Sudahkah Anda Baca 5 Kumpulan Cerpen yang Masuk Daftar Pendek Kusala 2026?
Month: Agustus 2026

Gema Mawardi selaku Direktur Program Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) melalui siaran resminya telah mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut memuat lima judul pada masing-masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.
KSK merupakan penghargaan untuk karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Penyelenggaraan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, dan Falcon Pictures.
Untuk kategori Kumpulan cerpen, daftar pendeknya terdiri dari Cara Menghadapi Kehilangan karya Yetti A.KA, Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya, Jose Kecil Dalam Dirimu karya Kaisar Deem, Misi Menggagalkan Doa karya Yoga Palwaguna, dan Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri karya T. Agus Khaidir.
Berikut ini adalah sekilas pembacaan atas isi dari kelima kumpulan cerpe yang masuk dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 kategori Kumpulan Cerpen:
1. Cara Menghadapi Kehilangan – Yetti A.KA. (DIVA Press)
Kumpulan 19 cerpen yang subtil dan elegan tentang berbagai bentuk kehilangan: kematian, luka keluarga, keterasingan, cinta yang tak selesai, dan sunyi. Gaya Yetti yang khas yaitu melankolis tapi tak cengeng, puitis tapi tajam, dengan detail psikologis yang kuat dan dialog internal yang mengendap. Setiap kisah seperti fragmen kehidupan yang mengajak pembaca duduk bersama tokoh dalam ruang hampa penuh kenangan. Kekuatannya terletak pada cara mengolah trauma dan keintiman dengan bahasa bersahaja namun emosional. Buku ini menekankan bahwa kehilangan tak selalu harus disembuhkan, cukup dihadapi. Cocok untuk pembaca yang suka cerpen introspektif dan lirih.
2. Hantu Ulang-alik – Ratri Ninditya (baNANA)
13 cerpen tentang “hantu” emosional yang gentayangan di kehidupan urban: trauma, relasi timpang, duka, paranoia, dan absurditas sehari-hari (misalnya mi instan yang berubah jadi balas dendam pasif-agresif). Bukan horor harfiah, melainkan potret batin orang-orang yang tampak baik-baik saja tapi remuk di dalam. Gaya sederhana, ironis, dan intim; beberapa cerpen eksperimental. Kumpulan cerpen ini mendapat banyak pujian karena kejujuran dan kemampuan menangkap kegelisahan kota tanpa pretensi. Dari review atau resensi para pembaca, banyak yang merasa ceritanya “relate” tapi tidak selalu “wow”, bahkan ada yang menyebutnya kumcer favoritnya. Kumcer ini cocok untuk yang suka cerpen kontemporer sendu dan tajam.
3. Jose Kecil Dalam Dirimu – Kaisar Deem (Bara Books)
Dari 5 kumpulan cerpen yang masuk dalam Daftar Pendek KSK 2026, agaknya Jose Kecil dalam Dirimu dan Cerita-Cerita Lainnya yang terbit Mei 2025 belum banyak mendapatkan ulasan di ruang publik. Dari deskripsi penerbit didapatkan gambaran bahwa kumcer ini layak dikoleksi karena adanya nuansa sastrawi yang menyentuh sisi “kecil” atau rapuh dalam diri manusia. Tema yang muncul di sekitar judul mengarah pada refleksi identitas, luka batin, atau sisi-sisi tersembunyi tokoh. Karena masih relatif baru, rasanya kumcer ini cocok untuk pembaca yang ingin menjelajahi suara baru dalam cerpen Indonesia.
