Sudahkah Anda Baca 5 Kumpulan Cerpen yang Masuk Daftar Pendek Kusala 2026?

Berita

Gema Mawardi selaku Direktur Program Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) melalui siaran resminya telah mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut memuat lima judul pada masing-masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.

KSK merupakan penghargaan untuk karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Penyelenggaraan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, dan Falcon Pictures.

Untuk kategori Kumpulan cerpen, daftar pendeknya terdiri dari Cara Menghadapi Kehilangan karya Yetti A.KA, Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya, Jose Kecil Dalam Dirimu karya Kaisar Deem, Misi Menggagalkan Doa karya Yoga Palwaguna, dan Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri karya T. Agus Khaidir.

Berikut ini adalah sekilas pembacaan atas isi dari kelima kumpulan cerpe yang masuk dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 kategori Kumpulan Cerpen:

1. Cara Menghadapi Kehilangan – Yetti A.KA. (DIVA Press)

Kumpulan 19 cerpen yang subtil dan elegan tentang berbagai bentuk kehilangan: kematian, luka keluarga, keterasingan, cinta yang tak selesai, dan sunyi. Gaya Yetti yang khas yaitu melankolis tapi tak cengeng, puitis tapi tajam, dengan detail psikologis yang kuat dan dialog internal yang mengendap. Setiap kisah seperti fragmen kehidupan yang mengajak pembaca duduk bersama tokoh dalam ruang hampa penuh kenangan. Kekuatannya terletak pada cara mengolah trauma dan keintiman dengan bahasa bersahaja namun emosional. Buku ini menekankan bahwa kehilangan tak selalu harus disembuhkan, cukup dihadapi. Cocok untuk pembaca yang suka cerpen introspektif dan lirih.

2. Hantu Ulang-alik – Ratri Ninditya (baNANA)

13 cerpen tentang “hantu” emosional yang gentayangan di kehidupan urban: trauma, relasi timpang, duka, paranoia, dan absurditas sehari-hari (misalnya mi instan yang berubah jadi balas dendam pasif-agresif). Bukan horor harfiah, melainkan potret batin orang-orang yang tampak baik-baik saja tapi remuk di dalam. Gaya sederhana, ironis, dan intim; beberapa cerpen eksperimental. Kumpulan cerpen ini mendapat banyak pujian karena kejujuran dan kemampuan menangkap kegelisahan kota tanpa pretensi. Dari review atau resensi para pembaca, banyak yang merasa ceritanya “relate” tapi tidak selalu “wow”, bahkan ada yang menyebutnya kumcer favoritnya. Kumcer ini cocok untuk yang suka cerpen kontemporer sendu dan tajam.

3. Jose Kecil Dalam Dirimu – Kaisar Deem (Bara Books)

Dari 5 kumpulan cerpen yang masuk dalam Daftar Pendek KSK 2026, agaknya Jose Kecil dalam Dirimu dan Cerita-Cerita Lainnya yang terbit Mei 2025 belum banyak mendapatkan ulasan di ruang publik. Dari deskripsi penerbit didapatkan gambaran bahwa kumcer ini layak dikoleksi karena adanya nuansa sastrawi yang menyentuh sisi “kecil” atau rapuh dalam diri manusia. Tema yang muncul di sekitar judul mengarah pada refleksi identitas, luka batin, atau sisi-sisi tersembunyi tokoh. Karena masih relatif baru, rasanya kumcer ini cocok untuk pembaca yang ingin menjelajahi suara baru dalam cerpen Indonesia.

4. Misi Menggagalkan Doa – Yoga Palwaguna (Langgam Pustaka)

13 cerpen yang mencampur realisme sehari-hari dengan elemen distopia/futuristik. Tema utama: moralitas, doa, iman, keluarga, cinta, dan absurditas manusia. Ada cerita tentang anak yang ingin “menggagalkan” doa ibunya yang terlalu saleh, hingga kisah di kapal luar angkasa. Gaya bertutur halus, ironis, penuh empati, dan thought-provoking. Dari banyak ulasan yang ada, beberapa pembaca merasa ceritanya dekat meski absurd, bahkan beberapa judul bisa membuat basah mata. Kumcer ini dianggap segar karena berani mengobrak-abrik perasaan dan moralitas yang biasa diakui. Cocok untuk yang suka cerpen yang mengoyak pikiran sekaligus menyentuh.

5. Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri – T. Agus Khaidir (Buku Kompas)

Kumpulan cerpen dengan suasana sendu dan sunyi. Fokus pada keterasingan, pergulatan batin, dan manusia yang “tidak baik-baik saja” di tengah keramaian. Latar hujan dan malam sering muncul sebagai ruang refleksi. Dengan latar belakang wartawan, T. Agus Khaidir menampilkan kepekaan sosial yang realistis dan emosi tokoh yang hidup. Buku ini masuk Buku Sastra Pilihan Tempo 2025. Kekuatan utamanya terletak pada penggambaran kesepian dan pertanyaan eksistensial yang jujur, tanpa banyak momen bahagia. Cocok untuk pembaca yang suka cerpen lirih, realistis, dan penuh perenungan.

“Selanjutnya,” menurut Gema, “Dewan Juri akan melakukan pembahasan akhir untuk menentukan satu karya terbaik pada setiap kategori yang akan menerima penghargaan tahun ini.”

Tahun ini, penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan penggunaan bahasa, sudut pandang yang dihadirkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi setiap karya terhadap perkembangan sastra Indonesia.

“Pengumuman pemenang dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilaksanakan secara terpisah,” pungkasnya dalam keterangan resmi.**

8 Agustus 2026

Lima Kumpulan Puisi yang Perlu Dibaca Sebelum Diumumkan Sebagai Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa

Berita

Gema Mawardi, Direktur Program Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI), melalui penyampaian resmi mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut mencakup lima judul pada masing‑masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.

KSK merupakan penghargaan bagi karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Pelaksanaan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, serta Falcon Pictures.

Untuk kategori kumpulan puisi, daftar pendeknya terdiri dari Ke Arah Museum Revolusi karya Nirwan Dewanto, Kutu-Kutu Joni karya Julia F. Gerhani Arungan, Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat, Pagar Rumahku Berubah Warna karya Ama Gaspar, dan Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra.

Berikut sekilas alasan mengapa kumpulan puisi ini perlu dibaca.

1. Ke Arah Museum Revolusi – Nirwan Dewanto (Warning Books)

Kumpulan puisi yang menelusuri jejak sejarah Indonesia—dari pergerakan nasional awal abad ke-20, kemerdekaan yang berdarah, hingga liku-liku ideologis Orde Baru. Nirwan tidak menceritakan sejarah secara kronologis atau didaktis, melainkan menyelami celah-celah sunyi: momen personal dan politis yang terlupakan, tokoh yang muncul sebagai simbol sekaligus hantu revolusi. Bahasa tajam namun elegan. Judulnya sendiri ironis: apakah revolusi sudah selesai dan hanya menjadi artefak museum, atau masih hidup dalam cara kita memaknai keadilan dan kekuasaan? Buku ini mengajak pembaca merasakan sejarah lewat kepekaan seorang penyair.

2. Kutu-Kutu Joni – Julia F. Gerhani Arungan (DIVA Press)

Puisi-puisi yang menggugat kemanusiaan lewat simbol tubuh, ingatan, dan ketimpangan sosial. Manuskripnya sempat menarik perhatian juri Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2023. Bahasa sunyi tapi tajam; beberapa puisi terasa fragmentaris, mencerminkan cara trauma dan ingatan bekerja. Tidak menawarkan keindahan konvensional, melainkan kejujuran emosional dan keberanian menyentuh luka. Cocok bagi pembaca yang mencari puisi dengan keberpihakan sosial kuat dan ruang empati di tengah masyarakat yang bising.

