Laporan Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Pada tahun 2001, Richard Oh, sosok yang atribusinya melintasi dunia sastra dan bidang seni lainnya, bersama rekannya, Takeshi Ichiki, mewujudkan sebuah penghargaan yang kelak dikenang menjadi salah satu peristiwa sastra yang paling dinanti: Khatulistiwa Literary Award (KLA). Seiring waktu, perhelatan ini mengalami perubahan di sana-sini, termasuk adanya kategori yang dipertahankan maupun dikembangkan, serta namanya yang berganti menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) pada 2014. Dalam dua dekade penyelenggaraannya, walau terpaksa mesti terhenti pada 2021 karena tak lama berselang, tepatnya pada 7 April 2022, Richard Oh berpulang, penghargaan ini telah memilih berbagai judul buku sastra karangan penulis Indonesia yang terpujikan.

Zaman bertumbuh, kebiasaan literasi berubah, jumlah pembaca maupun pengarang juga terus bertambah. Mewarisi sebuah penghargaan sastra sebagaimana yang kini coba dirawat melalui Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI), lembaga yang didirikan sejak 2024 dengan maksud menjaga visi dan kecintaan Richard Oh terhadap sastra Indonesia, mesti diakui merupakan upaya yang penuh tantangan. Mula-mula pasti dari sisi teknis: bagaimana harus menjaga kebersinambungan. Soalnya, KSK diniatkan sebagai apresiasi dan edukasi, usaha yang tidak menghasilkan keuntungan ekonomi karena sejak awal ia berciri filantropis. Apalagi sejak dihidupkan kembali pada 2025, KSK menyasar peran turut menumbuhkan ekosistem sastra dengan membagi nilai hadiahnya antara penulis dan penerbit, termasuk mengembangkan program lain yang mempertemukan pengarang dengan pembacanya sehingga terjadilah silang wawasan yang saling memperkaya. Dapat dibayangkan betapa gigih usaha yayasan ini dalam mengetuk pintu-pintu para pihak yang peduli pada literasi. Harapan kita hanyalah semoga kian banyak yang tergerak mendukungnya.

Sementara itu, arus informasi maupun bacaan kian membanjir bandang, dan siapa pun pasti punya acuan buku yang paling menggugah. Pertanyaan seberapa perlu kelestarian penghargaan sastra bagi masyarakat yang haus-dahaga itu menjadi penting untuk didiskusikan. Apakah ia hanya sebagai tambahan referensi bacaan dari tahun ke tahun, katakanlah karya yang dianggap baik, sehingga barangkali bisa memperdalam pengalaman serta pengetahuan penikmatnya? Ataukah ia menunjukkan tanda-tanda perkembangan mutu selama puluhan tahun usia kepengarangan di Indonesia, atau sependek umur penghargaan KSK?

Segelintir pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh KSK semata, melainkan berpulang kembali kepada para pembaca, penerbit, pemerhati literasi, dan unsur-unsur lain yang membentuk ekosistem sastra itu sendiri. Tak jarang kita jumpai adanya konsep karya yang menarik, tetapi justru ditolak penerbitnya; atau buku yang menjanjikan, tetapi kesulitan diapresiasi pembacanya; atau penikmat yang mendambakan penyegaran di tengah bacaan yang begitu-begitu saja. Ada persepsi yang mengental dalam benak setiap unsur itu, menciptakan jarak tentang apa yang dianggap bagus. Dalam situasi yang sedikit banyak mencerminkan potret ekosistem literasi kita itu, kiranya peran penghargaan sastra apa pun, selain untuk menghormati kesungguhan upaya dan karya para pengarang, bisa saja sekaligus merangsang atau bahkan mengganggu persepsi yang melekat, mudah-mudahan dengan dasar pertimbangan yang jelas, sehingga satu sama lain bisa saling menelisik pilihan-pilihannya, lantas berdialog tentang seperti apa sastra yang diharapkan semua orang.

Proses Penjurian

Berbeda dengan dua dekade penghargaan semasa Richard Oh, sejak 2025 KSK menetapkan tiga kategori, yaitu buku novel, buku kumpulan cerita pendek, dan buku kumpulan puisi. Tata cara penjaringan buku lewat undangan terbuka juga digencarkan, kendati tiap juri masih dibolehkan mencari tambahan judul yang dirasanya layak diikutsertakan. Keseluruhan proses ini dibantu tim panitia yang secara teliti mencatat, mendistribusikan, serta memantau kerja-kerja penjurian berjalan sesuai lini masanya, hingga dapat dipastikan setiap juri mendapat waktu yang cukup untuk membaca buku-buku tersebut. Adapun jumlah buku yang masuk dan dinyatakan lolos seleksi administrasi tahun ini ialah 225 judul (dari total 240 judul awal), terdiri atas 74 buku novel, 46 buku kumpulan cerita pendek, dan 105 buku kumpulan puisi.

Jadwal diskusi disusun bertahap seiring penentuan setiap fase penjurian, baik untuk nomine daftar panjang, daftar pendek, maupun pemenang utama. Karenanya, sangat wajar jika terjadi pembacaan ulang untuk menyelami buku-buku yang ada. Para juri bisa saja berkali-kali menelisik buku jagoannya. Misalnya, ada yang sejak daftar panjang memberi sinyal kuat pada sebuah buku, ternyata pilihannya justru bergeser pada tahap dialog daftar pendek maupun pemenang utama. Ada kalanya argumen dari setiap juri saling melengkapi, dan tidak jarang terjadi silang pendapat untuk menimbang kembali pandangan-pandangan yang mengemuka. Bagaimanapun, Dewan Juri berharap karya pemenang maupun yang masuk dalam nominasi akan terus dibaca serta dibincangkan karena semuanya memiliki nilai yang berharga untuk sastra Indonesia.

Secara umum, seperti visi yang disampaikan tim Kurator YRKI dan panitia, KSK ingin mencari buku-buku yang menyajikan keluasan cakrawala puitik dan naratif, bertumpu pada kekriyaan bahasa, keutuhan konsep artistik, ketajaman gagasan, serta pengerahan kerja kreatif yang memperluas wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas. Khusus pada penjurian tahun ini, setiap anggota Dewan Juri sepakat bahwa karya-karya yang masuk memiliki capaian artistik dan pengayaan tematik yang sangat memikat. Dengan caranya masing-masing, setiap penulis berusaha mengisi, mengembangkan, serta memberi kemungkinan lain dari karya-karya sastra yang telah ada di Indonesia. Usaha pencarian ini patut untuk dihargai.

Akhir kata, Dewan Juri yang terdiri dari Andina Dwifatma, Arif Bagus Prasetyo, Martin Suryajaya, Ni Made Purnama Sari, dan Saras Dewi mengungkapkan penghargaan kepada para penulis maupun penerbit yang telah mengerahkan kerja-kerja kreatifnya sehingga tahun 2025 terasa semarak dengan hadirnya buku-buku sastra yang bermutu. Begitu pula kepada para pembaca yang masih mencintai sastra serta para pihak yang menaruh perhatian dengan mendukung penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 ini.

Kolase Wajah Manusia dalam Cerpen

Dibandingkan kategori lainnya, jumlah buku kumpulan cerita pendek yang masuk sungguh paling sedikit. Situasi ini bisa memantik pertanyaan, mengapa dalam kebiasaan membaca era kini yang konon serba ringkas akibat percepatan dunia digital, cerpen yang biasanya menyajikan narasi pendek dan pembacaannya dapat diselesaikan sekali duduk ternyata masih terbatas penerbitannya. Namun, jika dilihat dari siapa saja pengarangnya, kategori ini cukup menggembirakan karena muncul nama-nama yang relatif baru dikenal, setidaknya menurut jangkauan beberapa juri, dan menjadikan proses membaca diwarnai rasa keingintahuan sekaligus pengharapan bahwa mereka akan terus mengolah cerpen sebagai cara bertutur yang diminatinya.

Karena kekhasan bentuknya, cerpen selalu membutuhkan kekriyaan tersendiri. Keringkasannya mestilah sarat pertimbangan agar sekaligus dapat memproyeksikan kompleksitas. Mudah dibaca cepat tapi tetap menyisakan resapan lekat, semacam gema yang samar, tetapi senantiasa terdengar. Peristiwa kisahnya kadang serupa isyarat atas kenyataan sebenarnya, membentuk lapis demi lapis penafsiran yang kaya. Kelugasan daya berbahasa berpadu dengan daya saran atas rekaan yang menggoda pembaca memasuki dan menghuni dunianya. Bahkan, sering tidak ada kesempatan untuk berakrobat kata-kata, karena kualitasnya diukur dari kemampuannya menyajikan sesuatu yang bermakna. Betul-betul tantangan yang menggairahkan, sekaligus menggelisahkan, sebab si pengarang mesti mengukur sendiri pada titik mana cerita itu sudah cukup dikatakan tuntas dan bernas.

Corak realis yang mewartakan peristiwa dalam kesaksian personal para tokoh sedikit banyak masih mendapat perhatian juri dan pilihan bercerita ini umumnya muncul dalam beberapa buku yang merespons sejarah atau kejadian aktual lainnya. Walau begitu, tidak sedikit pengarang yang bermain-main dengan sudut pandang dan teknik penceritaan sehingga riwayat dalam kisah, betapapun faktual sumbernya, tidak menjelma serupa laporan jurnalistik, melainkan tetap bekerja dalam wilayah ambigu sebuah prosa. Dan meskipun ada yang melompat lebih jauh dengan membangun dunia yang tampak sepenuhnya fiktif dan liar, tetapi irisannya dengan realitas kita masih tetap terasa. Semua kemungkinan itu, yang menunjukkan kolase pencarian dalam cerita pendek, kurang lebih tampak pada pilihan daftar panjang, dan mengerucut dalam nominasi daftar pendek. Dan beberapa kata di bawah ini adalah ulasan singkat terhadap lima antologi cerpen yang terpilih dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.

Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya dari penerbit baNANA berupaya memusatkan cerita-ceritanya pada pergelutan keseharian perempuan dan kehidupan kelas pekerja di perkotaan. Setiap cerita Hantu Ulang-alik menggambarkan unsur penindasan terhadap tubuh perempuan dan juga tubuh-tubuh pekerja, yang bermuara pada perampasan agensi diri sampai yang tersisa dari kita hanya kelelahan saja. Berlatar belakang masyarakat urban, Hantu Ulang-alik menangkap ragam kehidupan orang-orang kota dengan segala kecemasannya. Namun, bukan berarti semua cerita Hantu Ulang-alik menonjolkan kemalangan dunia saja, tetapi mengantarkan pembaca untuk mendengar bahwa sering kali ada suara yang dipinggirkan karena struktur masyarakat yang ada. Cerita perempuan yang dibebani ekspektasi orang-orang terdekatnya, pelayan restoran merangkap kasir sekaligus penyanyi yang masuk enam hari kerja, ataupun hantu kursi reyot yang bersyukur setidaknya dia tidak lagi bisa menjadi objek laki-laki, menggambarkan wujud nyata dari sistem patriarki-kapitalisme yang mengikat kita semua. Kedua dimensi inilah yang senantiasa hadir di cerita-cerita Hantu Ulang-alik.

Berbeda dengan Cara Kita Menghadapi Kehilangan karya Yetti A.KA, penerbit DIVA Press, yang sesuai dengan namanya menyoroti berbagai cerita kehilangan dari orang-orang. Kumpulan cerita ini tidak membedakan kehilangan dari segi besar atau kecilnya, familiar atau asingnya, dan bahkan saat kehilangan itu masih sulit dinamakan. Baik itu kehilangan hubungan hangat dari ibu-anak saat anak beranjak dewasa, anak kecil yang pandai berpura-pura di ujung akhir pernikahan orang tuanya, atau meratapi calon bayi yang tidak perlu lahir di keluarga yang dingin. Namun, yang selalu menonjol dari setiap karakter Cara Kita Menghadapi Kehilangan adalah luka kehilangan itu tak membuat mereka menarik diri dari kehidupan. Justru itu cara bagi sebagian orang untuk memanggul kekosongannya dan melanjutkan kenestapaan hidup.