4. Misi Menggagalkan Doa – Yoga Palwaguna (Langgam Pustaka)
13 cerpen yang mencampur realisme sehari-hari dengan elemen distopia/futuristik. Tema utama: moralitas, doa, iman, keluarga, cinta, dan absurditas manusia. Ada cerita tentang anak yang ingin “menggagalkan” doa ibunya yang terlalu saleh, hingga kisah di kapal luar angkasa. Gaya bertutur halus, ironis, penuh empati, dan thought-provoking. Dari banyak ulasan yang ada, beberapa pembaca merasa ceritanya dekat meski absurd, bahkan beberapa judul bisa membuat basah mata. Kumcer ini dianggap segar karena berani mengobrak-abrik perasaan dan moralitas yang biasa diakui. Cocok untuk yang suka cerpen yang mengoyak pikiran sekaligus menyentuh.
5. Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri – T. Agus Khaidir (Buku Kompas)
Kumpulan cerpen dengan suasana sendu dan sunyi. Fokus pada keterasingan, pergulatan batin, dan manusia yang “tidak baik-baik saja” di tengah keramaian. Latar hujan dan malam sering muncul sebagai ruang refleksi. Dengan latar belakang wartawan, T. Agus Khaidir menampilkan kepekaan sosial yang realistis dan emosi tokoh yang hidup. Buku ini masuk Buku Sastra Pilihan Tempo 2025. Kekuatan utamanya terletak pada penggambaran kesepian dan pertanyaan eksistensial yang jujur, tanpa banyak momen bahagia. Cocok untuk pembaca yang suka cerpen lirih, realistis, dan penuh perenungan.
“Selanjutnya,” menurut Gema, “Dewan Juri akan melakukan pembahasan akhir untuk menentukan satu karya terbaik pada setiap kategori yang akan menerima penghargaan tahun ini.”
Tahun ini, penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan penggunaan bahasa, sudut pandang yang dihadirkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi setiap karya terhadap perkembangan sastra Indonesia.
“Pengumuman pemenang dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilaksanakan secara terpisah,” pungkasnya dalam keterangan resmi.**
Lima Kumpulan Puisi yang Perlu Dibaca Sebelum Diumumkan Sebagai Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa
Month: Agustus 2026

Gema Mawardi, Direktur Program Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI), melalui penyampaian resmi mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut mencakup lima judul pada masing‑masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.
KSK merupakan penghargaan bagi karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Pelaksanaan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, serta Falcon Pictures.
Untuk kategori kumpulan puisi, daftar pendeknya terdiri dari Ke Arah Museum Revolusi karya Nirwan Dewanto, Kutu-Kutu Joni karya Julia F. Gerhani Arungan, Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat, Pagar Rumahku Berubah Warna karya Ama Gaspar, dan Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra.
Berikut sekilas alasan mengapa kumpulan puisi ini perlu dibaca.
1. Ke Arah Museum Revolusi – Nirwan Dewanto (Warning Books)
Kumpulan puisi yang menelusuri jejak sejarah Indonesia—dari pergerakan nasional awal abad ke-20, kemerdekaan yang berdarah, hingga liku-liku ideologis Orde Baru. Nirwan tidak menceritakan sejarah secara kronologis atau didaktis, melainkan menyelami celah-celah sunyi: momen personal dan politis yang terlupakan, tokoh yang muncul sebagai simbol sekaligus hantu revolusi. Bahasa tajam namun elegan. Judulnya sendiri ironis: apakah revolusi sudah selesai dan hanya menjadi artefak museum, atau masih hidup dalam cara kita memaknai keadilan dan kekuasaan? Buku ini mengajak pembaca merasakan sejarah lewat kepekaan seorang penyair.
2. Kutu-Kutu Joni – Julia F. Gerhani Arungan (DIVA Press)
Puisi-puisi yang menggugat kemanusiaan lewat simbol tubuh, ingatan, dan ketimpangan sosial. Manuskripnya sempat menarik perhatian juri Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2023. Bahasa sunyi tapi tajam; beberapa puisi terasa fragmentaris, mencerminkan cara trauma dan ingatan bekerja. Tidak menawarkan keindahan konvensional, melainkan kejujuran emosional dan keberanian menyentuh luka. Cocok bagi pembaca yang mencari puisi dengan keberpihakan sosial kuat dan ruang empati di tengah masyarakat yang bising.
