Sasti Gotama: Dari Tukang Suntik jadi Tukang Tulis
Cerita dari Kusala Kampus
Month: Agustus 2025

Sasti Gotama berpendidikan kemudian berprofesi sebagai dokter. Ia pernah menulis skripsi tentang teknik menyuntik agar tidak sakit. Ironisnya, pasien-pasien di puskesmas memprotesnya dengan menyatakan suntikan yang tidak nyeri dianggap tidak manjur. Selain itu, dia juga punya kisah unik digotong oleh pasien ke UGD, karena pingsan saat memeriksa asam urat dari pasien tersebut.
Pada 2018–2019, rasa nyeri yang menetap membuatnya banyak tergeletak. Di tempat tidur itu, seorang teman sejawat mengirimkan sebuah cerpen pendek, sekitar lima ratus kata. Itulah yang membuatnya, untuk pertama kalinya, bertanya kepada dirinya sendiri, “Kamu tidak bisa menulis seperti ini?”
Dari perjumpaan awal dengan cerpen, lahirlah flash fiction karya pertamanya yang kacau, penuh kesalahan tata bahasa, yang diunggahnya di Facebook. Saat itu, dia menulis bukan untuk menjadi sastrawan, melainkan menjadikannya katarsis, mengalihkan nyeri yang diderita, dan melepaskan beban di benak.
Karena itulah, Dalam pembuka Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, dia menulis bahwa hidup hanyalah upaya untuk mempersedikit kesakitan. Kalimat itu bukan slogan. Itu adalah catatan dari tubuh yang pernah terlalu lama berbaring.
Sasti baru mulai menulis pada tahun 2019. Setiap bulan, dia mengirimkan dua atau lebih cerpen ke media. Yang ditolak, ia unggah di media sosial. Dari sana, kritik pun datang dengan keras: norak, monoton, metafora yang dipaksakan. Ada yang menggunakan kata-kata yang “mencabik-cabik”.
Dia sempat mutung. Sempat ingin berhenti. Namun kritik itu dijadikannya pijakan. “Yang ingin saya kalahkan adalah diri saya sendiri,” ujarnya. Dia terus belajar, bereksperimen dengan bentuk, struktur, diksi. Dia mengikuti kelas menulis. Hingga pada 2020, cerpennya tembus di Kompas.
Dari kumpulan cerpen yang sebelumnya ditolak, lahir Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam—buku yang masuk daftar pendek Tempo dan menjadi juara Sayembara Rasa 2023. Lalu novel Korpus Uterus, yang ditulis dalam dua bulan karena tantangan teman dan sayembara DKJ. Dan akhirnya Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, yang meraih tiga besar Buku Sastra Pilihan Tempo 2024 sebelum menjadi juara Kusala.
Dalam kumpulan cerpen itu, Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, Sasti menyoroti orang-orang yang terpinggirkan, terutama perempuan. Domestikasi digambarkan sebagai harimau yang dipaksa menjadi kucing. Konflik di Maluku Utara tidak dibaca semata sebagai benturan agama, melainkan perebutan tanah. Ada tokoh yang lahir dari epitaf di makam kolonial, ada yang membawa gangguan kepribadian: OCD, NPD, neurosis. Dia memasukkan teori Freud tentang mekanisme pertahanan ego. “Masa kuliah adalah masa riset,” katanya.
Inspirasi datang dari mana saja: pasien, esai Linda Kristanti, film Fight Club, bahkan tulisan di batu nisan. dIa punya “bank premis” yaitu sebuah ruang di mana setiap ide, sekecil apa pun, disimpan. Bahkan yang muncul saat jongkok di toilet.
Di tengah pandemi, dia dihadapkan pada pilihan untuk terus sebagai ASN atau melepaskannya. Ia memilih untuk resign. “Saya sempat limbung, merasa tidak ada,” akunya. Tapi sastra menyelamatkannya. “Dengan sastra, saya merasa ada. Saya mengada.”