Membahas konflik multikulturalisme dan juga sejarah militerisme Indonesia selalu menjadi pembicaraan yang sulit dalam bentuk fiksi. Selengkap apa pun fakta perlu dibicarakan, ia harus tetap terasa dekat dan personal. Permasalahan ini yang ingin dibicarakan melalui cerita fiksi Jose Kecil dalam Dirimu dan Cerita-Cerita Lainnya karya Kaisar Deem, penerbit Bara Books. Bayang-bayang konflik sosial terus-menerus ada dan melatarbelakangi setiap cerita pendek yang ada di buku ini tetapi tetap dikemas secara sederhana. Jose Kecil dalam Dirimu yang dilatari budaya daerah Makassar menjelma sebagai siasat penulis untuk merefleksikan kesengsaraan pribadi maupun perselisihan sosial. Dengan mengangkat pluralisme nilai di masyarakat Indonesia, lantas buku cerpen ini menaruh kembali perbedaan ke atas meja sekaligus mendorong mereka yang membacanya untuk merenungkan kembali makna keragaman.

Ada juga Misi Menggagalkan Doa karya Yoga Palwaguna, penerbit Langgam Pustaka, yang menggambarkan keluguan beserta kenaifan dari pembangkangan anak kecil melawan orang tua. Sudah hakikat dari anak-anak untuk selalu mempertanyakan semua peraturan yang mengekang mereka. Anak tak menganggap logika otoritas, entah sumbernya dari orang tua ataupun agama, menjadi tembok penghalang yang harus diterima begitu saja. Mereka berusaha memutarbalikkan, mencongkel, dan membongkar yang tabu untuk dipertanyakan agar terlihat sebagai suatu cara berpikir yang absurd. Jaring pendisiplinan ini pun luas. Mulai dari doa orang tua yang tak bisa dibantah sampai norma sosial di masyarakat yang menjadi acuan “kenormalan”. Berbagai cerita pendek di Misi Menggagalkan Doa ingin memperlihatkan ke para pembacanya bagaimana anehnya masalah yang diada-adakan oleh manusia sendiri. Selayaknya tingkah anak yang sering kali dicap “nakal”, tetapi sesungguhnya cuma perlu didengarkan dengan lapang dada dan menerimanya tanpa menghakimi kemanusiaannya.

Serangkaian cerpen Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri karya T. Agus Khaidir, cetakan Penerbit Buku Kompas, mengantarkan pembaca ke dalam satu tenunan cerita yang kadang menyambung, kadang juga melompat. Ketersambungan yang biasanya dirajut oleh tema dan di cerita lain oleh nama. Maka tak heran apabila pada kata pengantar T. Agus Khaidir menggunakan yang disebut “karnaval nama-nama”. Dari berbagai buku cerpen yang masuk, Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri yang kentara jelas pengaruh kemelayuan dalam penulisan. Kekhasan ini menjadi angin segar yang mendistingsikan dengan buku cerpen lainnya. Ada juga realitas keseharian yang jadi tema penyambung di antara cerita-cerita yang ada, tetapi diakhiri dengan misteri ataupun absurdisme, yang membuat pembaca larut dalam pertanyaan. Dari sudut pandang inilah cerpen ini akan membicarakan berbagai konflik sosial yang ada di masyarakat, mulai dari hubungan keluarga sampai dengan pembunuhan maupun kematian yang menimbulkan tanda tanya. Semua kejadian ini dilatari dengan nuansa religi dari budaya Melayu. Alhasil, Waktu itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri akan lebih mudah menyasar kesadaran kolektif sembari mengutak-atik cara pandang kultural dalam membaca ragam spektrum pengalaman manusia.

Setelah beberapa kali sesi diskusi dan pembacaan mendalam terhadap lima antologi cerpen daftar pendek tersebut, Dewan Juri memutuskan Hantu Ulang-alik sebagai pemenang pada kategori cerpen. Keunggulan dari karya ini untuk mengeksplorasi berbagai cerita dengan mendekatkannya pada realitas sehari-hari perempuan pekerja urban, menyuarakan secara utuh kelelahan yang dialami kehidupan hari-hari ini. Setiap tokohnya diambil dari sudut pandang perempuan dan perspektif kelas pekerja yang terus diperas serta ditindas oleh sistem yang mengakar, yang tak pernah puas melahap semua. Karya ini juga mampu mengemas isu-isu partikular agar mampu dimaknai secara luas dengan menunjukkan kesamaan kecemasan yang sangat manusiawi.

Napas Panjang Novel Indonesia

Dokumentasi perjalanan kepengarangan novel Indonesia boleh dikatakan relatif lengkap karena inisiatif berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadapnya. Selain penerbitannya yang terus bergairah dari tahun ke tahun, tercatat aneka perhelatan yang memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi karya novel terbaik. Semuanya itu, terlepas soal masalah-masalah teknis untuk menjadikan ajangnya tetap berkala dan lestari, menunjukkan novel sebagai genre dengan kreativitas yang diminati, terus bertumbuh, dan senantiasa menantang dijelajahi. Terpilihnya judul-judul novel dalam kurasi penerbitan maupun kompetisi itu kiranya dapat menjadi salah satu cerminan karya yang dianggap baik, di mana pengarang selanjutnya boleh memetik peluang pengayaan penciptaan di masa-masa selanjutnya, yang dengan antusias dilakukan sampai hari ini.

Gairah eksplorasi kepengarangan tentu masih terasa dalam kurasi Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2026 ini. Karena kualitasnya yang hampir sepadan, boleh dibilang sungguh tidak mudah bahkan untuk memilih sepuluh judul kategori daftar panjang, dan jauh lebih sulit lagi ketika memasuki penentuan daftar pendek. Hal-hal yang mengemuka dalam diskusi juri di antaranya pendalaman aspek tematik, misalnya sejauh mana karya tersebut menjadi khas di tengah kecenderungan topik serupa yang pernah ada, atau bagaimana penulisnya menemukan sudut pandang penceritaan lain yang menguatkan tema pilihannya. Usaha menemukan kesegaran perspektif memang selalu menantang: di bagian manakah kita bisa menorehkan tambahan sapuan warna pada pusparagam tema yang telah lebih dulu diciptakan itu? Tahun ini, ada beberapa karya yang berani mengambil jalan yang mungkin tampak sepele, yang sekilas jauh dari pewacanaan intelektual dan perpanjangan pesan, serta kembali pada kehadiran novel sebagai “cerita”. Ada yang mengetengahkan potongan kisah hidup yang mengingatkan kita akan makna mendasar suatu budaya. Atau karya yang menuliskan ulang sejarah dengan pendekatan yang membumi dan berempati pada pengalaman orang-orang di dalamnya. Dewan Juri sangat menghargai semua usaha semacam ini, yang melihat novel sebagai bagian dari pernyataan antarmanusia.

Dalam beberapa diskusi, para juri berusaha melihat secara dekat, menelisik sampai ke kalimat-kalimat dialog maupun deskripsi yang spesifik guna merunut kepaduan bercerita si pengarang. Kita tahu novel merupakan prosa yang membutuhkan napas penciptaan panjang. Selain aspek-aspek teknis dalam menyusun babakan cerita, dilihat pula sejauh mana konsistensi pengisahan, kekuatan watak tokoh yang menentukan alur logika dan dramatika, hingga ungkapan-ungkapan penuh daya saran atas pengalaman berbahasa kita. Tidak semua pengarang memiliki stamina untuk menggali serta menyajikan seluruh hal tersebut, yang ini hanya bisa dicapai dengan pengayaan dan penghayatan sepenuh hati atas seluk-beluk masalah manusia. Walau demikian, bukan berarti karya terpujikan yang memenuhi semua aspek tadi tidak ditemukan dalam kurasi tahun ini.

Berikut ini merupakan ulasan untuk lima buku yang terpilih dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 berdasarkan judul yang disusun alfabetis.

Novel Alok karya Arie Saptaji, penerbit Post Press, membangkitkan kembali daya angan tentang mistisisme Jawa yang menghubungkan dunia lahiriah dan alam ruh, bukan sebagai bentangan nilai yang saling bermusuhan, melainkan beriringan dalam keharmonian yang dicita-citakan masyarakat Timur. Peristiwa kematian, arwah gentayangan, dan perjalanan menguak tabir misteri diuntai bersama filosofi hidup yang mentradisi serta narasi hangat sebuah keluarga, mengingatkan bahwa persaudaraan bukan hanya terjalin di muka bumi, tetapi bertaut pula sampai ke dunia yang tak kasatmata. Kekhasan itu menjadikan Alok mengisi ruang-ruang pemaknaan seputar alam gaib yang selama ini dipenuhi horor, kengerian, dan ketakutan, baik dalam budaya populer maupun kesusastraan kita. Adapun aspek-aspek lain yang barangkali dapat menjadi saran bagi penulis ialah pertimbangan pilihan dialog yang sewajarnya, penataan penceritaan yang lebih menggugah, mengikuti alur kegelisahan batin para tokohnya.

Sementara itu, premis novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal, penerbit Kepustakaan Populer Gramedia sepintas sederhana, tentang seorang pengarang yang terus-menerus menunda menyelesaikan masterpiece novelnya. Namun, perlahan-lahan, pembaca diajak untuk melihat bahwa si tokoh rupanya tidak hanya menunda menulis, tetapi juga hampir seluruh hal dalam hidupnya. Dari situlah kemudian novel ini bisa berbicara banyak hal: tentang keluarga, kehidupan kelas menengah kota, hingga zaman keberlimpahan informasi yang membuat manusia justru lupa cara memberi makna. Keunggulan novel ini jelas pada kematangan berbahasa dan kelincahan penulis dalam mengolah kata. Ia bermain-main dengan panjang-pendek kalimat, kosakata bahasa daerah, dan berbagai istilah yang tajam dan cerdas. Dan, yang paling sulit ditandingi oleh karya lain pada tahun ini adalah kemampuan pengarangnya untuk benar-benar memberi nada suara yang berbeda bagi setiap tokoh. Sudut pandang “aku” yang digunakan setiap berganti tokoh tidak membuat pembaca sulit menebak-nebak siapa yang sedang berbicara, karena setiap karakter memiliki kekhasan nada tersendiri, seperti alat musik yang berbeda-beda. Bersama-sama, nada-nada dari instrumen yang berbeda itu dijahit oleh pengarang menjadi sebuah simponi yang rapi.

Peristiwa pembantaian 1965-1966 akan selalu menjadi sejarah kelam bangsa Indonesia dan kita perlu lebih banyak karya fiksi mengenainya. Untuk itu, Katri karya Adeste Adipriyanti, penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, layak masuk ke dalam daftar pendek KSK tahun ini. Ditulis dengan detail yang mengagumkan, novel ini mengambil sudut pandang korban perempuan yang pada akhirnya mampu bangkit dan menata ulang kehidupannya. Novel ini amat jelas terbaca sebagai hasil riset yang panjang dan rinci, tetapi barangkali justru di situ letak celahnya: ia kemudian terbaca mirip sebuah laporan feature jurnalistik yang panjang dan “sastrawi”. Meski demikian, novel ini tetap mampu menunjukkan bahwa peristiwa 1965-1966 yang konon menargetkan anggota dan simpatisan partai komunis, nyatanya sangat banyak memakan korban yang bukan keduanya. Mereka yang tidak terlibat aktivitas kepartaian menanggung beban di luar batas kemanusiaan. Dan barangkali itulah yang terus-menerus perlu digaungkan kepada publik luas, agar segala stigma perlahan-lahan dapat terkikis hingga habis.

