Pada tahun 2001, Richard Oh, sosok yang atribusinya melintasi dunia sastra dan bidang seni lainnya, bersama rekannya, Takeshi Ichiki, mewujudkan sebuah penghargaan yang kelak dikenang menjadi salah satu peristiwa sastra yang paling dinanti: Khatulistiwa Literary Award (KLA). Seiring waktu, perhelatan ini mengalami perubahan di sana-sini, termasuk adanya kategori yang dipertahankan maupun dikembangkan, serta namanya yang berganti menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) pada 2014. Dalam dua dekade penyelenggaraannya, walau terpaksa mesti terhenti pada 2021 karena tak lama berselang, tepatnya pada 7 April 2022, Richard Oh berpulang, penghargaan ini telah memilih berbagai judul buku sastra karangan penulis Indonesia yang terpujikan.
Zaman bertumbuh, kebiasaan literasi berubah, jumlah pembaca maupun pengarang juga terus bertambah. Mewarisi sebuah penghargaan sastra sebagaimana yang kini coba dirawat melalui Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI), lembaga yang didirikan sejak 2024 dengan maksud menjaga visi dan kecintaan Richard Oh terhadap sastra Indonesia, mesti diakui merupakan upaya yang penuh tantangan. Mula-mula pasti dari sisi teknis: bagaimana harus menjaga kebersinambungan. Soalnya, KSK diniatkan sebagai apresiasi dan edukasi, usaha yang tidak menghasilkan keuntungan ekonomi karena sejak awal ia berciri filantropis. Apalagi sejak dihidupkan kembali pada 2025, KSK menyasar peran turut menumbuhkan ekosistem sastra dengan membagi nilai hadiahnya antara penulis dan penerbit, termasuk mengembangkan program lain yang mempertemukan pengarang dengan pembacanya sehingga terjadilah silang wawasan yang saling memperkaya. Dapat dibayangkan betapa gigih usaha yayasan ini dalam mengetuk pintu-pintu para pihak yang peduli pada literasi. Harapan kita hanyalah semoga kian banyak yang tergerak mendukungnya.
Sementara itu, arus informasi maupun bacaan kian membanjir bandang, dan siapa pun pasti punya acuan buku yang paling menggugah. Pertanyaan seberapa perlu kelestarian penghargaan sastra bagi masyarakat yang haus-dahaga itu menjadi penting untuk didiskusikan. Apakah ia hanya sebagai tambahan referensi bacaan dari tahun ke tahun, katakanlah karya yang dianggap baik, sehingga barangkali bisa memperdalam pengalaman serta pengetahuan penikmatnya? Ataukah ia menunjukkan tanda-tanda perkembangan mutu selama puluhan tahun usia kepengarangan di Indonesia, atau sependek umur penghargaan KSK?
Segelintir pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh KSK semata, melainkan berpulang kembali kepada para pembaca, penerbit, pemerhati literasi, dan unsur-unsur lain yang membentuk ekosistem sastra itu sendiri. Tak jarang kita jumpai adanya konsep karya yang menarik, tetapi justru ditolak penerbitnya; atau buku yang menjanjikan, tetapi kesulitan diapresiasi pembacanya; atau penikmat yang mendambakan penyegaran di tengah bacaan yang begitu-begitu saja. Ada persepsi yang mengental dalam benak setiap unsur itu, menciptakan jarak tentang apa yang dianggap bagus. Dalam situasi yang sedikit banyak mencerminkan potret ekosistem literasi kita itu, kiranya peran penghargaan sastra apa pun, selain untuk menghormati kesungguhan upaya dan karya para pengarang, bisa saja sekaligus merangsang atau bahkan mengganggu persepsi yang melekat, mudah-mudahan dengan dasar pertimbangan yang jelas, sehingga satu sama lain bisa saling menelisik pilihan-pilihannya, lantas berdialog tentang seperti apa sastra yang diharapkan semua orang.
Proses Penjurian
Berbeda dengan dua dekade penghargaan semasa Richard Oh, sejak 2025 KSK menetapkan tiga kategori, yaitu buku novel, buku kumpulan cerita pendek, dan buku kumpulan puisi. Tata cara penjaringan buku lewat undangan terbuka juga digencarkan, kendati tiap juri masih dibolehkan mencari tambahan judul yang dirasanya layak diikutsertakan. Keseluruhan proses ini dibantu tim panitia yang secara teliti mencatat, mendistribusikan, serta memantau kerja-kerja penjurian berjalan sesuai lini masanya, hingga dapat dipastikan setiap juri mendapat waktu yang cukup untuk membaca buku-buku tersebut. Adapun jumlah buku yang masuk dan dinyatakan lolos seleksi administrasi tahun ini ialah 225 judul (dari total 240 judul awal), terdiri atas 74 buku novel, 46 buku kumpulan cerita pendek, dan 105 buku kumpulan puisi.