Sejak itu ia mengeluarkan tujuh buku dan tujuh terjemahan, menjadi editor, kurator, pengajar. Ia lebih sibuk, tetapi lebih bahagia. “Dulu saya bilang saya tersesat. Sekarang saya bilang saya menemukan jalan yang benar.” Sasti meminjam istilah Simone de Beauvoir: sastra memungkinkannya melampaui diri sendiri. “Bila dulu menulis adalah katarsis untuk melewati nyeri demi nyeri, sekarang dengan sastra saya bisa mengada. Dan saya berharap, dengan Kusala ini, saya akan lebih-lebih lagi melampaui diri saya yang saat ini.”

Esha Tegar Putra: Puisi Tidak Bisa Dilepaskan dari Hidup
Cerita dari Kusala Kampus
Month: Agustus 2025

Pada malam pengumuman Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, Esha Tegar Putra berada di rumah orang tuanya di Padang. Dia sengaja menyerahkan handphonenya. “Kalau handphone saya berdering sekitar pukul 00.00 atau 00.30, berarti saya menang,” katanya. Banyak bunyi WhatsApp yang datang. Begitulah cara dia mengetahui bahwa Hantu Padang dinobatkan sebagai pemenang kategori kumpulan puisi.
Dia memohon maaf karena tidak hadir di malam itu. Bukan hanya karena tugas, melainkan juga karena perasaan yang “sangat tidak enak”. Sejak tahun 2000-an dia sudah mengenal perjalanan Kusala, pernah beberapa kali bukunya masuk penilaian, dan malam itu dia memilih menyerahkan hasilnya kepada siapa saja yang menang. “Saya tidak akan kecewa,” ujarnya.
Agustus 2025 menandai dua puluh tahun proses kepenulisannya. Semuanya berawal dari satu malam di Fakultas Sastra Universitas Andalas pada 2005: Malam Tadarus Puisi, tradisi menyambut mahasiswa baru. Puisi dibacakan, diteaterkan, didendangkan dari setelah Isya hingga subuh. Satu puisi seniornya, Agus Hermawan, yang berjudul Narasi di 3 Hari, memikatnya hingga sekarang. Puisi tentang wajah Melayu yang tiris, perdamaian yang mungkin hanya ada di ujung jari, dan kota suci yang menyimpan ratapan. “Puisi inilah yang memantik saya untuk pertama kali menulis puisi,” kenangnya.
Sepulang dari acara itu, dia naik ke atap kampus bersama teman-teman, memandang lampu kota Padang dan laut yang masih terlihat jelas. Pagi harinya, dia meminjam komputer teman sekamar dan menulis puisi pertamanya.
Sebelum itu, sastra hampir tidak pernah hadir dalam hidupnya. Dia tumbuh di perkampungan pinggiran Danau Singkarak, anak seorang guru kesenian SMP yang suaranya indah dan gemar menyanyikan lagu-lagu Minangkabau. Halaman rumahnya sering penuh orang yang berlatih menari, menyanyi, dan sandiwara. Kesenian sudah dekat sejak kecil, tetapi sastra tidak. Di SMA, majalah Horison hanya dibaca untuk menggunting sketsa-sketsanya yang bagus.
Selesai SMA tahun 2003, yang ada di kepalanya hanyalah merantau. Seperti banyak teman sebaya di kampungnya, rantau berarti membawa sesuatu pulang—mobil, atau setidaknya sumbangan besar ke masjid. Dia pergi ke Bandung, bekerja di Depot Jamu yang sebenarnya 80 persen menjual alkohol untuk ojek pangkalan. Lalu pindah ke warung nasi di Limbangan Garut sebagai tukang cuci piring dan pengangkut air. Pernah berdagang plastik di Pasar Minggu, menjadi tukang jualan kain di pasar grosir Cipulir dan Tanah Abang, bahkan tukang cabut benang di konveksi Warung Kunci. Semua dijalani dengan kegagalan. “Saya sadar ternyata saya tidak punya bakat untuk dagang,” katanya.