3. Nusantara, Amnesia – Ari Pahala Hutabarat (Lampung Literature)
Puisi-puisi tentang “lupa” sebagai kondisi kolektif. Nusantara tidak digambarkan sebagai simbol persatuan yang utuh, melainkan ruang yang menyimpan konflik, ketimpangan, dan penghilangan. Bahasa singkat, langsung, dan kadang kering—pilihan estetik yang menjaga jarak, bukan memperindah. Puisi-puisi hadir sebagai fragmen peristiwa, suasana, dan simbol yang berdiri sendiri. Buku ini menawarkan persoalan yang tidak selesai: tentang apa yang kita ingat dan apa yang sengaja dilupakan dari sejarah dan identitas.
4. Pagar Rumahku Berubah Warna – Ama Gaspar (Gramedia Pustaka Utama)
Puisi-puisi lirik yang lembut dan visual. Hujan berwarna, pohon akasia yang berubah warna, bunga-bunga tanpa nama, dan seribu kupu-kupu yang mengubah rumah menjadi taman bermain. Bahasa jernih, seperti dongeng sebelum tidur yang tak punya judul—penghiburan yang tak berupaya menjadi puisi. Nuansa intim, penuh imaji warna dan alam, dengan nada yang tenang sekaligus magis. Cocok untuk pembaca yang menyukai puisi yang indah secara visual dan emosional tanpa pretensi berat.
5. Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan – Heru Joni Putra (Teroka Press)
Puisi-puisi yang lahir dari perenungan tentang keterbatasan manusia—keterbatasan pengetahuan, tubuh, dan cara memahami dunia. Ditulis di masa pandemi (meski bukan langsung tentang COVID), dengan pengaruh perjumpaan dengan jemaah surau saat penulis bolak-balik ke kampung halaman. Buku ini menjadi ruang pertanyaan tentang batas-batas yang kita miliki dalam menafsir realitas. Gaya reflektif dan personal, mengajak pembaca merenungkan apa yang bisa dan tidak bisa diketahui.
Menurut Gema, selanjutnya Dewan Juri akan mengadakan diskusi akhir untuk memilih satu karya terbaik di setiap kategori yang akan memperoleh penghargaan tahun ini. Penilaian pada tahun ini memperhatikan penggunaan bahasa, perspektif yang ditampilkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai isu yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi masing‑masing karya terhadap perkembangan sastra Indonesia. Ia menutup dengan menyatakan bahwa pengumuman pemenang serta Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilakukan secara terpisah.**
5 Novel Daftar Pendek Kusala 2026 yang Wajib Dibaca Sebelum Pemenang Diumumkan
Month: Agustus 2026

Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) telah mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut memuat lima judul pada masing-masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.
Pengumuman itu dibacakan oleh Gema Mawardi selaku Direktur Program dari YRKI. KSK merupakan penghargaan untuk karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Penyelenggaraan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, dan Falcon Pictures.
Untuk kategori novel, daftar pendeknya terdiri dari Alok karya Arie Saptaji, Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal, Katri karya Adeste Adipriyanti, Seakan Bisa Dipisahkan karya Ruhaeni Intan, dan Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen.
Berikut ini adalah sekilas isi dari kelima novel daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 kategori Novel:
1. Alok – Arie Saptaji (POST Press)
Novel ini mengangkat proses duka seorang perempuan (Pratiwi/Pertiwi) atas hilangnya kakaknya, Santoso, yang ditelan Laut Selatan. Cerita memadukan duka, budaya Jawa, spiritualitas, dan elemen gaib (kemampuan menghubungkan dengan dunia tak kasat mata). Gaya bahasa puitis, deskripsi detail, dan alur tenang tapi emosional. Dari banyak review, novel ini dipuji karena kekayaan kosakata dan cara novel ini “memeluk” orang yang berduka, sekaligus menampilkan kekayaan khazanah lokal Indonesia. Novel ini dianggap cocok untuk yang suka cerita introspektif tentang kehilangan dan kepercayaan.