Jadwal diskusi disusun bertahap seiring penentuan setiap fase penjurian, baik untuk nomine daftar panjang, daftar pendek, maupun pemenang utama. Karenanya, sangat wajar jika terjadi pembacaan ulang untuk menyelami buku-buku yang ada. Para juri bisa saja berkali-kali menelisik buku jagoannya. Misalnya, ada yang sejak daftar panjang memberi sinyal kuat pada sebuah buku, ternyata pilihannya justru bergeser pada tahap dialog daftar pendek maupun pemenang utama. Ada kalanya argumen dari setiap juri saling melengkapi, dan tidak jarang terjadi silang pendapat untuk menimbang kembali pandangan-pandangan yang mengemuka. Bagaimanapun, Dewan Juri berharap karya pemenang maupun yang masuk dalam nominasi akan terus dibaca serta dibincangkan karena semuanya memiliki nilai yang berharga untuk sastra Indonesia.
Secara umum, seperti visi yang disampaikan tim Kurator YRKI dan panitia, KSK ingin mencari buku-buku yang menyajikan keluasan cakrawala puitik dan naratif, bertumpu pada kekriyaan bahasa, keutuhan konsep artistik, ketajaman gagasan, serta pengerahan kerja kreatif yang memperluas wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas. Khusus pada penjurian tahun ini, setiap anggota Dewan Juri sepakat bahwa karya-karya yang masuk memiliki capaian artistik dan pengayaan tematik yang sangat memikat. Dengan caranya masing-masing, setiap penulis berusaha mengisi, mengembangkan, serta memberi kemungkinan lain dari karya-karya sastra yang telah ada di Indonesia. Usaha pencarian ini patut untuk dihargai.
Akhir kata, Dewan Juri yang terdiri dari Andina Dwifatma, Arif Bagus Prasetyo, Martin Suryajaya, Ni Made Purnama Sari, dan Saras Dewi mengungkapkan penghargaan kepada para penulis maupun penerbit yang telah mengerahkan kerja-kerja kreatifnya sehingga tahun 2025 terasa semarak dengan hadirnya buku-buku sastra yang bermutu. Begitu pula kepada para pembaca yang masih mencintai sastra serta para pihak yang menaruh perhatian dengan mendukung penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 ini.
Kolase Wajah Manusia dalam Cerpen
Dibandingkan kategori lainnya, jumlah buku kumpulan cerita pendek yang masuk sungguh paling sedikit. Situasi ini bisa memantik pertanyaan, mengapa dalam kebiasaan membaca era kini yang konon serba ringkas akibat percepatan dunia digital, cerpen yang biasanya menyajikan narasi pendek dan pembacaannya dapat diselesaikan sekali duduk ternyata masih terbatas penerbitannya. Namun, jika dilihat dari siapa saja pengarangnya, kategori ini cukup menggembirakan karena muncul nama-nama yang relatif baru dikenal, setidaknya menurut jangkauan beberapa juri, dan menjadikan proses membaca diwarnai rasa keingintahuan sekaligus pengharapan bahwa mereka akan terus mengolah cerpen sebagai cara bertutur yang diminatinya.
Karena kekhasan bentuknya, cerpen selalu membutuhkan kekriyaan tersendiri. Keringkasannya mestilah sarat pertimbangan agar sekaligus dapat memproyeksikan kompleksitas. Mudah dibaca cepat tapi tetap menyisakan resapan lekat, semacam gema yang samar, tetapi senantiasa terdengar. Peristiwa kisahnya kadang serupa isyarat atas kenyataan sebenarnya, membentuk lapis demi lapis penafsiran yang kaya. Kelugasan daya berbahasa berpadu dengan daya saran atas rekaan yang menggoda pembaca memasuki dan menghuni dunianya. Bahkan, sering tidak ada kesempatan untuk berakrobat kata-kata, karena kualitasnya diukur dari kemampuannya menyajikan sesuatu yang bermakna. Betul-betul tantangan yang menggairahkan, sekaligus menggelisahkan, sebab si pengarang mesti mengukur sendiri pada titik mana cerita itu sudah cukup dikatakan tuntas dan bernas.
Corak realis yang mewartakan peristiwa dalam kesaksian personal para tokoh sedikit banyak masih mendapat perhatian juri dan pilihan bercerita ini umumnya muncul dalam beberapa buku yang merespons sejarah atau kejadian aktual lainnya. Walau begitu, tidak sedikit pengarang yang bermain-main dengan sudut pandang dan teknik penceritaan sehingga riwayat dalam kisah, betapapun faktual sumbernya, tidak menjelma serupa laporan jurnalistik, melainkan tetap bekerja dalam wilayah ambigu sebuah prosa. Dan meskipun ada yang melompat lebih jauh dengan membangun dunia yang tampak sepenuhnya fiktif dan liar, tetapi irisannya dengan realitas kita masih tetap terasa. Semua kemungkinan itu, yang menunjukkan kolase pencarian dalam cerita pendek, kurang lebih tampak pada pilihan daftar panjang, dan mengerucut dalam nominasi daftar pendek. Dan beberapa kata di bawah ini adalah ulasan singkat terhadap lima antologi cerpen yang terpilih dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.
Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya dari penerbit baNANA berupaya memusatkan cerita-ceritanya pada pergelutan keseharian perempuan dan kehidupan kelas pekerja di perkotaan. Setiap cerita Hantu Ulang-alik menggambarkan unsur penindasan terhadap tubuh perempuan dan juga tubuh-tubuh pekerja, yang bermuara pada perampasan agensi diri sampai yang tersisa dari kita hanya kelelahan saja. Berlatar belakang masyarakat urban, Hantu Ulang-alik menangkap ragam kehidupan orang-orang kota dengan segala kecemasannya. Namun, bukan berarti semua cerita Hantu Ulang-alik menonjolkan kemalangan dunia saja, tetapi mengantarkan pembaca untuk mendengar bahwa sering kali ada suara yang dipinggirkan karena struktur masyarakat yang ada. Cerita perempuan yang dibebani ekspektasi orang-orang terdekatnya, pelayan restoran merangkap kasir sekaligus penyanyi yang masuk enam hari kerja, ataupun hantu kursi reyot yang bersyukur setidaknya dia tidak lagi bisa menjadi objek laki-laki, menggambarkan wujud nyata dari sistem patriarki-kapitalisme yang mengikat kita semua. Kedua dimensi inilah yang senantiasa hadir di cerita-cerita Hantu Ulang-alik.
Berbeda dengan Cara Kita Menghadapi Kehilangan karya Yetti A.KA, penerbit DIVA Press, yang sesuai dengan namanya menyoroti berbagai cerita kehilangan dari orang-orang. Kumpulan cerita ini tidak membedakan kehilangan dari segi besar atau kecilnya, familiar atau asingnya, dan bahkan saat kehilangan itu masih sulit dinamakan. Baik itu kehilangan hubungan hangat dari ibu-anak saat anak beranjak dewasa, anak kecil yang pandai berpura-pura di ujung akhir pernikahan orang tuanya, atau meratapi calon bayi yang tidak perlu lahir di keluarga yang dingin. Namun, yang selalu menonjol dari setiap karakter Cara Kita Menghadapi Kehilangan adalah luka kehilangan itu tak membuat mereka menarik diri dari kehidupan. Justru itu cara bagi sebagian orang untuk memanggul kekosongannya dan melanjutkan kenestapaan hidup.
Membahas konflik multikulturalisme dan juga sejarah militerisme Indonesia selalu menjadi pembicaraan yang sulit dalam bentuk fiksi. Selengkap apa pun fakta perlu dibicarakan, ia harus tetap terasa dekat dan personal. Permasalahan ini yang ingin dibicarakan melalui cerita fiksi Jose Kecil dalam Dirimu dan Cerita-Cerita Lainnya karya Kaisar Deem, penerbit Bara Books. Bayang-bayang konflik sosial terus-menerus ada dan melatarbelakangi setiap cerita pendek yang ada di buku ini tetapi tetap dikemas secara sederhana. Jose Kecil dalam Dirimu yang dilatari budaya daerah Makassar menjelma sebagai siasat penulis untuk merefleksikan kesengsaraan pribadi maupun perselisihan sosial. Dengan mengangkat pluralisme nilai di masyarakat Indonesia, lantas buku cerpen ini menaruh kembali perbedaan ke atas meja sekaligus mendorong mereka yang membacanya untuk merenungkan kembali makna keragaman.
Ada juga Misi Menggagalkan Doa karya Yoga Palwaguna, penerbit Langgam Pustaka, yang menggambarkan keluguan beserta kenaifan dari pembangkangan anak kecil melawan orang tua. Sudah hakikat dari anak-anak untuk selalu mempertanyakan semua peraturan yang mengekang mereka. Anak tak menganggap logika otoritas, entah sumbernya dari orang tua ataupun agama, menjadi tembok penghalang yang harus diterima begitu saja. Mereka berusaha memutarbalikkan, mencongkel, dan membongkar yang tabu untuk dipertanyakan agar terlihat sebagai suatu cara berpikir yang absurd. Jaring pendisiplinan ini pun luas. Mulai dari doa orang tua yang tak bisa dibantah sampai norma sosial di masyarakat yang menjadi acuan “kenormalan”. Berbagai cerita pendek di Misi Menggagalkan Doa ingin memperlihatkan ke para pembacanya bagaimana anehnya masalah yang diada-adakan oleh manusia sendiri. Selayaknya tingkah anak yang sering kali dicap “nakal”, tetapi sesungguhnya cuma perlu didengarkan dengan lapang dada dan menerimanya tanpa menghakimi kemanusiaannya.
Serangkaian cerpen Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri karya T. Agus Khaidir, cetakan Penerbit Buku Kompas, mengantarkan pembaca ke dalam satu tenunan cerita yang kadang menyambung, kadang juga melompat. Ketersambungan yang biasanya dirajut oleh tema dan di cerita lain oleh nama. Maka tak heran apabila pada kata pengantar T. Agus Khaidir menggunakan yang disebut “karnaval nama-nama”. Dari berbagai buku cerpen yang masuk, Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri yang kentara jelas pengaruh kemelayuan dalam penulisan. Kekhasan ini menjadi angin segar yang mendistingsikan dengan buku cerpen lainnya. Ada juga realitas keseharian yang jadi tema penyambung di antara cerita-cerita yang ada, tetapi diakhiri dengan misteri ataupun absurdisme, yang membuat pembaca larut dalam pertanyaan. Dari sudut pandang inilah cerpen ini akan membicarakan berbagai konflik sosial yang ada di masyarakat, mulai dari hubungan keluarga sampai dengan pembunuhan maupun kematian yang menimbulkan tanda tanya. Semua kejadian ini dilatari dengan nuansa religi dari budaya Melayu. Alhasil, Waktu itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri akan lebih mudah menyasar kesadaran kolektif sembari mengutak-atik cara pandang kultural dalam membaca ragam spektrum pengalaman manusia.