Setelah gagal total, dia memilih pola rantau yang lain: merantau lewat sastra. Dia masuk Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas bukan karena cinta sastra, melainkan karena passing grade-nya paling rendah. Dia ingin kuliah di universitas negeri yang murah. Dua tahun jeda setelah SMA membuatnya merasa tertinggal. Teman-teman sudah bisa menulis cerpen, sementara dia tidak bisa menulis apa-apa. Dia mengejar ketertinggalan itu dengan membaca dan menulis tanpa henti. Tulisan di koran daerah memberinya honor Rp25.000 atau Rp50.000—uang yang berarti pada masa itu—serta kemudahan meminjam buku dari senior dan traktiran dari dosen.
Puncaknya datang tahun 2007, ketika puisinya dimuat di Tempo dan Kompas. Belum pernah ada senior sepuluh tahun di atasnya yang tembus di kedua media itu, kecuali Agus Hermawan, penulis puisi yang memantiknya dua tahun sebelumnya. “Enak juga diapresiasi,” kenangnya. Sejak itu dia semakin rajin mengirim karya dan mulai diundang ke berbagai festival.
Padang menjadi kota kelahiran kedua. Di sanalah cara pikir dan landskap puisinya dibangun. Dia merawat kenangan kecil: jalan di belakang terminal yang kini menjadi plaza, tempat adiknya pernah meraung meminta robot remote control; hotel tempat dia sesekali menginap bersama orang tua; bus yang mangkal di Tarandam. Dia menyisir kembali karya-karya sastra tentang Padang, mendengarkan lagu-lagu Minang, dan mencari jejak sastrawan seperti Idrus yang dimakamkan di kota itu namun kuburannya tak ditemukan. “Padang bagi saya adalah puisi itu sendiri,” ujarnya.
Lalu datang perantauan ulang-alik antara Padang dan Jakarta–Depok. Tubuh di satu kota, pikiran terbelah di dua kota. Peristiwa ini menjadi inti Hantu Padang. Dia menulis tema-tema kecil: anak yang sakit sementara dia tidak di sampingnya, debu yang turun dari plafon kamar kos, suara kipas angin, paku di belakang pintu, jaket kumal tukang ojek, suara kuali yang dipukul spatula. Dia memadukan penglihatan Jakarta dengan rasa bahasa yang dibawa dari Padang. “Saya tidak punya hasrat untuk berpretensi menulis tema-tema besar. Hanya tema-tema tentang saya,” katanya. Dia menerima jika orang menyebut puisinya sebagai biografi pribadi.
Empat kali bukunya masuk penilaian Kusala. Dalam Lipatan Kain daftar pendek 2015, Sarinah daftar panjang 2016, Setelah Gelanggang daftar pendek 2020, dan akhirnya Hantu Padang yang memenangkan. Penghargaan itu bukan tujuan, tetapi membuatnya cukup kuat dan mengantarkan hal-hal baik. Dia menganggapnya sebagai sesuatu yang mesti dijaga.
Di akhir, dia berterima kasih kepada Allah atas liku-liku hidup yang dijadikan puisi, kepada orang tua dan keluarga, kepada kota kelahiran, kota kelahiran kedua, dan kota persinggahan. Juga kepada langgam Minang yang diserap dari dendang hingga lagu modern, dan kepada pembaca yang memberi keyakinan bahwa proses menjalani hidup adalah juga proses menjalani puisi.
Bagi Esha Tegar Putra, segala sesuatu bisa menjadi puisi. Bahkan ketika dia memandang orang di hadapannya, dia sudah memandangnya dengan kacamata puitik. Hidup dan puisi, pada akhirnya, tidak lagi bisa dipisahkan.

Cicilia Oday: Menulis dengan Kejujuran
Cerita dari Kusala Kampus
Month: Agustus 2025

Berdiri di depan peserta Kusala Kampus, Cicilia Oday tidak mampu menyembunyikan kegugupannya. “Sejujurnya saya sangat gugup karena saya tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak,” katanya. “Kalau disuruh memilih menulis di sebuah ruangan sendirian atau berbicara di depan orang banyak, saya akan memilih yang pertama. Karena saya orang yang suka bersembunyi.”