Adapun novel Seakan Bisa Dipisahkan karya Ruhaeni Intan, penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, mengungkap tema hubungan antara ibu dan anak perempuan belum banyak dieksplorasi dalam khazanah sastra Indonesia. Mungkin saja karena bahasan tentang “keluarga” masih dipandang terlalu keseharian dan remeh. Namun, novel ini berhasil membuktikan bahwa tema domestik dapat diolah dan disajikan menjadi kisah yang lembut tanpa kehilangan daya gedor. Novel ini dapat dibaca sebagai kisah perjalanan menuju kedewasaan (coming of age) dengan premis yang agak berbeda dari novel sejenis. Bila umumnya novel-novel serupa cenderung menekankan pada kebebasan individu untuk melepaskan diri dari berbagai ikatan sosial yang membelenggu, novel ini justru memberi pesan sebaliknya: ikatan tersebut tidak dapat, dan memang tidak perlu, mudah dipisahkan. Justru dengan belajar memaknai dan melampaui segala yang menyedihkan dan membahagiakan dari ikatan-ikatan tersebut, seseorang dapat memulai babak kehidupannya sebagai manusia dewasa. Penggunaan simbol sederhana seperti jajanan pastel sebagai penanda konflik dan resolusinya, menunjukkan kelihaian pengarang dalam membangun struktur cerita yang kokoh dan padu.

Novel Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen, penerbit Marjin Kiri, ditulis dengan kemampuan berbahasa yang terpujikan, mengajak pembaca larut mengikuti kisahan dalam setiap halamannya. Tafsir misteri tentang pikiran dan laku manusia terangkai secara apik melalui penuturan sepihak si tokoh utama, seorang menantu pria dalam keluarga Minang yang harus beradaptasi dengan lingkungan serba-asing, dan keasingannya itu justru menjerumuskannya pada pilihan-pilihan sikap yang mengejutkan. Latar budaya serta sejarah di Sumatra Barat, tema yang cukup sering muncul dalam kepengarangan di Indonesia, ditulis begitu mengalir dan penulisnya mampu menyiratkan refleksi tentang makna maskulinitas dalam kultur matrilineal, sesuatu yang betapapun rapuh, tetapi berusaha terus direngkuh tokoh-tokohnya. Akibatnya, kisah pun diwarnai kelokan peristiwa yang kontradiktif, ironi, hingga bernuansa kekerasan. Dengan keunikan sudut pandang serta keberaniannya menukik pada masalah-masalah yang khas tersebut, novel ini sanggup mengungkap konsekuensi pelestarian nilai kultural, semacam kesadaran kolektif yang mentradisi, yang memengaruhi kebebasan sikap orang per orang.

Setelah membaca secara lebih mendalam serta mendiskusikan capaian kreatif atas kelima novel pada daftar pendek tersebut, Dewan Juri sepakat untuk memilih Ikhtiar yang Tak Benar-Benar sebagai pemenang kategori novel. Selain memberikan pengalaman membaca yang mengalir sekaligus cerdas menyikapi elemen bahasa yang menguatkan inti cerita, karya ini juga mengetengahkan daya gugah atas refleksi hidup tanpa sekalipun terasa menggurui. Setiap tokohnya bersuara dengan kepribadian khas yang sulit ditemui pada novel-novel lain, suatu keragaman polifonik yang unggul dan seluruhnya diramu sebagai orkestrasi penuh harmoni. Novel ini mengembalikan penghayatan kita pada persoalan-persoalan yang dekat, perihal relasi remeh dalam keluarga yang luput dilihat, tentang waktu, budaya, dan maupun sikap-sikap personal lainnya–sebuah ikhtiar untuk mengisi lapis pemaknaan lain atas hubungan antarmanusia yang kian terkikis akibat gempuran perubahan zaman.

Puisi dan Jalan Lain Tradisi Lirik

Puisi masih mendominasi panorama sastra Indonesia tahun 2025. Setidaknya, demikianlah yang tampak dari buku-buku sastra yang terjaring dalam penjurian Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Dari dua ratusan buku sastra yang masuk, sebanyak 105 di antaranya merupakan buku puisi – jumlah yang jauh melampaui novel maupun kumpulan cerita pendek. Sekian banyak buku puisi tersebut menempati spektrum puitik yang sangat luas, memperlihatkan bagaimana bahasa ditarik ke berbagai arah secara ekstrem: mulai dari kelirisan sunyi, permainan satire urban, penggalian pengalaman banal keseharian, problematisasi filsafat, penebalan warna lokal, pembocoran arsip sejarah, hingga eksperimentasi konseptual yang menguji batas bahasa maupun menggaris ulang kemungkinan puisi itu sendiri.

Dalam melakukan penilaian, Dewan Juri terutama bertumpu pada pengetahuan sastra dan pengalaman panjang membaca puisi, sekaligus mempertimbangkan sejumlah aspek yang secara umum biasa digunakan untuk menilai mutu buku puisi. Landasan penilaian meliputi kekuatan bahasa dan diksi, orisinalitas metafora dan citraan, kesegaran tema dan penggarapannya, kedalaman gagasan atau kompleksitas emosional, eksplorasi bentuk dan teknik, konsistensi estetik dalam keseluruhan buku, serta kontribusi terhadap perkembangan puisi Indonesia kontemporer.

Secara khusus, Dewan Juri terutama mencari buku puisi yang menunjukkan keberanian estetik dalam mengeksplorasi bentuk-bentuk pengungkapan baru. Kami memberi perhatian lebih pada karya yang berusaha keluar dari tradisi perpuisian Indonesia yang selama ini terlalu dikuasai oleh lirisisme, baik liris sunyi maupun liris oratoris. Kami mencari puisi yang memperlakukan bahasa sebagai laboratorium, bukan sekadar medium penyampai amanat atau pelampiasan emosi; karya yang berupaya melakukan terobosan konseptual dengan menantang atau menggeser batasan konvensional puisi. Kami mengapresiasi karya yang bersedia mengambil risiko estetik dengan meninggalkan instrumen puitik yang mapan demi menemukan suara baru.

Pada saat yang bersamaan, Dewan Juri juga menghargai puisi yang memiliki kepekaan emosional dan daya gugah tinggi, termasuk secara politis dalam arti luas. Kami mencari puisi yang dengan intens membangun ungkapan yang bertenaga, memilih bentuk yang tepat untuk pesan yang hendak diguratkan, serta menggerakkan empati atas kondisi manusia. Itulah puisi dengan daya magis bahasa yang menyentuh perasaan, menggetarkan tubuh, dan menggugah kesadaran. Meskipun demikian, puisi tetap harus mampu menjaga jarak estetik sehingga pembaca tidak hanya diajak merasakan, tetapi juga merenungkan kembali cara kita memandang realitas serta mengonstruksi makna.

Lima buku puisi yang masuk Daftar Pendek KSK tahun ini menunjukkan usaha untuk menolak tradisi lapuk lirisisme Indonesia. Meskipun masing-masing menempuh jalan yang berbeda, kesemuanya berikhtiar menemukan suara puitik yang lain.

Ke Arah Museum Revolusi karya Nirwan Dewanto memperlihatkan pencapaian formal yang sangat kokoh. Setiap unsur puisi di buku ini disusun dengan ketelitian seorang perajin bahasa yang memahami secara mendalam arsitektur puisi. Setiap ungkapan dalam puisinya seakan saling mengunci secara presisi. Sebagaimana di buku-buku puisinya yang terdahulu, Nirwan memperluas kemungkinan bentuk puisi-prosa melalui metafora yang padat dan jaringan intertekstualitas yang kaya. Yang berbeda dalam buku ini ialah munculnya unsur biografis sang penyair – sesuatu yang cukup mengejutkan karena Nirwan dikenal sebagai penyair yang berpandangan bahwa puisi merupakan “pelarian dari kepribadian”. Meskipun demikian, secara keseluruhan, obsesi estetiknya tetap konsisten dengan karya-karya terdahulu yang menolak tunduk pada pengaruh lirisisme yang sangat kuat dalam puisi Indonesia. Buku ini memperpanjang perlawanannya terhadap tradisi lirik lewat bentuk puisi yang berciri diskursif secara mencolok. Khususnya, ia terus menjadikan puisi sebagai ruang untuk memikirkan hakikat puisi itu sendiri, menghadirkan metapuisi, sekaligus secara paradoksal menyuarakan “pesan” bahwa puisi tidak dapat direduksi menjadi sekadar penyampai pesan.

Kutu-Kutu Joni karya Julia Gerhani Arungan menyegarkan lirisisme dengan menghadirkan dunia keseharian yang jarang memperoleh perhatian dalam puisi Indonesia. Tema-tema yang tampak remeh, kadang lucu, kadang absurd, diolah menjadi pengalaman puitik melalui bahasa yang lugas, komunikatif, dan memiliki keterbacaan tinggi. Namun, kelugasan itu tidak membuat puisinya dangkal. Di balik kesederhanaan pengucapan, ada kecermatan dalam memilih kata dan membangun suasana. Julia berhasil mengolah kesahajaan menjadi suara yang khas. Nuansa humor dalam puisinya hadir sebagai efek alami: sejumlah puisinya terasa lucu tanpa berusaha melucu. Julia berhasil mengkurasi unsur kelisanan sehari-hari ke dalam bingkai tematik hubungan guru dan murid yang unik, tampil segar tanpa beban harus bergaya puitis. Dengan teknik penyusunan kata yang cerdik, tetapi tetap wajar, pembaca tidak merasa disiasati dengan menu tema keseharian yang dimasak secara piawai.

Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat memberikan pemaknaan baru pada tradisi puisi lirik Indonesia yang berbasis nyanyi sunyi. Jika kesunyian dalam arus utama lirisisme Indonesia berhulu pada keterasingan individu di ranah spasial/sosial, buku puisi ini menjangkarkan kesunyian pada keterasingan kolektif temporal. Bertolak dari rentang sejarah Nusantara sejak abad ke-7 hingga akhir abad ke-20, Ari menghadirkan sejarah bangsa sebagai keping-keping ingatan yang berserakan. Tindakan mengingat sejarah menjadi absurd, berujung pada labirin peristiwa dan citraan yang hampir-hampir tidak menyodorkan pemahaman. Itulah amnesia dalam bentuk keterasingan sebuah bangsa dari sejarahnya sendiri. Sejarah yang banyak diangkat Ari adalah riwayat tentang kehilangan traumatis, cerminan dari amnesia sejarah yang membuat bangsa kehilangan identitasnya. Ari membangun puisi yang mengubah sejarah menjadi pengalaman emosional dan refleksi atas identitas bangsa. Suara kritis puisinya terdengar nyaring di lanskap Indonesia mutakhir, ketika otoritas politik sering memproduksi amnesia kolektif melalui pembungkaman sejarah, manipulasi kurikulum, penghilangan narasi korban, dan sebagainya. Buku ini menyingkapkan bahwa amnesia sejarah bukan sekadar absennya ingatan kolektif, melainkan puncak labirin keterasingan sebuah bangsa. Memadukan bahasa yang sederhana dengan lapisan makna yang kompleks, kritik terhadap sejarah dan kekuasaan dihadirkan bukan sebagai slogan politik yang monodimensional, melainkan sebagai pengalaman puitik yang prismatik.