Setelah beberapa kali sesi diskusi dan pembacaan mendalam terhadap lima antologi cerpen daftar pendek tersebut, Dewan Juri memutuskan Hantu Ulang-alik sebagai pemenang pada kategori cerpen. Keunggulan dari karya ini untuk mengeksplorasi berbagai cerita dengan mendekatkannya pada realitas sehari-hari perempuan pekerja urban, menyuarakan secara utuh kelelahan yang dialami kehidupan hari-hari ini. Setiap tokohnya diambil dari sudut pandang perempuan dan perspektif kelas pekerja yang terus diperas serta ditindas oleh sistem yang mengakar, yang tak pernah puas melahap semua. Karya ini juga mampu mengemas isu-isu partikular agar mampu dimaknai secara luas dengan menunjukkan kesamaan kecemasan yang sangat manusiawi.
Napas Panjang Novel Indonesia
Dokumentasi perjalanan kepengarangan novel Indonesia boleh dikatakan relatif lengkap karena inisiatif berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadapnya. Selain penerbitannya yang terus bergairah dari tahun ke tahun, tercatat aneka perhelatan yang memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi karya novel terbaik. Semuanya itu, terlepas soal masalah-masalah teknis untuk menjadikan ajangnya tetap berkala dan lestari, menunjukkan novel sebagai genre dengan kreativitas yang diminati, terus bertumbuh, dan senantiasa menantang dijelajahi. Terpilihnya judul-judul novel dalam kurasi penerbitan maupun kompetisi itu kiranya dapat menjadi salah satu cerminan karya yang dianggap baik, di mana pengarang selanjutnya boleh memetik peluang pengayaan penciptaan di masa-masa selanjutnya, yang dengan antusias dilakukan sampai hari ini.
Gairah eksplorasi kepengarangan tentu masih terasa dalam kurasi Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2026 ini. Karena kualitasnya yang hampir sepadan, boleh dibilang sungguh tidak mudah bahkan untuk memilih sepuluh judul kategori daftar panjang, dan jauh lebih sulit lagi ketika memasuki penentuan daftar pendek. Hal-hal yang mengemuka dalam diskusi juri di antaranya pendalaman aspek tematik, misalnya sejauh mana karya tersebut menjadi khas di tengah kecenderungan topik serupa yang pernah ada, atau bagaimana penulisnya menemukan sudut pandang penceritaan lain yang menguatkan tema pilihannya. Usaha menemukan kesegaran perspektif memang selalu menantang: di bagian manakah kita bisa menorehkan tambahan sapuan warna pada pusparagam tema yang telah lebih dulu diciptakan itu? Tahun ini, ada beberapa karya yang berani mengambil jalan yang mungkin tampak sepele, yang sekilas jauh dari pewacanaan intelektual dan perpanjangan pesan, serta kembali pada kehadiran novel sebagai “cerita”. Ada yang mengetengahkan potongan kisah hidup yang mengingatkan kita akan makna mendasar suatu budaya. Atau karya yang menuliskan ulang sejarah dengan pendekatan yang membumi dan berempati pada pengalaman orang-orang di dalamnya. Dewan Juri sangat menghargai semua usaha semacam ini, yang melihat novel sebagai bagian dari pernyataan antarmanusia.
Dalam beberapa diskusi, para juri berusaha melihat secara dekat, menelisik sampai ke kalimat-kalimat dialog maupun deskripsi yang spesifik guna merunut kepaduan bercerita si pengarang. Kita tahu novel merupakan prosa yang membutuhkan napas penciptaan panjang. Selain aspek-aspek teknis dalam menyusun babakan cerita, dilihat pula sejauh mana konsistensi pengisahan, kekuatan watak tokoh yang menentukan alur logika dan dramatika, hingga ungkapan-ungkapan penuh daya saran atas pengalaman berbahasa kita. Tidak semua pengarang memiliki stamina untuk menggali serta menyajikan seluruh hal tersebut, yang ini hanya bisa dicapai dengan pengayaan dan penghayatan sepenuh hati atas seluk-beluk masalah manusia. Walau demikian, bukan berarti karya terpujikan yang memenuhi semua aspek tadi tidak ditemukan dalam kurasi tahun ini.
Berikut ini merupakan ulasan untuk lima buku yang terpilih dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 berdasarkan judul yang disusun alfabetis.
Novel Alok karya Arie Saptaji, penerbit Post Press, membangkitkan kembali daya angan tentang mistisisme Jawa yang menghubungkan dunia lahiriah dan alam ruh, bukan sebagai bentangan nilai yang saling bermusuhan, melainkan beriringan dalam keharmonian yang dicita-citakan masyarakat Timur. Peristiwa kematian, arwah gentayangan, dan perjalanan menguak tabir misteri diuntai bersama filosofi hidup yang mentradisi serta narasi hangat sebuah keluarga, mengingatkan bahwa persaudaraan bukan hanya terjalin di muka bumi, tetapi bertaut pula sampai ke dunia yang tak kasatmata. Kekhasan itu menjadikan Alok mengisi ruang-ruang pemaknaan seputar alam gaib yang selama ini dipenuhi horor, kengerian, dan ketakutan, baik dalam budaya populer maupun kesusastraan kita. Adapun aspek-aspek lain yang barangkali dapat menjadi saran bagi penulis ialah pertimbangan pilihan dialog yang sewajarnya, penataan penceritaan yang lebih menggugah, mengikuti alur kegelisahan batin para tokohnya.