Dia membayangkan karyanya sebagai gunung es yang mencuat di permukaan laut. Dirinya sendiri adalah bagian dominan yang tersembunyi di bawahnya. Untuk hadir di Jakarta hari itu, dia harus melintasi lautan, pulau-pulau, bahkan perbedaan zona waktu. Namun dia bangga menjadi bagian dari angkatan pertama pemenang yang berkontribusi dalam program baru Kusala Sastra Khatulistiwa.
Sedari kecil dia tidak merasa percaya diri memiliki kriteria untuk menjadi penulis. Masa kecilnya lebih banyak terpapar media visual: sinetron, telenovela, film-film India. Dia sering tidak bisa memilih apa yang dikonsumsi. Namun di situ justru tumbuh benih pencerita. Setiap kali selesai menonton, dia mengulang penggalan adegan di dalam kepala dengan dialog-dialog yang disusun sendiri. Media visual menjadi referensi membangun cerita. Ketika bertemu medium teks, dia langsung terdorong menulis cerpen dengan bahasa yang masih sangat terbatas. “Menulis membantu menjaga kewarasan,” ujarnya. “Gambaran yang tadinya hanya ada di kepala bisa dituangkan ke atas kertas dalam bentuk kata-kata.”
Sayangnya asupan bacaan jarang. Dia iri pada penulis yang familiar dengan buku sejak kecil. “Seandainya masa kecil saya seperti itu, mungkin saya sudah menjadi penulis yang lebih baik. Bahkan mungkin sudah menerima penghargaan ini lebih awal.” Tapi itu hanya mungkin. Motivasi menulisnya bukan sekadar untuk memenangkan penghargaan. Ketika ditanya kenapa menulis, jawabannya sempat kabur. Lalu dia menemukan dua alasan yang lebih jujur: karena tidak bisa menggambar, dan karena mimpi berakting di masa remaja tidak mendapat ruang penyaluran. Kecintaan pada seni peran mentok di ekstrakurikuler teater dan satu project film pendek tingkat kabupaten. “Ketika satu pintu tertutup, maka pintu yang lain akan terbuka. Melalui pintu yang terbuka itulah pertemuan saya dengan dunia sastra dimulai.”
Pernah dia menulis seperti orang yang tidak tahu cara lain untuk hidup. Padahal dia sendirian, tidak berada di lingkungan orang-orang yang juga menulis. Bahan bakarnya datang dari membaca. Di masa muda, kebanyakan bacaan adalah sastra populer terjemahan, ditambah sastra lokal yang, menurutnya, “serius”. Bagi dia waktu itu semua tulisan adalah produk pemikiran yang setara. Cerpen pertamanya yang terbit di Kompas mendapat banyak pujian dan untuk pertama kali dia mendengar kata “surialisme”. Pembaca menganalisis karyanya dengan teori-teori filsafat yang tidak dipahaminya.
“Saya merasa bodoh, merasa malu karena pembaca lebih mengetahui tentang karya kita daripada kita sendiri.” Belakangan dia mengerti: itulah kekuatan alam bawah sadar. Penulis menampilkan gejala yang ada di dalam diri; pembaca yang lebih ahli mengkaji produk batin itu.
Lalu datang fase gelap. Dia tergila-gila pada teknik, terobsesi menemukan gaya sendiri sampai-sampai tidak mau membaca agar tidak terpengaruh. Proses kreatif macet. Dia mengambil jarak, bekerja di kantor pembiayaan. Mengutip Ayu Utami bahwa menulis itu 60 persen membaca, 40 persen menulis, dia pun kembali membaca apa saja, bukan hanya fiksi. Mesin sehebat apa pun tidak bisa jalan tanpa bahan bakar.