Pagar Rumahku Berubah Warna karya Ama Gaspar membuktikan bahwa pembaruan puisi tidak selalu harus ditempuh dengan meninggalkan lirisisme, tetapi dapat diselenggarakan dengan cemerlang melalui revitalisasi tradisi lirik itu sendiri. Bertumpu pada bahasa sehari-hari yang bersih, jernih, dan mengalir, Ama mengolah pengalaman domestik yang tampak sederhana menjadi pengalaman puitik yang dalam, kompleks, dan kaya makna. Benda rumah tangga, ruang domestik, memori, dan hubungan interpersonal yang intim diolah menjadi simbol-simbol emosional yang berbicara tentang kehilangan, tetapi juga menyiratkan harapan dan penyembuhan. Kesedihan tidak dipamerkan, hanya diterima perlahan tanpa nada pasrah atau putus asa. Kehilangan tidak muncul sebagai ratapan atau amarah, hanya sebagai getar-getar kecil bergema yang menjalar dari pengucapan lembut. Perubahan-perubahan banal dalam kehidupan sehari-hari pun terjelma menjadi alegori yang hidup dan menyentuh. Diksi yang hemat bersahaja memungkinkan emosi bekerja secara halus untuk menghasilkan puisi-puisi yang memberi bobot lain pada keharuan, tanpa terjebak dalam melankoli dan sentimentalitas. Buku puisi ini berbicara lirih, tetapi kata-katanya bergaung nyaring.

Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra menunjukkan pencarian bentuk pengucapan di luar tradisi lirik dengan bergerak ke wilayah filsafat. Puisi-puisi dalam buku ini seperti ungkapan filosofis yang mengajak berpikir dan menjanjikan pemahaman. Namun, janji pemahaman itu tidak pernah ditepati. Seolah usaha berpikir itu akhirnya sia-sia belaka karena kepastian makna tetap tak bisa dipegang, pemahaman selalu tak dapat diraih. Puisi menjadi ruang untuk memperlihatkan keterbatasan bahasa dalam mengungkapkan makna dan memahami dunia, sekaligus ketidakterbatasan bahasa untuk memberikan makna pada dunia. Melalui puisi yang seperti menyimpan teka-teki, Heru menyindir mereka yang merasa telah memiliki pengetahuan mapan, seraya menunjukkan bahwa setiap usaha memahami sesuatu selalu berhadapan dengan ambiguitas. Menariknya, eksplorasi filosofis itu tetap berpijak pada kesadaran kuat terhadap sejarah puisi Indonesia. Jejak pencapaian para penyair modern pendahulu, tradisi sastra sufi, permainan bunyi, rima, hingga pantun hadir sebagai gema yang diolah kembali menjadi bentuk baru dalam puisi. Heru memperlihatkan kemampuan menggabungkan pemikiran yang kompleks dengan ekonomi kata yang ketat, menghasilkan puisi-puisi yang ringkas tetapi meninggalkan gema panjang. Dalam puisi-puisi Heru yang paling memikat, percik pemikiran filosofis muncul membayang, tetapi kemudian dibuyarkan oleh citraan sekilas, kelebat sesuatu yang kecil, tetapi bekasnya tergurat kuat.

Memilih yang terbaik di antara keragaman suara puitik yang mewarnai Daftar Pendek KSK ini memang tidak mudah. Lebih-lebih karena setiap buku puisi tersebut memiliki kekuatan yang sukar sekali dibuat sebanding satu sama lain, hampir sama susahnya seperti memilih yang terbaik di antara warna merah, hijau, dan biru. Jika keragaman suara itu, berikut ukuran estetika masing-masing, hendak diperbandingkan satu sama lain, maka dapat dikatakan bahwa kita berhadapan dengan sebuah spektrum yang terbentang di antara abstraksi murni dan konkretisasi sepenuhnya, yakni antara puisi yang bercorak diskursif-serebral pada ujung ekstrem yang satu dan puisi yang bercorak afektif-sensoris pada ujung ekstrem yang lain. Dalam spektrum itu, kita dapat mengurutkan mulai dari karya Nirwan Dewanto, Heru Joni Putra, Ari Pahala Hutabarat, Ama Gaspar, hingga akhirnya Julia Gerhani Arungan. Namun, pada akhirnya, puisi yang berhasil adalah puisi yang mampu berbicara pada kedua register itu secara bersamaan, yakni puisi yang mampu mendobrak kebekuan pikiran sembari menggetarkan afek-afek pembaca, puisi yang diskursif tanpa kehilangan ikatannya pada semesta afek dan puisi yang afektif tanpa harus mengosongkan diri dari segala diskursus.

Atas dasar itulah, kami memilih sebagai pemenang KSK kategori puisi tahun ini Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat. Buku puisi ini mampu mempertemukan banyak hal sekaligus: mulai dari sejarah dalam skalanya yang paling kolosal hingga pengalaman personal yang paling privat, mulai dari bentuk sajak naratif dengan kalimat bulat sempurna hingga bentuk fragmentatif yang bekerja dengan lompatan, elipsis, dan non sequitur, selamanya berayun dalam tegangan antara motif ingatan dan pelupaan, dan berhasil menata komposisi dari semua unsur itu ke dalam sebuah buku puisi yang koheren dari segi bentuk maupun tematika. Sang penyair juga berhasil mengoplos keragaman pengaruh dari sejarah (sastra) dunia ke dalam sejarah (sastra) Indonesia sehingga potret Indonesia yang tampil di sini betul-betul mencerminkan keserentakan dari semua sejarah, rakitan dari beragam-ragam pecahan kepribadian. Membaca buku ini adalah seperti membaca sebuah puisi epik yang panjang alih-alih sekadar kumpulan puisi yang kebetulan dijadikan satu buku. Keutuhan yang disangga oleh keragaman unsur itulah, selain variasi bentuk yang terkandung di dalamnya, yang pada akhirnya menuntun kami selaku Dewan Juri untuk memilih Nusantara, Amnesia sebagai yang terbaik di antara lima karya yang baik dalam perhelatan KSK tahun ini.

Buku pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026:

  • Kategori Kumpulan Cerita Pendek diraih oleh Hantu Ulang-alik  karya Ratri Ninditya.
  • Kategori Novel diraih oleh Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal.
  • Kategori Kumpulan Puisi diraih oleh Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat.

Selamat kepada para pemenang.

  

Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Ketua:
Ni Made Purnama Sari

Anggota:
Andina Dwifatma
Arif Bagus Prasetyo
Martin Suryajaya
Saras Dewi


Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Penjurian Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 telah sampai pada penghujung, yakni penentuan pemenang untuk buku kategori Novel, Kumpulan Cerita Pendek, dan Kumpulan Puisi. Setelah melakukan pembacaan secara mendalam dan bertahap, Dewan Juri yang terdiri dari sastrawan serta pemerhati sastra, yaitu Andina Dwifatma, Arif Bagus Prasetyo, Martin Suryajaya, Ni Made Purnama Sari, dan Saras Dewi, mengungkapkan apresiasi bagi para penulis maupun penerbit yang telah mengerahkan kerja-kerja kreatifnya sehingga tahun 2025 terasa semarak dengan hadirnya buku-buku sastra yang bermutu.

Selama proses penilaian tersebut, Dewan Juri mencermati keluasan cakrawala puitik dan naratif, bertumpu pada kekriyaan bahasa, keutuhan konsep artistik, ketajaman gagasan, serta pengerahan kerja kreatif yang memperluas wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas.

“Setiap anggota Dewan Juri sepakat bahwa karya yang masuk memiliki capaian artistik dan pengayaan tematik yang sangat memikat. Dengan caranya tersendiri, setiap penulis berusaha mengisi, mengembangkan, maupun memberi kemungkinan lain dari karya-karya sastra yang telah ada di Indonesia, dan usaha pencarian ini patut untuk dihargai,” ujar Ni Made Purnama Sari.

Karena kualitas karya yang hampir sepadan, diskusi yang mendalam dalam menentukan pemenang pun dilakukan. Ada kalanya argumen dari setiap juri saling melengkapi, dan tidak jarang terjadi silang dialog untuk menelisik kembali pandangan-pandangan personal setiap juri. Pada akhirnya, Dewan Juri berharap karya yang terpilih maupun masuk dalam nominasi akan terus dibaca serta dibincangkan karena semuanya memiliki nilai yang berharga untuk sastra Indonesia.

Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 diraih oleh novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal (Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia), buku kumpulan cerpen Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya (Penerbit baNANA), dan buku kumpulan puisi Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat (Penerbit Lampung Literature).

Andina Dwifatma menyebutkan novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar unggul lewat teknik bercerita yang matang, serta keberhasilan dalam menghadirkan novel polifonik yang berisi aneka suara dan gagasan. “Pengarang dapat mengisahkan suara bermacam-macam karakter di dalamnya tanpa terjebak ke dalam nada yang serupa. Selain itu, pengarang juga berhasil mengolah tema domestik menjadi penjelajahan estetik yang berbobot,” ujarnya.

Sementara itu, buku kumpulan cerpen Hantu Ulang-alik menunjukkan keberanian dalam bereksperimen dengan bahasa urban yang tanpa pretensi. “Karya ini juga memperlihatkan ketajaman perspektif dalam menangkap suara perempuan pekerja serta gaya penceritaan yang mengalir alami,” ungkap Martin Suryajaya.

Arif Bagus Prasetyo memberikan catatan bahwa buku puisi Nusantara, Amnesia berhasil mempertemukan banyak unsur sekaligus, mulai dari sejarah paling kolosal hingga pengalaman privat. “Karya ini dengan gemilang mengolah trauma sejarah menjadi pengalaman puitik yang kaya, mendobrak kebekuan pikiran sembari menggetarkan emosi melalui komposisi yang padu secara bentuk maupun tema,” ujarnya.

“Kepada seluruh penulis dan penerbit yang terus setia merawat napas daya cipta sastra, kami haturkan hormat setinggi-tingginya. Semoga karya-karya terpilih tahun ini makin memantik inspirasi, memperluas imajinasi, dan mendorong kemungkinan kreativitas baru pada masa mendatang,” demikian disampaikan Saras Dewi.

Pratiwi Juliani Ketua Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia sebagai pelaksana menyampaikan bahwa bagi Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia, Kusala Sastra Khatulistiwa merupakan sebuah ikhtiar untuk mempertemukan pembaca dengan buku-buku sastra Indonesia yang bermutu untuk dirayakan dalam keberagaman karya dan terus dibicarakan.

“Setiap tahun, kami ingin agar judul-judul yang lahir dari proses seleksi tidak berhenti sebagai daftar pengumuman semata, melainkan menjadi semacam peta kecil bagi pembaca, atau sebuah rujukan untuk menemukan karya yang bermutu, beragam, dan mampu memperluas cara kita melihat manusia serta dunia di sekitar kita,” jelas Pratiwi.

Pengumuman Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa dilakukan secara daring melalui kanal resmi Kusala Sastra Khatulistiwa pada Minggu, 23 Agustus 2026. Sementara itu menurut Direktur Program Kusala Sastra Khatulistiwa Gema Mawardi, pembacaan laporan pertanggungjawaban Dewan Juri dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 akan dilakukan pada gelaran Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2026, Sabtu, 12 September 2026, di Graha Utama, Gedung A Lantai 3 Kemendikdasmen, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.

“Ini dibedakan dari pelaksanaan KSK tahun-tahun sebelumnya di mana pengumuman dari Dewan Juri dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa dilaksanakan pada hari yang sama. Tahun ini, Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa dilaksanakan setelah sebelumnya para pemenang diumumkan kepada publik,” papar Gema Mawardi.

Tahun ini, juri dipilih oleh para kurator Kusala Sastra Khatulistiwa yaitu Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria.