Sementara itu, premis novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal, penerbit Kepustakaan Populer Gramedia sepintas sederhana, tentang seorang pengarang yang terus-menerus menunda menyelesaikan masterpiece novelnya. Namun, perlahan-lahan, pembaca diajak untuk melihat bahwa si tokoh rupanya tidak hanya menunda menulis, tetapi juga hampir seluruh hal dalam hidupnya. Dari situlah kemudian novel ini bisa berbicara banyak hal: tentang keluarga, kehidupan kelas menengah kota, hingga zaman keberlimpahan informasi yang membuat manusia justru lupa cara memberi makna. Keunggulan novel ini jelas pada kematangan berbahasa dan kelincahan penulis dalam mengolah kata. Ia bermain-main dengan panjang-pendek kalimat, kosakata bahasa daerah, dan berbagai istilah yang tajam dan cerdas. Dan, yang paling sulit ditandingi oleh karya lain pada tahun ini adalah kemampuan pengarangnya untuk benar-benar memberi nada suara yang berbeda bagi setiap tokoh. Sudut pandang “aku” yang digunakan setiap berganti tokoh tidak membuat pembaca sulit menebak-nebak siapa yang sedang berbicara, karena setiap karakter memiliki kekhasan nada tersendiri, seperti alat musik yang berbeda-beda. Bersama-sama, nada-nada dari instrumen yang berbeda itu dijahit oleh pengarang menjadi sebuah simponi yang rapi.
Peristiwa pembantaian 1965-1966 akan selalu menjadi sejarah kelam bangsa Indonesia dan kita perlu lebih banyak karya fiksi mengenainya. Untuk itu, Katri karya Adeste Adipriyanti, penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, layak masuk ke dalam daftar pendek KSK tahun ini. Ditulis dengan detail yang mengagumkan, novel ini mengambil sudut pandang korban perempuan yang pada akhirnya mampu bangkit dan menata ulang kehidupannya. Novel ini amat jelas terbaca sebagai hasil riset yang panjang dan rinci, tetapi barangkali justru di situ letak celahnya: ia kemudian terbaca mirip sebuah laporan feature jurnalistik yang panjang dan “sastrawi”. Meski demikian, novel ini tetap mampu menunjukkan bahwa peristiwa 1965-1966 yang konon menargetkan anggota dan simpatisan partai komunis, nyatanya sangat banyak memakan korban yang bukan keduanya. Mereka yang tidak terlibat aktivitas kepartaian menanggung beban di luar batas kemanusiaan. Dan barangkali itulah yang terus-menerus perlu digaungkan kepada publik luas, agar segala stigma perlahan-lahan dapat terkikis hingga habis.
Adapun novel Seakan Bisa Dipisahkan karya Ruhaeni Intan, penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, mengungkap tema hubungan antara ibu dan anak perempuan belum banyak dieksplorasi dalam khazanah sastra Indonesia. Mungkin saja karena bahasan tentang “keluarga” masih dipandang terlalu keseharian dan remeh. Namun, novel ini berhasil membuktikan bahwa tema domestik dapat diolah dan disajikan menjadi kisah yang lembut tanpa kehilangan daya gedor. Novel ini dapat dibaca sebagai kisah perjalanan menuju kedewasaan (coming of age) dengan premis yang agak berbeda dari novel sejenis. Bila umumnya novel-novel serupa cenderung menekankan pada kebebasan individu untuk melepaskan diri dari berbagai ikatan sosial yang membelenggu, novel ini justru memberi pesan sebaliknya: ikatan tersebut tidak dapat, dan memang tidak perlu, mudah dipisahkan. Justru dengan belajar memaknai dan melampaui segala yang menyedihkan dan membahagiakan dari ikatan-ikatan tersebut, seseorang dapat memulai babak kehidupannya sebagai manusia dewasa. Penggunaan simbol sederhana seperti jajanan pastel sebagai penanda konflik dan resolusinya, menunjukkan kelihaian pengarang dalam membangun struktur cerita yang kokoh dan padu.
Novel Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen, penerbit Marjin Kiri, ditulis dengan kemampuan berbahasa yang terpujikan, mengajak pembaca larut mengikuti kisahan dalam setiap halamannya. Tafsir misteri tentang pikiran dan laku manusia terangkai secara apik melalui penuturan sepihak si tokoh utama, seorang menantu pria dalam keluarga Minang yang harus beradaptasi dengan lingkungan serba-asing, dan keasingannya itu justru menjerumuskannya pada pilihan-pilihan sikap yang mengejutkan. Latar budaya serta sejarah di Sumatra Barat, tema yang cukup sering muncul dalam kepengarangan di Indonesia, ditulis begitu mengalir dan penulisnya mampu menyiratkan refleksi tentang makna maskulinitas dalam kultur matrilineal, sesuatu yang betapapun rapuh, tetapi berusaha terus direngkuh tokoh-tokohnya. Akibatnya, kisah pun diwarnai kelokan peristiwa yang kontradiktif, ironi, hingga bernuansa kekerasan. Dengan keunikan sudut pandang serta keberaniannya menukik pada masalah-masalah yang khas tersebut, novel ini sanggup mengungkap konsekuensi pelestarian nilai kultural, semacam kesadaran kolektif yang mentradisi, yang memengaruhi kebebasan sikap orang per orang.