Novel pertama yang terbit bukanlah novel pertama yang ditulisnya. Duri dan Kutuk adalah novel kesekian. Draf pertamanya ditulis secara manual di buku harian sambil mengasuh bayi. Benihnya sudah ada sejak masih lajang: tanaman kemboja di rumah orang tua yang wujudnya ganjil, memicu imajinasi tentang tanaman yang bisa bergerak dan berbicara. Semula berbentuk novela pendek. Masuk kompetisi, hanya sampai daftar panjang. Lalu editor Gramedia meminangnya. Karena formatnya tidak memenuhi kriteria, proyek sempat terhenti. Dia memutuskan menulis ulang, bukan sekadar merevisi atau menyunting, melainkan meruntuhkan bangunan lama hingga nyaris serata tanah dan hanya menyisakan sedikit jejak fondasi. Karakter ditambahkan atau dihilangkan, nama diganti, alur dibuat lebih kompleks, konflik diperjelas, bumbu ironi ditambahkan.
“Hasil akhir dari karya memang tidak pernah saya peroleh dengan hanya satu kali usaha menulis,” katanya.
Dia teringat Haruki Murakami: menulis novel adalah pekerjaan yang sangat tidak efisien dan berbelit-belit. Satu gagasan yang bisa diperoleh dalam tiga menit dari sumber lain, di tangan novelis butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Lalu untuk apa merepotkan diri? Karena terkadang yang terpenting bukan apa yang disampaikan, melainkan bagaimana cerita itu dibawakan melalui medium bernama bahasa. Sejalan dengan kredo Sutarji Calzoum Bachri: kata-kata bukan alat untuk mengantarkan pengertian. Kata adalah pengertian itu sendiri.
Semua penulis yang bukunya pernah dibacanya dianggap sebagai guru menulis, terlepas diidolakan atau tidak. Dari mereka dia belajar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pada 2014 dia mengikuti kelas menulis Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Di pertemuan terakhir di sebuah kedai di kompleks Taman Ismail Marzuki, dia membacakan cerpen baru. Ketika menyodorkan buku saku hanya untuk minta tanda tangan Eka Kurniawan, dia mendapat catatan singkat: “Cerpenmu tadi bagus. Mungkin sedikit lebih dingin dengan narator yang sedikit tersembunyi bisa bagus banget.” Waktu itu dia tidak mengerti. Hampir sepuluh tahun kemudian, saat menulis Duri dan Kutuk dan karya-karya lain, dia menengok kembali catatan yang sudah dibingkai. Akhirnya dia paham. Narator yang tersembunyi, narasi yang lebih dingin, itulah yang dia terapkan.
Kesadaran itu membuatnya merasa kecil: ada orang yang sejak 2014 sudah mengetahui sesuatu yang baru dimengertinya pada 2024. Kesenjangan besar antara seseorang yang sudah khatam karya-karya kanon sejak muda dengan dirinya yang terlambat mengenal sastra. Namun dari situ juga datang bahan bakar: membaca ulasan The Vegetarian di blog Eka Kurniawan mendorongnya menulis ulang draf Duri dan Kutuk.
Terhadap pertanyaan tentang alam bawah sadar ketika menulis, Cicilia Oday menjawab, “Kita menulis jujur saja. Semakin kita jujur pada diri sendiri ketika menulis, semakin alam bawah sadar itu bisa diakses.” Tidak perlu berpretensi hebat. Tidak perlu merasa berbakat. Jujur saja.
Lantas kalau disuruh memilih lagi antara menulis sendirian di sebuah ruangan atau berdiri di depan orang banyak, jawabannya sudah berubah. “Mungkin saya bisa pilih kedua-duanya. Mungkin saya tidak harus bersembunyi. Mungkin saya bisa berdiri bersandingan dengan karya saya sendiri.”