“Kami berupaya menjaga kemandirian dan independensi Kusala Sastra Khatulistiwa dengan membangun fondasi dukungan yang semakin luas dan beragam. Pada tahun pertama, dukungan pemerintah menjadi bagian penting dalam mengembalikan KSK ke dalam ekosistem sastra Indonesia. Memasuki tahun kedua, tantangannya adalah memastikan keberlanjutan KSK setelah fase pemulihan tersebut, sekaligus memperkuat kelembagaan dan memperluas jejaring yang menopangnya. Karena itu, kami ingin mendorong keterlibatan yang lebih luas, dengan mempertemukan dukungan pemerintah, sektor swasta, lembaga kebudayaan, penerbit, komunitas sastra, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan sastra Indonesia,” jelas Hasan Aspahani, salah seorang kurator Kusala Sastra Khatulistiwa.

Pelaksanaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan LPDP, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Astra, Falcon Pictures, Balai Sastra HB Jassin, dan Komunitas Utan Kayu.

Selamat kepada para pemenang dan sampai jumpa pada gelaran Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.


Sudahkah Anda Baca 5 Kumpulan Cerpen yang Masuk Daftar Pendek Kusala 2026?

Kusala Sastra Khatulistiwa

Gema Mawardi selaku Direktur Program Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) melalui siaran resminya telah mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut memuat lima judul pada masing-masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.

KSK merupakan penghargaan untuk karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Penyelenggaraan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, dan Falcon Pictures.

Untuk kategori Kumpulan cerpen, daftar pendeknya terdiri dari Cara Menghadapi Kehilangan karya Yetti A.KA, Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya, Jose Kecil Dalam Dirimu karya Kaisar Deem, Misi Menggagalkan Doa karya Yoga Palwaguna, dan Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri karya T. Agus Khaidir.

Berikut ini adalah sekilas pembacaan atas isi dari kelima kumpulan cerpe yang masuk dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 kategori Kumpulan Cerpen:

1. Cara Menghadapi Kehilangan – Yetti A.KA. (DIVA Press)

Kumpulan 19 cerpen yang subtil dan elegan tentang berbagai bentuk kehilangan: kematian, luka keluarga, keterasingan, cinta yang tak selesai, dan sunyi. Gaya Yetti yang khas yaitu melankolis tapi tak cengeng, puitis tapi tajam, dengan detail psikologis yang kuat dan dialog internal yang mengendap. Setiap kisah seperti fragmen kehidupan yang mengajak pembaca duduk bersama tokoh dalam ruang hampa penuh kenangan. Kekuatannya terletak pada cara mengolah trauma dan keintiman dengan bahasa bersahaja namun emosional. Buku ini menekankan bahwa kehilangan tak selalu harus disembuhkan, cukup dihadapi. Cocok untuk pembaca yang suka cerpen introspektif dan lirih.

2. Hantu Ulang-alik – Ratri Ninditya (baNANA)

13 cerpen tentang “hantu” emosional yang gentayangan di kehidupan urban: trauma, relasi timpang, duka, paranoia, dan absurditas sehari-hari (misalnya mi instan yang berubah jadi balas dendam pasif-agresif). Bukan horor harfiah, melainkan potret batin orang-orang yang tampak baik-baik saja tapi remuk di dalam. Gaya sederhana, ironis, dan intim; beberapa cerpen eksperimental. Kumpulan cerpen ini mendapat banyak pujian karena kejujuran dan kemampuan menangkap kegelisahan kota tanpa pretensi. Dari review atau resensi para pembaca, banyak yang merasa ceritanya “relate” tapi tidak selalu “wow”, bahkan ada yang menyebutnya kumcer favoritnya. Kumcer ini cocok untuk yang suka cerpen kontemporer sendu dan tajam.

3. Jose Kecil Dalam Dirimu – Kaisar Deem (Bara Books)

Dari 5 kumpulan cerpen yang masuk dalam Daftar Pendek KSK 2026, agaknya Jose Kecil dalam Dirimu dan Cerita-Cerita Lainnya yang terbit Mei 2025 belum banyak mendapatkan ulasan di ruang publik. Dari deskripsi penerbit didapatkan gambaran bahwa kumcer ini layak dikoleksi karena adanya nuansa sastrawi yang menyentuh sisi “kecil” atau rapuh dalam diri manusia. Tema yang muncul di sekitar judul mengarah pada refleksi identitas, luka batin, atau sisi-sisi tersembunyi tokoh. Karena masih relatif baru, rasanya kumcer ini cocok untuk pembaca yang ingin menjelajahi suara baru dalam cerpen Indonesia.

4. Misi Menggagalkan Doa – Yoga Palwaguna (Langgam Pustaka)

13 cerpen yang mencampur realisme sehari-hari dengan elemen distopia/futuristik. Tema utama: moralitas, doa, iman, keluarga, cinta, dan absurditas manusia. Ada cerita tentang anak yang ingin “menggagalkan” doa ibunya yang terlalu saleh, hingga kisah di kapal luar angkasa. Gaya bertutur halus, ironis, penuh empati, dan thought-provoking. Dari banyak ulasan yang ada, beberapa pembaca merasa ceritanya dekat meski absurd, bahkan beberapa judul bisa membuat basah mata. Kumcer ini dianggap segar karena berani mengobrak-abrik perasaan dan moralitas yang biasa diakui. Cocok untuk yang suka cerpen yang mengoyak pikiran sekaligus menyentuh.

5. Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri – T. Agus Khaidir (Buku Kompas)

Kumpulan cerpen dengan suasana sendu dan sunyi. Fokus pada keterasingan, pergulatan batin, dan manusia yang “tidak baik-baik saja” di tengah keramaian. Latar hujan dan malam sering muncul sebagai ruang refleksi. Dengan latar belakang wartawan, T. Agus Khaidir menampilkan kepekaan sosial yang realistis dan emosi tokoh yang hidup. Buku ini masuk Buku Sastra Pilihan Tempo 2025. Kekuatan utamanya terletak pada penggambaran kesepian dan pertanyaan eksistensial yang jujur, tanpa banyak momen bahagia. Cocok untuk pembaca yang suka cerpen lirih, realistis, dan penuh perenungan.

“Selanjutnya,” menurut Gema, “Dewan Juri akan melakukan pembahasan akhir untuk menentukan satu karya terbaik pada setiap kategori yang akan menerima penghargaan tahun ini.”

Tahun ini, penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan penggunaan bahasa, sudut pandang yang dihadirkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi setiap karya terhadap perkembangan sastra Indonesia.

“Pengumuman pemenang dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilaksanakan secara terpisah,” pungkasnya dalam keterangan resmi.**

8 Agustus 2026

Lima Kumpulan Puisi yang Perlu Dibaca Sebelum Diumumkan Sebagai Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa

Kusala Sastra Khatulistiwa

Gema Mawardi, Direktur Program Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI), melalui penyampaian resmi mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut mencakup lima judul pada masing‑masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.

KSK merupakan penghargaan bagi karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Pelaksanaan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, serta Falcon Pictures.

Untuk kategori kumpulan puisi, daftar pendeknya terdiri dari Ke Arah Museum Revolusi karya Nirwan Dewanto, Kutu-Kutu Joni karya Julia F. Gerhani Arungan, Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat, Pagar Rumahku Berubah Warna karya Ama Gaspar, dan Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra.

Berikut sekilas alasan mengapa kumpulan puisi ini perlu dibaca.

1. Ke Arah Museum Revolusi – Nirwan Dewanto (Warning Books)

Kumpulan puisi yang menelusuri jejak sejarah Indonesia—dari pergerakan nasional awal abad ke-20, kemerdekaan yang berdarah, hingga liku-liku ideologis Orde Baru. Nirwan tidak menceritakan sejarah secara kronologis atau didaktis, melainkan menyelami celah-celah sunyi: momen personal dan politis yang terlupakan, tokoh yang muncul sebagai simbol sekaligus hantu revolusi. Bahasa tajam namun elegan. Judulnya sendiri ironis: apakah revolusi sudah selesai dan hanya menjadi artefak museum, atau masih hidup dalam cara kita memaknai keadilan dan kekuasaan? Buku ini mengajak pembaca merasakan sejarah lewat kepekaan seorang penyair.

2. Kutu-Kutu Joni – Julia F. Gerhani Arungan (DIVA Press)

Puisi-puisi yang menggugat kemanusiaan lewat simbol tubuh, ingatan, dan ketimpangan sosial. Manuskripnya sempat menarik perhatian juri Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2023. Bahasa sunyi tapi tajam; beberapa puisi terasa fragmentaris, mencerminkan cara trauma dan ingatan bekerja. Tidak menawarkan keindahan konvensional, melainkan kejujuran emosional dan keberanian menyentuh luka. Cocok bagi pembaca yang mencari puisi dengan keberpihakan sosial kuat dan ruang empati di tengah masyarakat yang bising.

3. Nusantara, Amnesia – Ari Pahala Hutabarat (Lampung Literature)

Puisi-puisi tentang “lupa” sebagai kondisi kolektif. Nusantara tidak digambarkan sebagai simbol persatuan yang utuh, melainkan ruang yang menyimpan konflik, ketimpangan, dan penghilangan. Bahasa singkat, langsung, dan kadang kering—pilihan estetik yang menjaga jarak, bukan memperindah. Puisi-puisi hadir sebagai fragmen peristiwa, suasana, dan simbol yang berdiri sendiri. Buku ini menawarkan persoalan yang tidak selesai: tentang apa yang kita ingat dan apa yang sengaja dilupakan dari sejarah dan identitas.

4. Pagar Rumahku Berubah Warna – Ama Gaspar (Gramedia Pustaka Utama)

Puisi-puisi lirik yang lembut dan visual. Hujan berwarna, pohon akasia yang berubah warna, bunga-bunga tanpa nama, dan seribu kupu-kupu yang mengubah rumah menjadi taman bermain. Bahasa jernih, seperti dongeng sebelum tidur yang tak punya judul—penghiburan yang tak berupaya menjadi puisi. Nuansa intim, penuh imaji warna dan alam, dengan nada yang tenang sekaligus magis. Cocok untuk pembaca yang menyukai puisi yang indah secara visual dan emosional tanpa pretensi berat.

5. Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan – Heru Joni Putra (Teroka Press)

Puisi-puisi yang lahir dari perenungan tentang keterbatasan manusia—keterbatasan pengetahuan, tubuh, dan cara memahami dunia. Ditulis di masa pandemi (meski bukan langsung tentang COVID), dengan pengaruh perjumpaan dengan jemaah surau saat penulis bolak-balik ke kampung halaman. Buku ini menjadi ruang pertanyaan tentang batas-batas yang kita miliki dalam menafsir realitas. Gaya reflektif dan personal, mengajak pembaca merenungkan apa yang bisa dan tidak bisa diketahui.

Menurut Gema, selanjutnya Dewan Juri akan mengadakan diskusi akhir untuk memilih satu karya terbaik di setiap kategori yang akan memperoleh penghargaan tahun ini. Penilaian pada tahun ini memperhatikan penggunaan bahasa, perspektif yang ditampilkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai isu yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi masing‑masing karya terhadap perkembangan sastra Indonesia. Ia menutup dengan menyatakan bahwa pengumuman pemenang serta Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilakukan secara terpisah.**

8 Agustus 2026

5 Novel Daftar Pendek Kusala 2026 yang Wajib Dibaca Sebelum Pemenang Diumumkan

Kusala Sastra Khatulistiwa

Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) telah mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut memuat lima judul pada masing-masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.

Pengumuman itu dibacakan oleh Gema Mawardi selaku Direktur Program dari YRKI. KSK merupakan penghargaan untuk karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Penyelenggaraan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, dan Falcon Pictures.

Untuk kategori novel, daftar pendeknya terdiri dari Alok karya Arie Saptaji, Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal, Katri karya Adeste Adipriyanti, Seakan Bisa Dipisahkan karya Ruhaeni Intan, dan Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen.

