5 Novel Daftar Pendek Kusala 2026 yang Wajib Dibaca Sebelum Pemenang Diumumkan

Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) telah mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut memuat lima judul pada masing-masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.

Pengumuman itu dibacakan oleh Gema Mawardi selaku Direktur Program dari YRKI. KSK merupakan penghargaan untuk karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Penyelenggaraan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, dan Falcon Pictures.

Untuk kategori novel, daftar pendeknya terdiri dari Alok karya Arie Saptaji, Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal, Katri karya Adeste Adipriyanti, Seakan Bisa Dipisahkan karya Ruhaeni Intan, dan Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen.

Berikut ini adalah sekilas isi dari kelima novel daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 kategori Novel:

1. Alok – Arie Saptaji (POST Press)

Novel ini mengangkat proses duka seorang perempuan (Pratiwi/Pertiwi) atas hilangnya kakaknya, Santoso, yang ditelan Laut Selatan. Cerita memadukan duka, budaya Jawa, spiritualitas, dan elemen gaib (kemampuan menghubungkan dengan dunia tak kasat mata). Gaya bahasa puitis, deskripsi detail, dan alur tenang tapi emosional. Dari banyak review, novel ini dipuji karena kekayaan kosakata dan cara novel ini “memeluk” orang yang berduka, sekaligus menampilkan kekayaan khazanah lokal Indonesia. Novel ini dianggap cocok untuk yang suka cerita introspektif tentang kehilangan dan kepercayaan.

2. Ikhtiar yang Tak Benar-Benar – Nukila Amal (Kepustakaan Populer Gramedia)

Eksperimen naratif Nukila Amal (penulis Cala Ibi) tentang Juna, seorang penulis perfeksionis dan “Raja Diraja dari segala Raja Tunda” yang tak kunjung menyelesaikan novel sejarahnya, serta konflik rumah tangganya dengan istri, Kin. Novel polifonik, penuh monolog internal kacau, satire terhadap proses kreatif, dan permainan bahasa. Menjadi “Buku Prosa Pilihan Tempo 2025”. Gaya eksperimental menuntut fokus, tapi diapresiasi sebagai manifesto kegagalan yang puitis dan kritik terhadap obsesi hasil. Dianggap sesuai atau cocok bagi pembaca yang suka metafiksi dan refleksi tentang menulis.

3. Katri – Adeste Adipriyanti (Kepustakaan Populer Gramedia)

Novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata, tentang Katri, perempuan desa di Klaten yang menjadi korban salah tangkap dan tahanan politik 1965. Ia ditembak saat hamil tujuh bulan, disiksa, dipindah-pindah penjara selama bertahun-tahun, lalu berusaha bertahan hidup. Ditulis dengan empati tinggi, bahasa tegas, dan detail penderitaan yang menyesakkan tanpa dramatisasi berlebihan. Banyak ulasan memuji keteguhan tokoh, kekuatan riset, dan cara novel ini mengingatkan sejarah kelam tanpa propaganda. Debut novel Adeste yang menyentuh dan relevan untuk generasi muda.

4. Seakan Bisa Dipisahkan – Ruhaeni Intan (Kepustakaan Populer Gramedia)

Ini sebenarnya semacam novela ringan tapi emosional tentang Sofia, perempuan muda perantau yang tumbuh dalam keluarga disfungsional: ayah yang cuek/selingkuh dan ibu yang dingin serta keras. Novel ini berfokus pada kompleksitas hubungan ibu-anak, luka masa lalu, dan proses penerimaan. Banyak yang menyebutknya sebagai healing fiction lokal, dengan alur yang menyentuh hati dan akhir terbuka yang memberi ruang refleksi. Dari beberapa review, pembaca merasa ceritanya sedikit tergesa, tapi secara keseluruhan direkomendasikan sebagai bacaan tentang keluarga dan luka yang “tak bisa dipisahkan”.

5. Tersesat Setelah Terlahir Kembali – Yoga Zen (Marjin Kiri)

Novel ini adalah pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023. Mengisahkan seorang lelaki asing (sumando) di tanah Minangkabau yang dipaksa mengikuti tradisi maskulin berburu babi, lalu terjebak obsesi, kegilaan, mitos lokal, dan bayang-bayang sejarah kelam (pembantaian masa lalu). Alur non-linear seperti puzzle, narator yang tak sepenuhnya bisa dipercaya, dan isu-isu sensitif (kesehatan mental, orientasi seksual, kekerasan). Novel ini mendapatkan apresiasi karena keberanian dan kekayaan lokalitas, sekaligus mendapat kritik karena alur yang membingungkan dan penyelesaian yang kurang solid. Novel yang memang membuat pembaca “tersesat”.

Tahun ini, penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan penggunaan bahasa, sudut pandang yang dihadirkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi setiap karya terhadap perkembangan sastra Indonesia.

“Selanjutnya, Dewan Juri akan melakukan pembahasan akhir untuk menentukan satu karya terbaik pada setiap kategori yang akan menerima penghargaan tahun ini. Pengumuman pemenang dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilaksanakan secara terpisah,” kata Gema Mawardi dalam keterangan resminya.**

8 Agustus 2026