Setelah membaca secara lebih mendalam serta mendiskusikan capaian kreatif atas kelima novel pada daftar pendek tersebut, Dewan Juri sepakat untuk memilih Ikhtiar yang Tak Benar-Benar sebagai pemenang kategori novel. Selain memberikan pengalaman membaca yang mengalir sekaligus cerdas menyikapi elemen bahasa yang menguatkan inti cerita, karya ini juga mengetengahkan daya gugah atas refleksi hidup tanpa sekalipun terasa menggurui. Setiap tokohnya bersuara dengan kepribadian khas yang sulit ditemui pada novel-novel lain, suatu keragaman polifonik yang unggul dan seluruhnya diramu sebagai orkestrasi penuh harmoni. Novel ini mengembalikan penghayatan kita pada persoalan-persoalan yang dekat, perihal relasi remeh dalam keluarga yang luput dilihat, tentang waktu, budaya, dan maupun sikap-sikap personal lainnya–sebuah ikhtiar untuk mengisi lapis pemaknaan lain atas hubungan antarmanusia yang kian terkikis akibat gempuran perubahan zaman.
Puisi dan Jalan Lain Tradisi Lirik
Puisi masih mendominasi panorama sastra Indonesia tahun 2025. Setidaknya, demikianlah yang tampak dari buku-buku sastra yang terjaring dalam penjurian Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Dari dua ratusan buku sastra yang masuk, sebanyak 105 di antaranya merupakan buku puisi – jumlah yang jauh melampaui novel maupun kumpulan cerita pendek. Sekian banyak buku puisi tersebut menempati spektrum puitik yang sangat luas, memperlihatkan bagaimana bahasa ditarik ke berbagai arah secara ekstrem: mulai dari kelirisan sunyi, permainan satire urban, penggalian pengalaman banal keseharian, problematisasi filsafat, penebalan warna lokal, pembocoran arsip sejarah, hingga eksperimentasi konseptual yang menguji batas bahasa maupun menggaris ulang kemungkinan puisi itu sendiri.
Dalam melakukan penilaian, Dewan Juri terutama bertumpu pada pengetahuan sastra dan pengalaman panjang membaca puisi, sekaligus mempertimbangkan sejumlah aspek yang secara umum biasa digunakan untuk menilai mutu buku puisi. Landasan penilaian meliputi kekuatan bahasa dan diksi, orisinalitas metafora dan citraan, kesegaran tema dan penggarapannya, kedalaman gagasan atau kompleksitas emosional, eksplorasi bentuk dan teknik, konsistensi estetik dalam keseluruhan buku, serta kontribusi terhadap perkembangan puisi Indonesia kontemporer.
Secara khusus, Dewan Juri terutama mencari buku puisi yang menunjukkan keberanian estetik dalam mengeksplorasi bentuk-bentuk pengungkapan baru. Kami memberi perhatian lebih pada karya yang berusaha keluar dari tradisi perpuisian Indonesia yang selama ini terlalu dikuasai oleh lirisisme, baik liris sunyi maupun liris oratoris. Kami mencari puisi yang memperlakukan bahasa sebagai laboratorium, bukan sekadar medium penyampai amanat atau pelampiasan emosi; karya yang berupaya melakukan terobosan konseptual dengan menantang atau menggeser batasan konvensional puisi. Kami mengapresiasi karya yang bersedia mengambil risiko estetik dengan meninggalkan instrumen puitik yang mapan demi menemukan suara baru.
Pada saat yang bersamaan, Dewan Juri juga menghargai puisi yang memiliki kepekaan emosional dan daya gugah tinggi, termasuk secara politis dalam arti luas. Kami mencari puisi yang dengan intens membangun ungkapan yang bertenaga, memilih bentuk yang tepat untuk pesan yang hendak diguratkan, serta menggerakkan empati atas kondisi manusia. Itulah puisi dengan daya magis bahasa yang menyentuh perasaan, menggetarkan tubuh, dan menggugah kesadaran. Meskipun demikian, puisi tetap harus mampu menjaga jarak estetik sehingga pembaca tidak hanya diajak merasakan, tetapi juga merenungkan kembali cara kita memandang realitas serta mengonstruksi makna.
Lima buku puisi yang masuk Daftar Pendek KSK tahun ini menunjukkan usaha untuk menolak tradisi lapuk lirisisme Indonesia. Meskipun masing-masing menempuh jalan yang berbeda, kesemuanya berikhtiar menemukan suara puitik yang lain.