Berikut ini adalah sekilas isi dari kelima novel daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 kategori Novel:

1. Alok – Arie Saptaji (POST Press)

Novel ini mengangkat proses duka seorang perempuan (Pratiwi/Pertiwi) atas hilangnya kakaknya, Santoso, yang ditelan Laut Selatan. Cerita memadukan duka, budaya Jawa, spiritualitas, dan elemen gaib (kemampuan menghubungkan dengan dunia tak kasat mata). Gaya bahasa puitis, deskripsi detail, dan alur tenang tapi emosional. Dari banyak review, novel ini dipuji karena kekayaan kosakata dan cara novel ini “memeluk” orang yang berduka, sekaligus menampilkan kekayaan khazanah lokal Indonesia. Novel ini dianggap cocok untuk yang suka cerita introspektif tentang kehilangan dan kepercayaan.

2. Ikhtiar yang Tak Benar-Benar – Nukila Amal (Kepustakaan Populer Gramedia)

Eksperimen naratif Nukila Amal (penulis Cala Ibi) tentang Juna, seorang penulis perfeksionis dan “Raja Diraja dari segala Raja Tunda” yang tak kunjung menyelesaikan novel sejarahnya, serta konflik rumah tangganya dengan istri, Kin. Novel polifonik, penuh monolog internal kacau, satire terhadap proses kreatif, dan permainan bahasa. Menjadi “Buku Prosa Pilihan Tempo 2025”. Gaya eksperimental menuntut fokus, tapi diapresiasi sebagai manifesto kegagalan yang puitis dan kritik terhadap obsesi hasil. Dianggap sesuai atau cocok bagi pembaca yang suka metafiksi dan refleksi tentang menulis.

3. Katri – Adeste Adipriyanti (Kepustakaan Populer Gramedia)

Novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata, tentang Katri, perempuan desa di Klaten yang menjadi korban salah tangkap dan tahanan politik 1965. Ia ditembak saat hamil tujuh bulan, disiksa, dipindah-pindah penjara selama bertahun-tahun, lalu berusaha bertahan hidup. Ditulis dengan empati tinggi, bahasa tegas, dan detail penderitaan yang menyesakkan tanpa dramatisasi berlebihan. Banyak ulasan memuji keteguhan tokoh, kekuatan riset, dan cara novel ini mengingatkan sejarah kelam tanpa propaganda. Debut novel Adeste yang menyentuh dan relevan untuk generasi muda.

4. Seakan Bisa Dipisahkan – Ruhaeni Intan (Kepustakaan Populer Gramedia)

Ini sebenarnya semacam novela ringan tapi emosional tentang Sofia, perempuan muda perantau yang tumbuh dalam keluarga disfungsional: ayah yang cuek/selingkuh dan ibu yang dingin serta keras. Novel ini berfokus pada kompleksitas hubungan ibu-anak, luka masa lalu, dan proses penerimaan. Banyak yang menyebutknya sebagai healing fiction lokal, dengan alur yang menyentuh hati dan akhir terbuka yang memberi ruang refleksi. Dari beberapa review, pembaca merasa ceritanya sedikit tergesa, tapi secara keseluruhan direkomendasikan sebagai bacaan tentang keluarga dan luka yang “tak bisa dipisahkan”.

5. Tersesat Setelah Terlahir Kembali – Yoga Zen (Marjin Kiri)

Novel ini adalah pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023. Mengisahkan seorang lelaki asing (sumando) di tanah Minangkabau yang dipaksa mengikuti tradisi maskulin berburu babi, lalu terjebak obsesi, kegilaan, mitos lokal, dan bayang-bayang sejarah kelam (pembantaian masa lalu). Alur non-linear seperti puzzle, narator yang tak sepenuhnya bisa dipercaya, dan isu-isu sensitif (kesehatan mental, orientasi seksual, kekerasan). Novel ini mendapatkan apresiasi karena keberanian dan kekayaan lokalitas, sekaligus mendapat kritik karena alur yang membingungkan dan penyelesaian yang kurang solid. Novel yang memang membuat pembaca “tersesat”.

Tahun ini, penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan penggunaan bahasa, sudut pandang yang dihadirkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi setiap karya terhadap perkembangan sastra Indonesia.

“Selanjutnya, Dewan Juri akan melakukan pembahasan akhir untuk menentukan satu karya terbaik pada setiap kategori yang akan menerima penghargaan tahun ini. Pengumuman pemenang dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilaksanakan secara terpisah,” kata Gema Mawardi dalam keterangan resminya.**

8 Agustus 2026

Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) merupakan penghargaan bagi karya sastra terbaik yang terbit sepanjang tahun, yang menunjukkan pengerahan kerja kreatif sastrawan Indonesia, pengembangan potensi estetis bahasa Indonesia, serta perluasan wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas kehidupan masyarakat.

Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) menyelenggarakan KSK 2026 dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tahun ini, KSK juga didukung oleh Astra serta kolaborasi dengan Falcon Pictures. Dalam penyelenggaraan KSK, yayasan didampingi tiga orang kurator: Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria yang melaksanakan peran strategis dalam merancang program, mendampingi proses penyelenggaraan, termasuk memilih Dewan Juri.

“Sebelumnya, pada 20 Juni 2026, KSK telah mengumumkan Daftar Panjang yang memuat karya-karya pilihan hasil seleksi awal. Dari daftar tersebut, Dewan Juri melanjutkan pembacaan, pembahasan, serta penilaian secara lebih mendalam sehingga didapatkan Daftar Pendek, yakni lima judul terbaik dari masing-masing kategori Novel, Kumpulan Cerita Pendek, dan Kumpulan Puisi.

Pengumuman Daftar Pendek ini merupakan tahapan penting menjelang penetapan penerima Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Selanjutnya, Dewan Juri akan melakukan pembahasan akhir untuk menentukan satu karya terbaik pada setiap kategori yang akan menerima penghargaan tahun ini. Pengumuman pemenang dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilaksanakan secara terpisah,” demikian disampaikan Direktur Program Kusala Sastra Khatulistiwa Gema Mawardi.

Secara umum, penilaian mempertimbangkan kecakapan penulis dalam mendayagunakan bahasa sebagai medium artistik, kemampuan menghadirkan perspektif yang membuka cara pandang baru terhadap berbagai fenomena kehidupan, serta ketajaman dalam menanggapi persoalan-persoalan yang mengemuka di masyarakat. Selain itu, Dewan Juri juga mencermati sejauh mana setiap karya mampu memperkaya capaian kreatif yang telah ada sekaligus menawarkan kemungkinan-kemungkinan estetik baru yang berpotensi memberi arah bagi perkembangan sastra Indonesia pada masa mendatang.

Melalui pertimbangan tersebut, Daftar Pendek KSK 2026 ditetapkan dengan memberikan perhatian utama pada kualitas kekaryaan dan kekriyaan yang ditawarkan para penulis. Karya-karya yang terpilih diharapkan merepresentasikan capaian artistik yang paling menonjol di antara buku-buku sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun 2025, sekaligus menjadi penanda penting bagi dinamika kesusastraan Indonesia hari ini.

Berikut Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Daftar Pendek Kategori Novel

  1. Alok (Penulis: Arie Saptaji, Penerbit: POST Press)
  2. Ikhtiar yang Tak Benar-Benar (Penulis: Nukila Amal, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  3. Katri (Penulis: Adeste Adipriyanti, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  4. Seakan Bisa Dipisahkan (Penulis: Ruhaeni Intan, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  5. Tersesat Setelah Terlahir Kembali (Penulis: Yoga Zen, Penerbit: Marjin Kiri)

 Daftar Pendek Kategori Kumpulan Cerpen

  1. Cara Menghadapi Kehilangan (Penulis: Yetti A.KA., Penerbit: DIVA Press)
  2. Hantu Ulang-alik (Penulis: Ratri Ninditya, Penerbit: baNANA)
  3. Jose Kecil Dalam Dirimu (Penulis: Kaisar Deem, Penerbit: Bara Books)
  4. Misi Menggagalkan Doa (Penulis: Yoga Palwaguna, Penerbit: Langgam Pustaka)
  5. Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri (Penulis: T. Agus Khaidir, Penerbit: Buku Kompas)

 Daftar Pendek Kategori Kumpulan Puisi

  1. Ke Arah Museum Revolusi (Penulis: Nirwan Dewanto, Penerbit: Warning Books)
  2. Kutu-Kutu Joni (Penulis: Julia F. Gerhani Arungan, Penerbit: DIVA Press)
  3. Nusantara, Amnesia (Penulis: Ari Pahala Hutabarat, Penerbit: Lampung Literature)
  4. Pagar Rumahku Berubah Warna (Penulis: Ama Gaspar, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama)
  5. Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan (Penulis: Heru Joni Putra, Penerbit: Teroka Press)


Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) merupakan penghargaan bagi karya sastra terbaik yang terbit sepanjang tahun, yang menunjukkan pengerahan kerja kreatif sastrawan Indonesia, pengembangan potensi estetis bahasa Indonesia, serta perluasan wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas kehidupan masyarakat. Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) menyelenggarakan KSK 2026 dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia Raya, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dalam penyelenggaraan KSK, yayasan didampingi tiga orang kurator: Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria yang melaksanakan peran strategis dalam merancang program, mendampingi proses penyelenggaraan, termasuk memilih Dewan Juri.

KSK tahun ini telah sampai pada Daftar Panjang, sepuluh judul buku sastra Indonesia yang terbit pertama kali sepanjang tahun 2025 dalam tiga kategori: Novel, Kumpulan Cerita Pendek, dan Kumpulan Puisi. Daftar ini merupakan hasil seleksi tahap pertama yang dilakukan oleh dewan juri. Selanjutnya, karya-karya yang terpilih akan memasuki tahap penilaian berikutnya untuk menentukan Daftar Pendek dan para penerima Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini. Daftar Panjang bukanlah peringkat, melainkan penanda atas karya-karya yang dinilai memiliki pencapaian artistik dan relevansi penting dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Melalui proses penjurian berjenjang, KSK berupaya menghadirkan pembacaan yang cermat dan bertanggung jawab terhadap keragaman praktik kreatif yang hidup dalam sastra Indonesia hari ini.

Catatan Umum Dewan Juri tentang Daftar Panjang KSK 2026

Setelah melalui serangkaian diskusi, Dewan Juri menetapkan Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2026 untuk kategori Novel, Kumpulan Cerita Pendek, dan Puisi. Seluruhnya merupakan karya yang diterbitkan pertama kali dalam kurun tahun 2025.

Mula-mula yang patut diapresiasi adalah kreativitas para penulis serta ketekunan penerbitan buku-buku sastra yang kian menemukan nuansa keberagamannya. Dari karya-karya tersebut, terlihat sebaran tema yang menyentuh aneka lapis persoalan masyarakat, semisal kegetiran kaum urban, terdesaknya kelompok pinggiran, krisis ekologis, pemaknaan ulang sejarah dan makna budaya, serta lain sebagainya. Seluruhnya dikemas dalam pengerahan kerja kreatif yang khas, baik dari sisi berbahasa maupun konsep artistik, menjadikan terbitan buku sastra sepanjang tahun 2025 terasa semarak.

Meskipun menemukan buku-buku yang menarik perhatian, tidak dimungkiri masih terdapat karya-karya yang disayangkan kurang prima penggarapannya. Masalah-masalah dalam kemampuan bercerita maupun kelemahan strategi berbahasa seringkali dijumpai, menunjukkan kerja kepenulisan bukan hanya membutuhkan ketelatenan dan kepekaan, melainkan pula napas mencipta yang panjang.

