Sudahkah Anda Baca 5 Kumpulan Cerpen yang Masuk Daftar Pendek Kusala 2026?

Gema Mawardi selaku Direktur Program Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) melalui siaran resminya telah mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut memuat lima judul pada masing-masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.

KSK merupakan penghargaan untuk karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Penyelenggaraan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, dan Falcon Pictures.

Untuk kategori Kumpulan cerpen, daftar pendeknya terdiri dari Cara Menghadapi Kehilangan karya Yetti A.KA, Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya, Jose Kecil Dalam Dirimu karya Kaisar Deem, Misi Menggagalkan Doa karya Yoga Palwaguna, dan Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri karya T. Agus Khaidir.

Berikut ini adalah sekilas pembacaan atas isi dari kelima kumpulan cerpe yang masuk dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 kategori Kumpulan Cerpen:

1. Cara Menghadapi Kehilangan – Yetti A.KA. (DIVA Press)

Kumpulan 19 cerpen yang subtil dan elegan tentang berbagai bentuk kehilangan: kematian, luka keluarga, keterasingan, cinta yang tak selesai, dan sunyi. Gaya Yetti yang khas yaitu melankolis tapi tak cengeng, puitis tapi tajam, dengan detail psikologis yang kuat dan dialog internal yang mengendap. Setiap kisah seperti fragmen kehidupan yang mengajak pembaca duduk bersama tokoh dalam ruang hampa penuh kenangan. Kekuatannya terletak pada cara mengolah trauma dan keintiman dengan bahasa bersahaja namun emosional. Buku ini menekankan bahwa kehilangan tak selalu harus disembuhkan, cukup dihadapi. Cocok untuk pembaca yang suka cerpen introspektif dan lirih.

2. Hantu Ulang-alik – Ratri Ninditya (baNANA)

13 cerpen tentang “hantu” emosional yang gentayangan di kehidupan urban: trauma, relasi timpang, duka, paranoia, dan absurditas sehari-hari (misalnya mi instan yang berubah jadi balas dendam pasif-agresif). Bukan horor harfiah, melainkan potret batin orang-orang yang tampak baik-baik saja tapi remuk di dalam. Gaya sederhana, ironis, dan intim; beberapa cerpen eksperimental. Kumpulan cerpen ini mendapat banyak pujian karena kejujuran dan kemampuan menangkap kegelisahan kota tanpa pretensi. Dari review atau resensi para pembaca, banyak yang merasa ceritanya “relate” tapi tidak selalu “wow”, bahkan ada yang menyebutnya kumcer favoritnya. Kumcer ini cocok untuk yang suka cerpen kontemporer sendu dan tajam.

3. Jose Kecil Dalam Dirimu – Kaisar Deem (Bara Books)

Dari 5 kumpulan cerpen yang masuk dalam Daftar Pendek KSK 2026, agaknya Jose Kecil dalam Dirimu dan Cerita-Cerita Lainnya yang terbit Mei 2025 belum banyak mendapatkan ulasan di ruang publik. Dari deskripsi penerbit didapatkan gambaran bahwa kumcer ini layak dikoleksi karena adanya nuansa sastrawi yang menyentuh sisi “kecil” atau rapuh dalam diri manusia. Tema yang muncul di sekitar judul mengarah pada refleksi identitas, luka batin, atau sisi-sisi tersembunyi tokoh. Karena masih relatif baru, rasanya kumcer ini cocok untuk pembaca yang ingin menjelajahi suara baru dalam cerpen Indonesia.

4. Misi Menggagalkan Doa – Yoga Palwaguna (Langgam Pustaka)

13 cerpen yang mencampur realisme sehari-hari dengan elemen distopia/futuristik. Tema utama: moralitas, doa, iman, keluarga, cinta, dan absurditas manusia. Ada cerita tentang anak yang ingin “menggagalkan” doa ibunya yang terlalu saleh, hingga kisah di kapal luar angkasa. Gaya bertutur halus, ironis, penuh empati, dan thought-provoking. Dari banyak ulasan yang ada, beberapa pembaca merasa ceritanya dekat meski absurd, bahkan beberapa judul bisa membuat basah mata. Kumcer ini dianggap segar karena berani mengobrak-abrik perasaan dan moralitas yang biasa diakui. Cocok untuk yang suka cerpen yang mengoyak pikiran sekaligus menyentuh.

5. Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri – T. Agus Khaidir (Buku Kompas)

Kumpulan cerpen dengan suasana sendu dan sunyi. Fokus pada keterasingan, pergulatan batin, dan manusia yang “tidak baik-baik saja” di tengah keramaian. Latar hujan dan malam sering muncul sebagai ruang refleksi. Dengan latar belakang wartawan, T. Agus Khaidir menampilkan kepekaan sosial yang realistis dan emosi tokoh yang hidup. Buku ini masuk Buku Sastra Pilihan Tempo 2025. Kekuatan utamanya terletak pada penggambaran kesepian dan pertanyaan eksistensial yang jujur, tanpa banyak momen bahagia. Cocok untuk pembaca yang suka cerpen lirih, realistis, dan penuh perenungan.

“Selanjutnya,” menurut Gema, “Dewan Juri akan melakukan pembahasan akhir untuk menentukan satu karya terbaik pada setiap kategori yang akan menerima penghargaan tahun ini.”

Tahun ini, penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan penggunaan bahasa, sudut pandang yang dihadirkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi setiap karya terhadap perkembangan sastra Indonesia.

“Pengumuman pemenang dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilaksanakan secara terpisah,” pungkasnya dalam keterangan resmi.**

8 Agustus 2026