Ke Arah Museum Revolusi karya Nirwan Dewanto memperlihatkan pencapaian formal yang sangat kokoh. Setiap unsur puisi di buku ini disusun dengan ketelitian seorang perajin bahasa yang memahami secara mendalam arsitektur puisi. Setiap ungkapan dalam puisinya seakan saling mengunci secara presisi. Sebagaimana di buku-buku puisinya yang terdahulu, Nirwan memperluas kemungkinan bentuk puisi-prosa melalui metafora yang padat dan jaringan intertekstualitas yang kaya. Yang berbeda dalam buku ini ialah munculnya unsur biografis sang penyair – sesuatu yang cukup mengejutkan karena Nirwan dikenal sebagai penyair yang berpandangan bahwa puisi merupakan “pelarian dari kepribadian”. Meskipun demikian, secara keseluruhan, obsesi estetiknya tetap konsisten dengan karya-karya terdahulu yang menolak tunduk pada pengaruh lirisisme yang sangat kuat dalam puisi Indonesia. Buku ini memperpanjang perlawanannya terhadap tradisi lirik lewat bentuk puisi yang berciri diskursif secara mencolok. Khususnya, ia terus menjadikan puisi sebagai ruang untuk memikirkan hakikat puisi itu sendiri, menghadirkan metapuisi, sekaligus secara paradoksal menyuarakan “pesan” bahwa puisi tidak dapat direduksi menjadi sekadar penyampai pesan.
Kutu-Kutu Joni karya Julia Gerhani Arungan menyegarkan lirisisme dengan menghadirkan dunia keseharian yang jarang memperoleh perhatian dalam puisi Indonesia. Tema-tema yang tampak remeh, kadang lucu, kadang absurd, diolah menjadi pengalaman puitik melalui bahasa yang lugas, komunikatif, dan memiliki keterbacaan tinggi. Namun, kelugasan itu tidak membuat puisinya dangkal. Di balik kesederhanaan pengucapan, ada kecermatan dalam memilih kata dan membangun suasana. Julia berhasil mengolah kesahajaan menjadi suara yang khas. Nuansa humor dalam puisinya hadir sebagai efek alami: sejumlah puisinya terasa lucu tanpa berusaha melucu. Julia berhasil mengkurasi unsur kelisanan sehari-hari ke dalam bingkai tematik hubungan guru dan murid yang unik, tampil segar tanpa beban harus bergaya puitis. Dengan teknik penyusunan kata yang cerdik, tetapi tetap wajar, pembaca tidak merasa disiasati dengan menu tema keseharian yang dimasak secara piawai.
Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat memberikan pemaknaan baru pada tradisi puisi lirik Indonesia yang berbasis nyanyi sunyi. Jika kesunyian dalam arus utama lirisisme Indonesia berhulu pada keterasingan individu di ranah spasial/sosial, buku puisi ini menjangkarkan kesunyian pada keterasingan kolektif temporal. Bertolak dari rentang sejarah Nusantara sejak abad ke-7 hingga akhir abad ke-20, Ari menghadirkan sejarah bangsa sebagai keping-keping ingatan yang berserakan. Tindakan mengingat sejarah menjadi absurd, berujung pada labirin peristiwa dan citraan yang hampir-hampir tidak menyodorkan pemahaman. Itulah amnesia dalam bentuk keterasingan sebuah bangsa dari sejarahnya sendiri. Sejarah yang banyak diangkat Ari adalah riwayat tentang kehilangan traumatis, cerminan dari amnesia sejarah yang membuat bangsa kehilangan identitasnya. Ari membangun puisi yang mengubah sejarah menjadi pengalaman emosional dan refleksi atas identitas bangsa. Suara kritis puisinya terdengar nyaring di lanskap Indonesia mutakhir, ketika otoritas politik sering memproduksi amnesia kolektif melalui pembungkaman sejarah, manipulasi kurikulum, penghilangan narasi korban, dan sebagainya. Buku ini menyingkapkan bahwa amnesia sejarah bukan sekadar absennya ingatan kolektif, melainkan puncak labirin keterasingan sebuah bangsa. Memadukan bahasa yang sederhana dengan lapisan makna yang kompleks, kritik terhadap sejarah dan kekuasaan dihadirkan bukan sebagai slogan politik yang monodimensional, melainkan sebagai pengalaman puitik yang prismatik.
Pagar Rumahku Berubah Warna karya Ama Gaspar membuktikan bahwa pembaruan puisi tidak selalu harus ditempuh dengan meninggalkan lirisisme, tetapi dapat diselenggarakan dengan cemerlang melalui revitalisasi tradisi lirik itu sendiri. Bertumpu pada bahasa sehari-hari yang bersih, jernih, dan mengalir, Ama mengolah pengalaman domestik yang tampak sederhana menjadi pengalaman puitik yang dalam, kompleks, dan kaya makna. Benda rumah tangga, ruang domestik, memori, dan hubungan interpersonal yang intim diolah menjadi simbol-simbol emosional yang berbicara tentang kehilangan, tetapi juga menyiratkan harapan dan penyembuhan. Kesedihan tidak dipamerkan, hanya diterima perlahan tanpa nada pasrah atau putus asa. Kehilangan tidak muncul sebagai ratapan atau amarah, hanya sebagai getar-getar kecil bergema yang menjalar dari pengucapan lembut. Perubahan-perubahan banal dalam kehidupan sehari-hari pun terjelma menjadi alegori yang hidup dan menyentuh. Diksi yang hemat bersahaja memungkinkan emosi bekerja secara halus untuk menghasilkan puisi-puisi yang memberi bobot lain pada keharuan, tanpa terjebak dalam melankoli dan sentimentalitas. Buku puisi ini berbicara lirih, tetapi kata-katanya bergaung nyaring.
Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra menunjukkan pencarian bentuk pengucapan di luar tradisi lirik dengan bergerak ke wilayah filsafat. Puisi-puisi dalam buku ini seperti ungkapan filosofis yang mengajak berpikir dan menjanjikan pemahaman. Namun, janji pemahaman itu tidak pernah ditepati. Seolah usaha berpikir itu akhirnya sia-sia belaka karena kepastian makna tetap tak bisa dipegang, pemahaman selalu tak dapat diraih. Puisi menjadi ruang untuk memperlihatkan keterbatasan bahasa dalam mengungkapkan makna dan memahami dunia, sekaligus ketidakterbatasan bahasa untuk memberikan makna pada dunia. Melalui puisi yang seperti menyimpan teka-teki, Heru menyindir mereka yang merasa telah memiliki pengetahuan mapan, seraya menunjukkan bahwa setiap usaha memahami sesuatu selalu berhadapan dengan ambiguitas. Menariknya, eksplorasi filosofis itu tetap berpijak pada kesadaran kuat terhadap sejarah puisi Indonesia. Jejak pencapaian para penyair modern pendahulu, tradisi sastra sufi, permainan bunyi, rima, hingga pantun hadir sebagai gema yang diolah kembali menjadi bentuk baru dalam puisi. Heru memperlihatkan kemampuan menggabungkan pemikiran yang kompleks dengan ekonomi kata yang ketat, menghasilkan puisi-puisi yang ringkas tetapi meninggalkan gema panjang. Dalam puisi-puisi Heru yang paling memikat, percik pemikiran filosofis muncul membayang, tetapi kemudian dibuyarkan oleh citraan sekilas, kelebat sesuatu yang kecil, tetapi bekasnya tergurat kuat.
Memilih yang terbaik di antara keragaman suara puitik yang mewarnai Daftar Pendek KSK ini memang tidak mudah. Lebih-lebih karena setiap buku puisi tersebut memiliki kekuatan yang sukar sekali dibuat sebanding satu sama lain, hampir sama susahnya seperti memilih yang terbaik di antara warna merah, hijau, dan biru. Jika keragaman suara itu, berikut ukuran estetika masing-masing, hendak diperbandingkan satu sama lain, maka dapat dikatakan bahwa kita berhadapan dengan sebuah spektrum yang terbentang di antara abstraksi murni dan konkretisasi sepenuhnya, yakni antara puisi yang bercorak diskursif-serebral pada ujung ekstrem yang satu dan puisi yang bercorak afektif-sensoris pada ujung ekstrem yang lain. Dalam spektrum itu, kita dapat mengurutkan mulai dari karya Nirwan Dewanto, Heru Joni Putra, Ari Pahala Hutabarat, Ama Gaspar, hingga akhirnya Julia Gerhani Arungan. Namun, pada akhirnya, puisi yang berhasil adalah puisi yang mampu berbicara pada kedua register itu secara bersamaan, yakni puisi yang mampu mendobrak kebekuan pikiran sembari menggetarkan afek-afek pembaca, puisi yang diskursif tanpa kehilangan ikatannya pada semesta afek dan puisi yang afektif tanpa harus mengosongkan diri dari segala diskursus.
Atas dasar itulah, kami memilih sebagai pemenang KSK kategori puisi tahun ini Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat. Buku puisi ini mampu mempertemukan banyak hal sekaligus: mulai dari sejarah dalam skalanya yang paling kolosal hingga pengalaman personal yang paling privat, mulai dari bentuk sajak naratif dengan kalimat bulat sempurna hingga bentuk fragmentatif yang bekerja dengan lompatan, elipsis, dan non sequitur, selamanya berayun dalam tegangan antara motif ingatan dan pelupaan, dan berhasil menata komposisi dari semua unsur itu ke dalam sebuah buku puisi yang koheren dari segi bentuk maupun tematika. Sang penyair juga berhasil mengoplos keragaman pengaruh dari sejarah (sastra) dunia ke dalam sejarah (sastra) Indonesia sehingga potret Indonesia yang tampil di sini betul-betul mencerminkan keserentakan dari semua sejarah, rakitan dari beragam-ragam pecahan kepribadian. Membaca buku ini adalah seperti membaca sebuah puisi epik yang panjang alih-alih sekadar kumpulan puisi yang kebetulan dijadikan satu buku. Keutuhan yang disangga oleh keragaman unsur itulah, selain variasi bentuk yang terkandung di dalamnya, yang pada akhirnya menuntun kami selaku Dewan Juri untuk memilih Nusantara, Amnesia sebagai yang terbaik di antara lima karya yang baik dalam perhelatan KSK tahun ini.
Buku pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026:
- Kategori Kumpulan Cerita Pendek diraih oleh Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya.
- Kategori Novel diraih oleh Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal.
- Kategori Kumpulan Puisi diraih oleh Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat.
Selamat kepada para pemenang.
Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2026
Ketua:
Ni Made Purnama Sari
Anggota:
Andina Dwifatma
Arif Bagus Prasetyo
Martin Suryajaya
Saras Dewi