Dewan Juri juga sangat menghormati kegigihan berbagai institusi yang secara mentradisi memberikan penghargaan terhadap buku-buku sastra di Indonesia. Tentu akan muncul variasi pilihan, bahwa ada sejumlah buku memiliki irisan kurasi yang sama, dan ada pula yang barangkali berbeda. Daftar panjang kali ini sekaligus diniatkan sebagai apresiasi atas keberagaman ekspresi, suara, serta pencarian estetik para penulis sastra di Indonesia, yang semoga dapat turut mendorong perluasan kemungkinan kreativitas di masa mendatang.

Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2026 adalah sebagai berikut:

Kategori Novel

  1. Alok (Penulis: Arie Saptaji, Penerbit: POST Press)
  2. Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit (Penulis: Dewanto Amin Sadono, Penerbit: Rua Aksara)
  3. Ikhtiar yang Tak Benar-Benar (Penulis: Nukila Amal, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  4. Jagat Rajawali (Penulis: Eko Darmoko, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  5. Katri (Penulis: Adeste Adipriyanti, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  6. Koloni (Penulis: Ratih Kumala, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama)
  7. Nyi Sadikem: Sebuah Novel (Penulis: Artie Ahmad, Penerbit: Marjin Kiri)
  8. Seakan Bisa Dipisahkan (Penulis: Ruhaeni Intan, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  9. Seratus Tahun Kebisuan (Penulis: Wawan Kurniawan, Penerbit: DIVA Press)
  10. Tersesat Setelah Terlahir Kembali (Penulis: Yoga Zen, Penerbit: Marjin Kiri)

Kategori Kumpulan Cerita Pendek

  1. Antara Doa dan Debu (Penulis: Jantan Putra Bangsa, Penerbit: Basabasi)
  2. Cara Menghadapi Kehilangan (Penulis: Yetti A.KA., Penerbit: DIVA Press)
  3. Hantu Ulang-alik (Penulis: Ratri Ninditya, Penerbit: baNANA)
  4. Jasad sang Pelacur dan Pemakaman Keduanya (Penulis: Christian Dan Dadi, Penerbit: Dusun Flobamora)
  5. Jose Kecil Dalam Dirimu (Penulis: Kaisar Deem, Penerbit: Bara Books)
  6. Kebaya Merah di Tebing Kanal (Penulis: Martin Aleida, Penerbit: Buku Kompas)
  7. Kucing Bernama Kura-Kura (Penulis: Ab Asmarandana, Penerbit: Langgam Pustaka)
  8. Misi Menggagalkan Doa (Penulis: Yoga Palwaguna, Penerbit: Langgam Pustaka)
  9. Tata Cara Menikmati Kekasih (Penulis: S Permata, Penerbit: Velodrom)
  10. Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri (Penulis: T. Agus Khaidir, Penerbit: Buku Kompas)

Kategori Kumpulan Puisi

  1. Bahasa Pohon-Pohon Tumbang (Penulis: M. Aan Mansyur, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama)
  2. Ke Arah Museum Revolusi (Penulis: Nirwan Dewanto, Penerbit: Warning Books)
  3. Kutu-Kutu Joni (Penulis: Julia F. Gerhani Arungan, Penerbit: DIVA Press)
  4. Melahirkan Ibu (Penulis: Aghnia Tazqiah, Penerbit: Velodrom)
  5. Nusantara, Amnesia (Penulis: Ari Pahala Hutabarat, Penerbit: Lampung Literature)
  6. Pagar Rumahku Berubah Warna (Penulis: Ama Gaspar, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama)
  7. Rubaiyat Den Sastro (Penulis: Sapardi Djoko Damono, Penerbit: Indonesia Tera)
  8. Seberapa Indie (Penulis: Hamzah Muhammad, Penerbit: Warning Books)
  9. Sehelai Bulu Kosmos (Penulis: Alpha Hambally, Penerbit: Mori)
  10. Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan (Penulis: Heru Joni Putra, Penerbit: Teroka Press)

Pada tahap selanjutnya, Dewan Juri akan menetapkan Daftar Pendek yang akan diumumkan dalam waktu mendatang, sebelum akhirnya memilih karya-karya penerima Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Kami mengucapkan selamat kepada seluruh penulis yang masuk dalam Daftar Panjang tahun ini, serta menyampaikan penghargaan kepada para penerbit, pembaca, dan seluruh pihak yang terus menjaga keberlangsungan ekosistem sastra Indonesia.


Sasti Gotama: Dari Tukang Suntik jadi Tukang Tulis

Cerita dari Kusala Kampus

Kusala Sastra Khatulistiwa

Sasti Gotama berpendidikan kemudian berprofesi sebagai dokter. Ia pernah menulis skripsi tentang teknik menyuntik agar tidak sakit. Ironisnya, pasien-pasien di puskesmas memprotesnya dengan menyatakan suntikan yang tidak nyeri dianggap tidak manjur. Selain itu, dia juga punya kisah unik digotong oleh pasien ke UGD, karena pingsan saat memeriksa asam urat dari pasien tersebut.

Pada 2018–2019, rasa nyeri yang menetap membuatnya banyak tergeletak. Di tempat tidur itu, seorang teman sejawat mengirimkan sebuah cerpen pendek, sekitar lima ratus kata. Itulah yang membuatnya, untuk pertama kalinya, bertanya kepada dirinya sendiri, “Kamu tidak bisa menulis seperti ini?”

Dari perjumpaan awal dengan cerpen, lahirlah flash fiction karya pertamanya yang kacau, penuh kesalahan tata bahasa, yang diunggahnya di Facebook. Saat itu, dia menulis bukan untuk menjadi sastrawan, melainkan menjadikannya katarsis, mengalihkan nyeri yang diderita, dan melepaskan beban di benak.

Karena itulah, Dalam pembuka Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, dia menulis bahwa hidup hanyalah upaya untuk mempersedikit kesakitan. Kalimat itu bukan slogan. Itu adalah catatan dari tubuh yang pernah terlalu lama berbaring.

Sasti baru mulai menulis pada tahun 2019. Setiap bulan, dia mengirimkan dua atau lebih cerpen ke media. Yang ditolak, ia unggah di media sosial. Dari sana, kritik pun datang dengan keras: norak, monoton, metafora yang dipaksakan. Ada yang menggunakan kata-kata yang “mencabik-cabik”.

Dia sempat mutung. Sempat ingin berhenti. Namun kritik itu dijadikannya pijakan. “Yang ingin saya kalahkan adalah diri saya sendiri,” ujarnya. Dia terus belajar, bereksperimen dengan bentuk, struktur, diksi. Dia mengikuti kelas menulis. Hingga pada 2020, cerpennya tembus di Kompas.

Dari kumpulan cerpen yang sebelumnya ditolak, lahir Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam—buku yang masuk daftar pendek Tempo dan menjadi juara Sayembara Rasa 2023. Lalu novel Korpus Uterus, yang ditulis dalam dua bulan karena tantangan teman dan sayembara DKJ. Dan akhirnya Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, yang meraih tiga besar Buku Sastra Pilihan Tempo 2024 sebelum menjadi juara Kusala.

Dalam kumpulan cerpen itu, Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, Sasti menyoroti orang-orang yang terpinggirkan, terutama perempuan. Domestikasi digambarkan sebagai harimau yang dipaksa menjadi kucing. Konflik di Maluku Utara tidak dibaca semata sebagai benturan agama, melainkan perebutan tanah. Ada tokoh yang lahir dari epitaf di makam kolonial, ada yang membawa gangguan kepribadian: OCD, NPD, neurosis. Dia memasukkan teori Freud tentang mekanisme pertahanan ego. “Masa kuliah adalah masa riset,” katanya.

Inspirasi datang dari mana saja: pasien, esai Linda Kristanti, film Fight Club, bahkan tulisan di batu nisan. dIa punya “bank premis” yaitu sebuah ruang di mana setiap ide, sekecil apa pun, disimpan. Bahkan yang muncul saat jongkok di toilet.

Di tengah pandemi, dia dihadapkan pada pilihan untuk terus sebagai ASN atau melepaskannya. Ia memilih untuk resign. “Saya sempat limbung, merasa tidak ada,” akunya. Tapi sastra menyelamatkannya. “Dengan sastra, saya merasa ada. Saya mengada.”

Sejak itu ia mengeluarkan tujuh buku dan tujuh terjemahan, menjadi editor, kurator, pengajar. Ia lebih sibuk, tetapi lebih bahagia. “Dulu saya bilang saya tersesat. Sekarang saya bilang saya menemukan jalan yang benar.” Sasti meminjam istilah Simone de Beauvoir: sastra memungkinkannya melampaui diri sendiri. “Bila dulu menulis adalah katarsis untuk melewati nyeri demi nyeri, sekarang dengan sastra saya bisa mengada. Dan saya berharap, dengan Kusala ini, saya akan lebih-lebih lagi melampaui diri saya yang saat ini.”

24 Agustus 2025

Esha Tegar Putra: Puisi Tidak Bisa Dilepaskan dari Hidup

Cerita dari Kusala Kampus

Kusala Sastra Khatulistiwa

Pada malam pengumuman Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, Esha Tegar Putra berada di rumah orang tuanya di Padang. Dia sengaja menyerahkan handphonenya. “Kalau handphone saya berdering sekitar pukul 00.00 atau 00.30, berarti saya menang,” katanya. Banyak bunyi WhatsApp yang datang. Begitulah cara dia mengetahui bahwa Hantu Padang dinobatkan sebagai pemenang kategori kumpulan puisi.

Dia memohon maaf karena tidak hadir di malam itu. Bukan hanya karena tugas, melainkan juga karena perasaan yang “sangat tidak enak”. Sejak tahun 2000-an dia sudah mengenal perjalanan Kusala, pernah beberapa kali bukunya masuk penilaian, dan malam itu dia memilih menyerahkan hasilnya kepada siapa saja yang menang. “Saya tidak akan kecewa,” ujarnya.

Agustus 2025 menandai dua puluh tahun proses kepenulisannya. Semuanya berawal dari satu malam di Fakultas Sastra Universitas Andalas pada 2005: Malam Tadarus Puisi, tradisi menyambut mahasiswa baru. Puisi dibacakan, diteaterkan, didendangkan dari setelah Isya hingga subuh. Satu puisi seniornya, Agus Hermawan, yang berjudul Narasi di 3 Hari, memikatnya hingga sekarang. Puisi tentang wajah Melayu yang tiris, perdamaian yang mungkin hanya ada di ujung jari, dan kota suci yang menyimpan ratapan. “Puisi inilah yang memantik saya untuk pertama kali menulis puisi,” kenangnya.

Sepulang dari acara itu, dia naik ke atap kampus bersama teman-teman, memandang lampu kota Padang dan laut yang masih terlihat jelas. Pagi harinya, dia meminjam komputer teman sekamar dan menulis puisi pertamanya.

Sebelum itu, sastra hampir tidak pernah hadir dalam hidupnya. Dia tumbuh di perkampungan pinggiran Danau Singkarak, anak seorang guru kesenian SMP yang suaranya indah dan gemar menyanyikan lagu-lagu Minangkabau. Halaman rumahnya sering penuh orang yang berlatih menari, menyanyi, dan sandiwara. Kesenian sudah dekat sejak kecil, tetapi sastra tidak. Di SMA, majalah Horison hanya dibaca untuk menggunting sketsa-sketsanya yang bagus.

Selesai SMA tahun 2003, yang ada di kepalanya hanyalah merantau. Seperti banyak teman sebaya di kampungnya, rantau berarti membawa sesuatu pulang—mobil, atau setidaknya sumbangan besar ke masjid. Dia pergi ke Bandung, bekerja di Depot Jamu yang sebenarnya 80 persen menjual alkohol untuk ojek pangkalan. Lalu pindah ke warung nasi di Limbangan Garut sebagai tukang cuci piring dan pengangkut air. Pernah berdagang plastik di Pasar Minggu, menjadi tukang jualan kain di pasar grosir Cipulir dan Tanah Abang, bahkan tukang cabut benang di konveksi Warung Kunci. Semua dijalani dengan kegagalan. “Saya sadar ternyata saya tidak punya bakat untuk dagang,” katanya.

