Lima Kumpulan Puisi yang Perlu Dibaca Sebelum Diumumkan Sebagai Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa

Gema Mawardi, Direktur Program Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI), melalui penyampaian resmi mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut mencakup lima judul pada masing‑masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.

KSK merupakan penghargaan bagi karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Pelaksanaan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, serta Falcon Pictures.

Untuk kategori kumpulan puisi, daftar pendeknya terdiri dari Ke Arah Museum Revolusi karya Nirwan Dewanto, Kutu-Kutu Joni karya Julia F. Gerhani Arungan, Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat, Pagar Rumahku Berubah Warna karya Ama Gaspar, dan Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra.

Berikut sekilas alasan mengapa kumpulan puisi ini perlu dibaca.

1. Ke Arah Museum Revolusi – Nirwan Dewanto (Warning Books)

Kumpulan puisi yang menelusuri jejak sejarah Indonesia—dari pergerakan nasional awal abad ke-20, kemerdekaan yang berdarah, hingga liku-liku ideologis Orde Baru. Nirwan tidak menceritakan sejarah secara kronologis atau didaktis, melainkan menyelami celah-celah sunyi: momen personal dan politis yang terlupakan, tokoh yang muncul sebagai simbol sekaligus hantu revolusi. Bahasa tajam namun elegan. Judulnya sendiri ironis: apakah revolusi sudah selesai dan hanya menjadi artefak museum, atau masih hidup dalam cara kita memaknai keadilan dan kekuasaan? Buku ini mengajak pembaca merasakan sejarah lewat kepekaan seorang penyair.

2. Kutu-Kutu Joni – Julia F. Gerhani Arungan (DIVA Press)

Puisi-puisi yang menggugat kemanusiaan lewat simbol tubuh, ingatan, dan ketimpangan sosial. Manuskripnya sempat menarik perhatian juri Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2023. Bahasa sunyi tapi tajam; beberapa puisi terasa fragmentaris, mencerminkan cara trauma dan ingatan bekerja. Tidak menawarkan keindahan konvensional, melainkan kejujuran emosional dan keberanian menyentuh luka. Cocok bagi pembaca yang mencari puisi dengan keberpihakan sosial kuat dan ruang empati di tengah masyarakat yang bising.

3. Nusantara, Amnesia – Ari Pahala Hutabarat (Lampung Literature)

Puisi-puisi tentang “lupa” sebagai kondisi kolektif. Nusantara tidak digambarkan sebagai simbol persatuan yang utuh, melainkan ruang yang menyimpan konflik, ketimpangan, dan penghilangan. Bahasa singkat, langsung, dan kadang kering—pilihan estetik yang menjaga jarak, bukan memperindah. Puisi-puisi hadir sebagai fragmen peristiwa, suasana, dan simbol yang berdiri sendiri. Buku ini menawarkan persoalan yang tidak selesai: tentang apa yang kita ingat dan apa yang sengaja dilupakan dari sejarah dan identitas.

4. Pagar Rumahku Berubah Warna – Ama Gaspar (Gramedia Pustaka Utama)

Puisi-puisi lirik yang lembut dan visual. Hujan berwarna, pohon akasia yang berubah warna, bunga-bunga tanpa nama, dan seribu kupu-kupu yang mengubah rumah menjadi taman bermain. Bahasa jernih, seperti dongeng sebelum tidur yang tak punya judul—penghiburan yang tak berupaya menjadi puisi. Nuansa intim, penuh imaji warna dan alam, dengan nada yang tenang sekaligus magis. Cocok untuk pembaca yang menyukai puisi yang indah secara visual dan emosional tanpa pretensi berat.

5. Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan – Heru Joni Putra (Teroka Press)

Puisi-puisi yang lahir dari perenungan tentang keterbatasan manusia—keterbatasan pengetahuan, tubuh, dan cara memahami dunia. Ditulis di masa pandemi (meski bukan langsung tentang COVID), dengan pengaruh perjumpaan dengan jemaah surau saat penulis bolak-balik ke kampung halaman. Buku ini menjadi ruang pertanyaan tentang batas-batas yang kita miliki dalam menafsir realitas. Gaya reflektif dan personal, mengajak pembaca merenungkan apa yang bisa dan tidak bisa diketahui.

Menurut Gema, selanjutnya Dewan Juri akan mengadakan diskusi akhir untuk memilih satu karya terbaik di setiap kategori yang akan memperoleh penghargaan tahun ini. Penilaian pada tahun ini memperhatikan penggunaan bahasa, perspektif yang ditampilkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai isu yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi masing‑masing karya terhadap perkembangan sastra Indonesia. Ia menutup dengan menyatakan bahwa pengumuman pemenang serta Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilakukan secara terpisah.**

8 Agustus 2026