Cerita dari Kusala Kampus
Sasti Gotama: Dari Tukang Suntik jadi Tukang Tulis

Sasti Gotama berpendidikan kemudian berprofesi sebagai dokter. Ia pernah menulis skripsi tentang teknik menyuntik agar tidak sakit. Ironisnya, pasien-pasien di puskesmas memprotesnya dengan menyatakan suntikan yang tidak nyeri dianggap tidak manjur. Selain itu, dia juga punya kisah unik digotong oleh pasien ke UGD, karena pingsan saat memeriksa asam urat dari pasien tersebut.
Pada 2018–2019, rasa nyeri yang menetap membuatnya banyak tergeletak. Di tempat tidur itu, seorang teman sejawat mengirimkan sebuah cerpen pendek, sekitar lima ratus kata. Itulah yang membuatnya, untuk pertama kalinya, bertanya kepada dirinya sendiri, “Kamu tidak bisa menulis seperti ini?”
Dari perjumpaan awal dengan cerpen, lahirlah flash fiction karya pertamanya yang kacau, penuh kesalahan tata bahasa, yang diunggahnya di Facebook. Saat itu, dia menulis bukan untuk menjadi sastrawan, melainkan menjadikannya katarsis, mengalihkan nyeri yang diderita, dan melepaskan beban di benak.
Karena itulah, Dalam pembuka Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, dia menulis bahwa hidup hanyalah upaya untuk mempersedikit kesakitan. Kalimat itu bukan slogan. Itu adalah catatan dari tubuh yang pernah terlalu lama berbaring.
Sasti baru mulai menulis pada tahun 2019. Setiap bulan, dia mengirimkan dua atau lebih cerpen ke media. Yang ditolak, ia unggah di media sosial. Dari sana, kritik pun datang dengan keras: norak, monoton, metafora yang dipaksakan. Ada yang menggunakan kata-kata yang “mencabik-cabik”.
Dia sempat mutung. Sempat ingin berhenti. Namun kritik itu dijadikannya pijakan. “Yang ingin saya kalahkan adalah diri saya sendiri,” ujarnya. Dia terus belajar, bereksperimen dengan bentuk, struktur, diksi. Dia mengikuti kelas menulis. Hingga pada 2020, cerpennya tembus di Kompas.
Dari kumpulan cerpen yang sebelumnya ditolak, lahir Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam—buku yang masuk daftar pendek Tempo dan menjadi juara Sayembara Rasa 2023. Lalu novel Korpus Uterus, yang ditulis dalam dua bulan karena tantangan teman dan sayembara DKJ. Dan akhirnya Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, yang meraih tiga besar Buku Sastra Pilihan Tempo 2024 sebelum menjadi juara Kusala.
Dalam kumpulan cerpen itu, Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, Sasti menyoroti orang-orang yang terpinggirkan, terutama perempuan. Domestikasi digambarkan sebagai harimau yang dipaksa menjadi kucing. Konflik di Maluku Utara tidak dibaca semata sebagai benturan agama, melainkan perebutan tanah. Ada tokoh yang lahir dari epitaf di makam kolonial, ada yang membawa gangguan kepribadian: OCD, NPD, neurosis. Dia memasukkan teori Freud tentang mekanisme pertahanan ego. “Masa kuliah adalah masa riset,” katanya.
Inspirasi datang dari mana saja: pasien, esai Linda Kristanti, film Fight Club, bahkan tulisan di batu nisan. dIa punya “bank premis” yaitu sebuah ruang di mana setiap ide, sekecil apa pun, disimpan. Bahkan yang muncul saat jongkok di toilet.
Di tengah pandemi, dia dihadapkan pada pilihan untuk terus sebagai ASN atau melepaskannya. Ia memilih untuk resign. “Saya sempat limbung, merasa tidak ada,” akunya. Tapi sastra menyelamatkannya. “Dengan sastra, saya merasa ada. Saya mengada.”
Sejak itu ia mengeluarkan tujuh buku dan tujuh terjemahan, menjadi editor, kurator, pengajar. Ia lebih sibuk, tetapi lebih bahagia. “Dulu saya bilang saya tersesat. Sekarang saya bilang saya menemukan jalan yang benar.” Sasti meminjam istilah Simone de Beauvoir: sastra memungkinkannya melampaui diri sendiri. “Bila dulu menulis adalah katarsis untuk melewati nyeri demi nyeri, sekarang dengan sastra saya bisa mengada. Dan saya berharap, dengan Kusala ini, saya akan lebih-lebih lagi melampaui diri saya yang saat ini.”