Setelah gagal total, dia memilih pola rantau yang lain: merantau lewat sastra. Dia masuk Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas bukan karena cinta sastra, melainkan karena passing grade-nya paling rendah. Dia ingin kuliah di universitas negeri yang murah. Dua tahun jeda setelah SMA membuatnya merasa tertinggal. Teman-teman sudah bisa menulis cerpen, sementara dia tidak bisa menulis apa-apa. Dia mengejar ketertinggalan itu dengan membaca dan menulis tanpa henti. Tulisan di koran daerah memberinya honor Rp25.000 atau Rp50.000—uang yang berarti pada masa itu—serta kemudahan meminjam buku dari senior dan traktiran dari dosen.

Puncaknya datang tahun 2007, ketika puisinya dimuat di Tempo dan Kompas. Belum pernah ada senior sepuluh tahun di atasnya yang tembus di kedua media itu, kecuali Agus Hermawan, penulis puisi yang memantiknya dua tahun sebelumnya. “Enak juga diapresiasi,” kenangnya. Sejak itu dia semakin rajin mengirim karya dan mulai diundang ke berbagai festival.

Padang menjadi kota kelahiran kedua. Di sanalah cara pikir dan landskap puisinya dibangun. Dia merawat kenangan kecil: jalan di belakang terminal yang kini menjadi plaza, tempat adiknya pernah meraung meminta robot remote control; hotel tempat dia sesekali menginap bersama orang tua; bus yang mangkal di Tarandam. Dia menyisir kembali karya-karya sastra tentang Padang, mendengarkan lagu-lagu Minang, dan mencari jejak sastrawan seperti Idrus yang dimakamkan di kota itu namun kuburannya tak ditemukan. “Padang bagi saya adalah puisi itu sendiri,” ujarnya.

Lalu datang perantauan ulang-alik antara Padang dan Jakarta–Depok. Tubuh di satu kota, pikiran terbelah di dua kota. Peristiwa ini menjadi inti Hantu Padang. Dia menulis tema-tema kecil: anak yang sakit sementara dia tidak di sampingnya, debu yang turun dari plafon kamar kos, suara kipas angin, paku di belakang pintu, jaket kumal tukang ojek, suara kuali yang dipukul spatula. Dia memadukan penglihatan Jakarta dengan rasa bahasa yang dibawa dari Padang. “Saya tidak punya hasrat untuk berpretensi menulis tema-tema besar. Hanya tema-tema tentang saya,” katanya. Dia menerima jika orang menyebut puisinya sebagai biografi pribadi.

Empat kali bukunya masuk penilaian Kusala. Dalam Lipatan Kain daftar pendek 2015, Sarinah daftar panjang 2016, Setelah Gelanggang daftar pendek 2020, dan akhirnya Hantu Padang yang memenangkan. Penghargaan itu bukan tujuan, tetapi membuatnya cukup kuat dan mengantarkan hal-hal baik. Dia menganggapnya sebagai sesuatu yang mesti dijaga.

Di akhir, dia berterima kasih kepada Allah atas liku-liku hidup yang dijadikan puisi, kepada orang tua dan keluarga, kepada kota kelahiran, kota kelahiran kedua, dan kota persinggahan. Juga kepada langgam Minang yang diserap dari dendang hingga lagu modern, dan kepada pembaca yang memberi keyakinan bahwa proses menjalani hidup adalah juga proses menjalani puisi.

Bagi Esha Tegar Putra, segala sesuatu bisa menjadi puisi. Bahkan ketika dia memandang orang di hadapannya, dia sudah memandangnya dengan kacamata puitik. Hidup dan puisi, pada akhirnya, tidak lagi bisa dipisahkan.

24 Agustus 2025

Cicilia Oday: Menulis dengan Kejujuran

Cerita dari Kusala Kampus

Kusala Sastra Khatulistiwa

Berdiri di depan peserta Kusala Kampus, Cicilia Oday tidak mampu menyembunyikan kegugupannya. “Sejujurnya saya sangat gugup karena saya tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak,” katanya. “Kalau disuruh memilih menulis di sebuah ruangan sendirian atau berbicara di depan orang banyak, saya akan memilih yang pertama. Karena saya orang yang suka bersembunyi.”

Dia membayangkan karyanya sebagai gunung es yang mencuat di permukaan laut. Dirinya sendiri adalah bagian dominan yang tersembunyi di bawahnya. Untuk hadir di Jakarta hari itu, dia harus melintasi lautan, pulau-pulau, bahkan perbedaan zona waktu. Namun dia bangga menjadi bagian dari angkatan pertama pemenang yang berkontribusi dalam program baru Kusala Sastra Khatulistiwa.

Sedari kecil dia tidak merasa percaya diri memiliki kriteria untuk menjadi penulis. Masa kecilnya lebih banyak terpapar media visual: sinetron, telenovela, film-film India. Dia sering tidak bisa memilih apa yang dikonsumsi. Namun di situ justru tumbuh benih pencerita. Setiap kali selesai menonton, dia mengulang penggalan adegan di dalam kepala dengan dialog-dialog yang disusun sendiri. Media visual menjadi referensi membangun cerita. Ketika bertemu medium teks, dia langsung terdorong menulis cerpen dengan bahasa yang masih sangat terbatas. “Menulis membantu menjaga kewarasan,” ujarnya. “Gambaran yang tadinya hanya ada di kepala bisa dituangkan ke atas kertas dalam bentuk kata-kata.”

Sayangnya asupan bacaan jarang. Dia iri pada penulis yang familiar dengan buku sejak kecil. “Seandainya masa kecil saya seperti itu, mungkin saya sudah menjadi penulis yang lebih baik. Bahkan mungkin sudah menerima penghargaan ini lebih awal.” Tapi itu hanya mungkin. Motivasi menulisnya bukan sekadar untuk memenangkan penghargaan. Ketika ditanya kenapa menulis, jawabannya sempat kabur. Lalu dia menemukan dua alasan yang lebih jujur: karena tidak bisa menggambar, dan karena mimpi berakting di masa remaja tidak mendapat ruang penyaluran. Kecintaan pada seni peran mentok di ekstrakurikuler teater dan satu project film pendek tingkat kabupaten. “Ketika satu pintu tertutup, maka pintu yang lain akan terbuka. Melalui pintu yang terbuka itulah pertemuan saya dengan dunia sastra dimulai.”

Pernah dia menulis seperti orang yang tidak tahu cara lain untuk hidup. Padahal dia sendirian, tidak berada di lingkungan orang-orang yang juga menulis. Bahan bakarnya datang dari membaca. Di masa muda, kebanyakan bacaan adalah sastra populer terjemahan, ditambah sastra lokal yang, menurutnya, “serius”. Bagi dia waktu itu semua tulisan adalah produk pemikiran yang setara. Cerpen pertamanya yang terbit di Kompas mendapat banyak pujian dan untuk pertama kali dia mendengar kata “surialisme”. Pembaca menganalisis karyanya dengan teori-teori filsafat yang tidak dipahaminya.

“Saya merasa bodoh, merasa malu karena pembaca lebih mengetahui tentang karya kita daripada kita sendiri.” Belakangan dia mengerti: itulah kekuatan alam bawah sadar. Penulis menampilkan gejala yang ada di dalam diri; pembaca yang lebih ahli mengkaji produk batin itu.

Lalu datang fase gelap. Dia tergila-gila pada teknik, terobsesi menemukan gaya sendiri sampai-sampai tidak mau membaca agar tidak terpengaruh. Proses kreatif macet. Dia mengambil jarak, bekerja di kantor pembiayaan. Mengutip Ayu Utami bahwa menulis itu 60 persen membaca, 40 persen menulis, dia pun kembali membaca apa saja, bukan hanya fiksi. Mesin sehebat apa pun tidak bisa jalan tanpa bahan bakar.

Novel pertama yang terbit bukanlah novel pertama yang ditulisnya. Duri dan Kutuk adalah novel kesekian. Draf pertamanya ditulis secara manual di buku harian sambil mengasuh bayi. Benihnya sudah ada sejak masih lajang: tanaman kemboja di rumah orang tua yang wujudnya ganjil, memicu imajinasi tentang tanaman yang bisa bergerak dan berbicara. Semula berbentuk novela pendek. Masuk kompetisi, hanya sampai daftar panjang. Lalu editor Gramedia meminangnya. Karena formatnya tidak memenuhi kriteria, proyek sempat terhenti. Dia memutuskan menulis ulang, bukan sekadar merevisi atau menyunting, melainkan meruntuhkan bangunan lama hingga nyaris serata tanah dan hanya menyisakan sedikit jejak fondasi. Karakter ditambahkan atau dihilangkan, nama diganti, alur dibuat lebih kompleks, konflik diperjelas, bumbu ironi ditambahkan.

“Hasil akhir dari karya memang tidak pernah saya peroleh dengan hanya satu kali usaha menulis,” katanya.

Dia teringat Haruki Murakami: menulis novel adalah pekerjaan yang sangat tidak efisien dan berbelit-belit. Satu gagasan yang bisa diperoleh dalam tiga menit dari sumber lain, di tangan novelis butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Lalu untuk apa merepotkan diri? Karena terkadang yang terpenting bukan apa yang disampaikan, melainkan bagaimana cerita itu dibawakan melalui medium bernama bahasa. Sejalan dengan kredo Sutarji Calzoum Bachri: kata-kata bukan alat untuk mengantarkan pengertian. Kata adalah pengertian itu sendiri.

Semua penulis yang bukunya pernah dibacanya dianggap sebagai guru menulis, terlepas diidolakan atau tidak. Dari mereka dia belajar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pada 2014 dia mengikuti kelas menulis Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Di pertemuan terakhir di sebuah kedai di kompleks Taman Ismail Marzuki, dia membacakan cerpen baru. Ketika menyodorkan buku saku hanya untuk minta tanda tangan Eka Kurniawan, dia mendapat catatan singkat: “Cerpenmu tadi bagus. Mungkin sedikit lebih dingin dengan narator yang sedikit tersembunyi bisa bagus banget.” Waktu itu dia tidak mengerti. Hampir sepuluh tahun kemudian, saat menulis Duri dan Kutuk  dan karya-karya lain, dia menengok kembali catatan yang sudah dibingkai. Akhirnya dia paham. Narator yang tersembunyi, narasi yang lebih dingin, itulah yang dia terapkan.

Kesadaran itu membuatnya merasa kecil: ada orang yang sejak 2014 sudah mengetahui sesuatu yang baru dimengertinya pada 2024. Kesenjangan besar antara seseorang yang sudah khatam karya-karya kanon sejak muda dengan dirinya yang terlambat mengenal sastra. Namun dari situ juga datang bahan bakar: membaca ulasan The Vegetarian di blog Eka Kurniawan mendorongnya menulis ulang draf Duri dan Kutuk.

Terhadap pertanyaan tentang alam bawah sadar ketika menulis, Cicilia Oday menjawab, “Kita menulis jujur saja. Semakin kita jujur pada diri sendiri ketika menulis, semakin alam bawah sadar itu bisa diakses.” Tidak perlu berpretensi hebat. Tidak perlu merasa berbakat. Jujur saja.

Lantas kalau disuruh memilih lagi antara menulis sendirian di sebuah ruangan atau berdiri di depan orang banyak, jawabannya sudah berubah. “Mungkin saya bisa pilih kedua-duanya. Mungkin saya tidak harus bersembunyi. Mungkin saya bisa berdiri bersandingan dengan karya saya sendiri.”

24 Agustus 2025