menggunting sketsa-sketsanya yang bagus.
Selesai SMA tahun 2003, yang ada di kepalanya hanyalah merantau. Seperti banyak teman sebaya di kampungnya, rantau berarti membawa sesuatu pulang—mobil, atau setidaknya sumbangan besar ke masjid. Dia pergi ke Bandung, bekerja di Depot Jamu yang sebenarnya 80 persen menjual alkohol untuk ojek pangkalan. Lalu pindah ke warung nasi di Limbangan Garut sebagai tukang cuci piring dan pengangkut air. Pernah berdagang plastik di Pasar Minggu, menjadi tukang jualan kain di pasar grosir Cipulir dan Tanah Abang, bahkan tukang cabut benang di konveksi Warung Kunci. Semua dijalani dengan kegagalan. “Saya sadar ternyata saya tidak punya bakat untuk dagang,” katanya.
Setelah gagal total, dia memilih pola rantau yang lain: merantau lewat sastra. Dia masuk Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas bukan karena cinta sastra, melainkan karena passing grade-nya paling rendah. Dia ingin kuliah di universitas negeri yang murah. Dua tahun jeda setelah SMA membuatnya merasa tertinggal. Teman-teman sudah bisa menulis cerpen, sementara dia tidak bisa menulis apa-apa. Dia mengejar ketertinggalan itu dengan membaca dan menulis tanpa henti. Tulisan di koran daerah memberinya honor Rp25.000 atau Rp50.000—uang yang berarti pada masa itu—serta kemudahan meminjam buku dari senior dan traktiran dari dosen.
Puncaknya datang tahun 2007, ketika puisinya dimuat di Tempo dan Kompas. Belum pernah ada senior sepuluh tahun di atasnya yang tembus di kedua media itu, kecuali Agus Hermawan, penulis puisi yang memantiknya dua tahun sebelumnya. “Enak juga diapresiasi,” kenangnya. Sejak itu dia semakin rajin mengirim karya dan mulai diundang ke berbagai festival.
Padang menjadi kota kelahiran kedua. Di sanalah cara pikir dan landskap puisinya dibangun. Dia merawat kenangan kecil: jalan di belakang terminal yang kini menjadi plaza, tempat adiknya pernah meraung meminta robot remote control; hotel tempat dia sesekali menginap bersama orang tua; bus yang mangkal di Tarandam. Dia menyisir kembali karya-karya sastra tentang Padang, mendengarkan lagu-lagu Minang, dan mencari jejak sastrawan seperti Idrus yang dimakamkan di kota itu namun kuburannya tak ditemukan. “Padang bagi saya adalah puisi itu sendiri,” ujarnya.
Lalu datang perantauan ulang-alik antara Padang dan Jakarta–Depok. Tubuh di satu kota, pikiran terbelah di dua kota. Peristiwa ini menjadi inti Hantu Padang. Dia menulis tema-tema kecil: anak yang sakit sementara dia tidak di sampingnya, debu yang turun dari plafon kamar kos, suara kipas angin, paku di belakang pintu, jaket kumal tukang ojek, suara kuali yang dipukul spatula. Dia memadukan penglihatan Jakarta dengan rasa bahasa yang dibawa dari Padang. “Saya tidak punya hasrat untuk berpretensi menulis tema-tema besar. Hanya tema-tema tentang saya,” katanya. Dia menerima jika orang menyebut puisinya sebagai biografi pribadi.
Empat kali bukunya masuk penilaian Kusala. Dalam Lipatan Kain daftar pendek 2015, Sarinah daftar panjang 2016, Setelah Gelanggang daftar pendek 2020, dan akhirnya Hantu Padang yang memenangkan. Penghargaan itu bukan tujuan, tetapi membuatnya cukup kuat dan mengantarkan hal-hal baik. Dia menganggapnya sebagai sesuatu yang mesti dijaga.
Di akhir, dia berterima kasih kepada Allah atas liku-liku hidup yang dijadikan puisi, kepada orang tua dan keluarga, kepada kota kelahiran, kota kelahiran kedua, dan kota persinggahan. Juga kepada langgam Minang yang diserap dari dendang hingga lagu modern, dan kepada pembaca yang memberi keyakinan bahwa proses menjalani hidup adalah juga proses menjalani puisi.
Bagi Esha Tegar Putra, segala sesuatu bisa menjadi puisi. Bahkan ketika dia memandang orang di hadapannya, dia sudah memandangnya dengan kacamata puitik. Hidup dan puisi, pada akhirnya, tidak lagi bisa dipisahkan.