2. Ikhtiar yang Tak Benar-Benar – Nukila Amal (Kepustakaan Populer Gramedia)
Eksperimen naratif Nukila Amal (penulis Cala Ibi) tentang Juna, seorang penulis perfeksionis dan “Raja Diraja dari segala Raja Tunda” yang tak kunjung menyelesaikan novel sejarahnya, serta konflik rumah tangganya dengan istri, Kin. Novel polifonik, penuh monolog internal kacau, satire terhadap proses kreatif, dan permainan bahasa. Menjadi “Buku Prosa Pilihan Tempo 2025”. Gaya eksperimental menuntut fokus, tapi diapresiasi sebagai manifesto kegagalan yang puitis dan kritik terhadap obsesi hasil. Dianggap sesuai atau cocok bagi pembaca yang suka metafiksi dan refleksi tentang menulis.
3. Katri – Adeste Adipriyanti (Kepustakaan Populer Gramedia)
Novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata, tentang Katri, perempuan desa di Klaten yang menjadi korban salah tangkap dan tahanan politik 1965. Ia ditembak saat hamil tujuh bulan, disiksa, dipindah-pindah penjara selama bertahun-tahun, lalu berusaha bertahan hidup. Ditulis dengan empati tinggi, bahasa tegas, dan detail penderitaan yang menyesakkan tanpa dramatisasi berlebihan. Banyak ulasan memuji keteguhan tokoh, kekuatan riset, dan cara novel ini mengingatkan sejarah kelam tanpa propaganda. Debut novel Adeste yang menyentuh dan relevan untuk generasi muda.
4. Seakan Bisa Dipisahkan – Ruhaeni Intan (Kepustakaan Populer Gramedia)
Ini sebenarnya semacam novela ringan tapi emosional tentang Sofia, perempuan muda perantau yang tumbuh dalam keluarga disfungsional: ayah yang cuek/selingkuh dan ibu yang dingin serta keras. Novel ini berfokus pada kompleksitas hubungan ibu-anak, luka masa lalu, dan proses penerimaan. Banyak yang menyebutknya sebagai healing fiction lokal, dengan alur yang menyentuh hati dan akhir terbuka yang memberi ruang refleksi. Dari beberapa review, pembaca merasa ceritanya sedikit tergesa, tapi secara keseluruhan direkomendasikan sebagai bacaan tentang keluarga dan luka yang “tak bisa dipisahkan”.
5. Tersesat Setelah Terlahir Kembali – Yoga Zen (Marjin Kiri)
Novel ini adalah pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023. Mengisahkan seorang lelaki asing (sumando) di tanah Minangkabau yang dipaksa mengikuti tradisi maskulin berburu babi, lalu terjebak obsesi, kegilaan, mitos lokal, dan bayang-bayang sejarah kelam (pembantaian masa lalu). Alur non-linear seperti puzzle, narator yang tak sepenuhnya bisa dipercaya, dan isu-isu sensitif (kesehatan mental, orientasi seksual, kekerasan). Novel ini mendapatkan apresiasi karena keberanian dan kekayaan lokalitas, sekaligus mendapat kritik karena alur yang membingungkan dan penyelesaian yang kurang solid. Novel yang memang membuat pembaca “tersesat”.
Tahun ini, penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan penggunaan bahasa, sudut pandang yang dihadirkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi setiap karya terhadap perkembangan sastra Indonesia.
“Selanjutnya, Dewan Juri akan melakukan pembahasan akhir untuk menentukan satu karya terbaik pada setiap kategori yang akan menerima penghargaan tahun ini. Pengumuman pemenang dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilaksanakan secara terpisah,” kata Gema Mawardi dalam keterangan resminya.**
















