Penjurian Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 telah sampai pada penghujung, yakni penentuan pemenang untuk buku kategori Novel, Kumpulan Cerita Pendek, dan Kumpulan Puisi. Setelah melakukan pembacaan secara mendalam dan bertahap, Dewan Juri yang terdiri dari sastrawan serta pemerhati sastra, yaitu Andina Dwifatma, Arif Bagus Prasetyo, Martin Suryajaya, Ni Made Purnama Sari, dan Saras Dewi, mengungkapkan apresiasi bagi para penulis maupun penerbit yang telah mengerahkan kerja-kerja kreatifnya sehingga tahun 2025 terasa semarak dengan hadirnya buku-buku sastra yang bermutu.
Selama proses penilaian tersebut, Dewan Juri mencermati keluasan cakrawala puitik dan naratif, bertumpu pada kekriyaan bahasa, keutuhan konsep artistik, ketajaman gagasan, serta pengerahan kerja kreatif yang memperluas wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas.
“Setiap anggota Dewan Juri sepakat bahwa karya yang masuk memiliki capaian artistik dan pengayaan tematik yang sangat memikat. Dengan caranya tersendiri, setiap penulis berusaha mengisi, mengembangkan, maupun memberi kemungkinan lain dari karya-karya sastra yang telah ada di Indonesia, dan usaha pencarian ini patut untuk dihargai,” ujar Ni Made Purnama Sari.
Karena kualitas karya yang hampir sepadan, diskusi yang mendalam dalam menentukan pemenang pun dilakukan. Ada kalanya argumen dari setiap juri saling melengkapi, dan tidak jarang terjadi silang dialog untuk menelisik kembali pandangan-pandangan personal setiap juri. Pada akhirnya, Dewan Juri berharap karya yang terpilih maupun masuk dalam nominasi akan terus dibaca serta dibincangkan karena semuanya memiliki nilai yang berharga untuk sastra Indonesia.
Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 diraih oleh novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal (Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia), buku kumpulan cerpen Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya (Penerbit baNANA), dan buku kumpulan puisi Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat (Penerbit Lampung Literature).
Andina Dwifatma menyebutkan novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar unggul lewat teknik bercerita yang matang, serta keberhasilan dalam menghadirkan novel polifonik yang berisi aneka suara dan gagasan. “Pengarang dapat mengisahkan suara bermacam-macam karakter di dalamnya tanpa terjebak ke dalam nada yang serupa. Selain itu, pengarang juga berhasil mengolah tema domestik menjadi penjelajahan estetik yang berbobot,” ujarnya.
Sementara itu, buku kumpulan cerpen Hantu Ulang-alik menunjukkan keberanian dalam bereksperimen dengan bahasa urban yang tanpa pretensi. “Karya ini juga memperlihatkan ketajaman perspektif dalam menangkap suara perempuan pekerja serta gaya penceritaan yang mengalir alami,” ungkap Martin Suryajaya.
Arif Bagus Prasetyo memberikan catatan bahwa buku puisi Nusantara, Amnesia berhasil mempertemukan banyak unsur sekaligus, mulai dari sejarah paling kolosal hingga pengalaman privat. “Karya ini dengan gemilang mengolah trauma sejarah menjadi pengalaman puitik yang kaya, mendobrak kebekuan pikiran sembari menggetarkan emosi melalui komposisi yang padu secara bentuk maupun tema,” ujarnya.
“Kepada seluruh penulis dan penerbit yang terus setia merawat napas daya cipta sastra, kami haturkan hormat setinggi-tingginya. Semoga karya-karya terpilih tahun ini makin memantik inspirasi, memperluas imajinasi, dan mendorong kemungkinan kreativitas baru pada masa mendatang,” demikian disampaikan Saras Dewi.
Pratiwi Juliani Ketua Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia sebagai pelaksana menyampaikan bahwa bagi Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia, Kusala Sastra Khatulistiwa merupakan sebuah ikhtiar untuk mempertemukan pembaca dengan buku-buku sastra Indonesia yang bermutu untuk dirayakan dalam keberagaman karya dan terus dibicarakan.
“Setiap tahun, kami ingin agar judul-judul yang lahir dari proses seleksi tidak berhenti sebagai daftar pengumuman semata, melainkan menjadi semacam peta kecil bagi pembaca, atau sebuah rujukan untuk menemukan karya yang bermutu, beragam, dan mampu memperluas cara kita melihat manusia serta dunia di sekitar kita,” jelas Pratiwi.
Pengumuman Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa dilakukan secara daring melalui kanal resmi Kusala Sastra Khatulistiwa pada Minggu, 23 Agustus 2026. Sementara itu menurut Direktur Program Kusala Sastra Khatulistiwa Gema Mawardi, pembacaan laporan pertanggungjawaban Dewan Juri dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 akan dilakukan pada gelaran Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2026, Sabtu, 12 September 2026, di Graha Utama, Gedung A Lantai 3 Kemendikdasmen, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
“Ini dibedakan dari pelaksanaan KSK tahun-tahun sebelumnya di mana pengumuman dari Dewan Juri dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa dilaksanakan pada hari yang sama. Tahun ini, Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa dilaksanakan setelah sebelumnya para pemenang diumumkan kepada publik,” papar Gema Mawardi.
Tahun ini, juri dipilih oleh para kurator Kusala Sastra Khatulistiwa yaitu Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria.
“Kami berupaya menjaga kemandirian dan independensi Kusala Sastra Khatulistiwa dengan membangun fondasi dukungan yang semakin luas dan beragam. Pada tahun pertama, dukungan pemerintah menjadi bagian penting dalam mengembalikan KSK ke dalam ekosistem sastra Indonesia. Memasuki tahun kedua, tantangannya adalah memastikan keberlanjutan KSK setelah fase pemulihan tersebut, sekaligus memperkuat kelembagaan dan memperluas jejaring yang menopangnya. Karena itu, kami ingin mendorong keterlibatan yang lebih luas, dengan mempertemukan dukungan pemerintah, sektor swasta, lembaga kebudayaan, penerbit, komunitas sastra, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan sastra Indonesia,” jelas Hasan Aspahani, salah seorang kurator Kusala Sastra Khatulistiwa.
Pelaksanaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan LPDP, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Astra, Falcon Pictures, Balai Sastra HB Jassin, dan Komunitas Utan Kayu.
Selamat kepada para pemenang dan sampai jumpa pada gelaran Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.