Panggilan Terbuka Kusala Sastra Khatulistiwa 2026
Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) merupakan penghargaan sastra bergengsi yang menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001 oleh Richard Oh dan kawan-kawan dengan nama Khatulistiwa Literary Award, penghargaan ini hadir sebagai ruang apresiasi bagi karya-karya sastra Indonesia yang menandai zamannya. Sejak tahun 2014, penghargaan ini berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa, sebagai upaya memperkuat identitas serta konsistensi penggunaan bahasa Indonesia. Selama lebih dari dua dekade, KSK telah mengangkat dan mengapresiasi karya para penulis terkemuka yang memperkaya tradisi prosa maupun puisi Indonesia.
Untuk menjaga kesinambungan penghargaan ini setelah wafatnya Richard Oh pada tahun 2022, keluarga bersama para sahabat dekat kemudian mendirikan Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) pada tahun 2024. Yayasan ini mengemban mandat untuk meneruskan semangat filantropis dan kecintaan Richard Oh terhadap sastra Indonesia, sekaligus menjadi penyelenggara Kusala Sastra Khatulistiwa. Dalam pelaksanaannya, YRKI didampingi oleh tiga orang kurator, yaitu Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria, yang menjalankan peran strategis dalam merancang program, mendampingi proses penyelenggaraan, serta menentukan dewan juri.
Dengan dukungan Dana Indonesiana serta sejumlah mitra lain, Kusala Sastra Khatulistiwa kembali diselenggarakan pada tahun 2025. Pada edisi tersebut, penghargaan diberikan dalam tiga kategori, yaitu kumpulan cerpen, novel, dan kumpulan puisi. Adapun para pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 adalah:
- Kategori Kumpulan Cerpen: Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama
- Kategori Novel: Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday
- Kategori Kumpulan Puisi: Hantu Padang karya Esha Tegar Putra
Keberhasilan penyelenggaraan tahun 2025 menandai babak baru dalam sejarah Kusala Sastra Khatulistiwa, sekaligus mempertegas posisinya sebagai ajang penghargaan yang tidak hanya mengapresiasi karya sastra terbaik, tetapi juga berupaya memperluas jangkauan pembaca melalui program literasi yang lebih inklusif.
Memasuki tahun 2026, Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia kembali menyelenggarakan Kusala Sastra Khatulistiwa sebagai kelanjutan dari komitmen untuk menghadirkan penghargaan sastra yang berkesinambungan. Penyelenggaraan tahun ini diharapkan tidak hanya melanjutkan tradisi yang telah terbangun, tetapi juga semakin memperkuat peran KSK dalam ekosistem kesusastraan Indonesia di masa mendatang.
Dengan ini, YRKI secara resmi mengumumkan syarat dan ketentuan penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Informasi lain mengenai hadiah, Daftar Panjang, Daftar Pendek, dan lain-lain akan disampaikan dalam pengumuman berikutnya.
Syarat dan Ketentuan
- Terbuka bagi penulis berkewarganegaraan Indonesia. Karya yang diajukan merupakan hasil karya penulis tunggal dan tidak melanggar hak cipta.
- Karya yang diajukan berupa buku cetak yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2025.
- Karya ditulis dalam bahasa Indonesia.
- Tiga kategori karya:
-
- Kumpulan cerpen, dengan jumlah minimal dua cerpen.
- Novel, dengan panjang minimal 30.000 kata.
- Kumpulan puisi, yang terdiri dari minimal 40 puisi, atau 40 halaman, atau satu puisi panjang dengan total minimal 40 halaman.
- Penerbit atau penulis mengirimkan setidaknya dua eksemplar dari setiap judul karya yang diajukan. Pengiriman disertai dokumen pendukung berupa biodata penulis dan mencantumkan informasi kontak.
- Karya dikirimkan paling lambat tanggal 28 Februari 2026 (cap pos). Karya dikirimkan ke:
Kusala Sastra Khatulistiwa 2026
ED Cluster No. 2A
Jalan Gunung Indah V
Cirendeu, Ciputat Timur,
Tangerang Selatan, Banten
15445
- Daftar panjang dan daftar pendek karya terpilih diumumkan sebelum pengumuman pemenang.
- Pengumuman pemenang akan dilakukan pada acara Malam Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.
Narahubung
Email: info@kusala.id