3. Nusantara, Amnesia – Ari Pahala Hutabarat (Lampung Literature)

Puisi-puisi tentang “lupa” sebagai kondisi kolektif. Nusantara tidak digambarkan sebagai simbol persatuan yang utuh, melainkan ruang yang menyimpan konflik, ketimpangan, dan penghilangan. Bahasa singkat, langsung, dan kadang kering—pilihan estetik yang menjaga jarak, bukan memperindah. Puisi-puisi hadir sebagai fragmen peristiwa, suasana, dan simbol yang berdiri sendiri. Buku ini menawarkan persoalan yang tidak selesai: tentang apa yang kita ingat dan apa yang sengaja dilupakan dari sejarah dan identitas.

4. Pagar Rumahku Berubah Warna – Ama Gaspar (Gramedia Pustaka Utama)

Puisi-puisi lirik yang lembut dan visual. Hujan berwarna, pohon akasia yang berubah warna, bunga-bunga tanpa nama, dan seribu kupu-kupu yang mengubah rumah menjadi taman bermain. Bahasa jernih, seperti dongeng sebelum tidur yang tak punya judul—penghiburan yang tak berupaya menjadi puisi. Nuansa intim, penuh imaji warna dan alam, dengan nada yang tenang sekaligus magis. Cocok untuk pembaca yang menyukai puisi yang indah secara visual dan emosional tanpa pretensi berat.

5. Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan – Heru Joni Putra (Teroka Press)

Puisi-puisi yang lahir dari perenungan tentang keterbatasan manusia—keterbatasan pengetahuan, tubuh, dan cara memahami dunia. Ditulis di masa pandemi (meski bukan langsung tentang COVID), dengan pengaruh perjumpaan dengan jemaah surau saat penulis bolak-balik ke kampung halaman. Buku ini menjadi ruang pertanyaan tentang batas-batas yang kita miliki dalam menafsir realitas. Gaya reflektif dan personal, mengajak pembaca merenungkan apa yang bisa dan tidak bisa diketahui.

Menurut Gema, selanjutnya Dewan Juri akan mengadakan diskusi akhir untuk memilih satu karya terbaik di setiap kategori yang akan memperoleh penghargaan tahun ini. Penilaian pada tahun ini memperhatikan penggunaan bahasa, perspektif yang ditampilkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai isu yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi masing‑masing karya terhadap perkembangan sastra Indonesia. Ia menutup dengan menyatakan bahwa pengumuman pemenang serta Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilakukan secara terpisah.**

8 Agustus 2026

5 Novel Daftar Pendek Kusala 2026 yang Wajib Dibaca Sebelum Pemenang Diumumkan

Berita

Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) telah mengumumkan daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Daftar tersebut memuat lima judul pada masing-masing kategori novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi.

Pengumuman itu dibacakan oleh Gema Mawardi selaku Direktur Program dari YRKI. KSK merupakan penghargaan untuk karya sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun. Penyelenggaraan KSK 2026 didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Astra, dan Falcon Pictures.

Untuk kategori novel, daftar pendeknya terdiri dari Alok karya Arie Saptaji, Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal, Katri karya Adeste Adipriyanti, Seakan Bisa Dipisahkan karya Ruhaeni Intan, dan Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen.

Berikut ini adalah sekilas isi dari kelima novel daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 kategori Novel:

1. Alok – Arie Saptaji (POST Press)

Novel ini mengangkat proses duka seorang perempuan (Pratiwi/Pertiwi) atas hilangnya kakaknya, Santoso, yang ditelan Laut Selatan. Cerita memadukan duka, budaya Jawa, spiritualitas, dan elemen gaib (kemampuan menghubungkan dengan dunia tak kasat mata). Gaya bahasa puitis, deskripsi detail, dan alur tenang tapi emosional. Dari banyak review, novel ini dipuji karena kekayaan kosakata dan cara novel ini “memeluk” orang yang berduka, sekaligus menampilkan kekayaan khazanah lokal Indonesia. Novel ini dianggap cocok untuk yang suka cerita introspektif tentang kehilangan dan kepercayaan.

2. Ikhtiar yang Tak Benar-Benar – Nukila Amal (Kepustakaan Populer Gramedia)

Eksperimen naratif Nukila Amal (penulis Cala Ibi) tentang Juna, seorang penulis perfeksionis dan “Raja Diraja dari segala Raja Tunda” yang tak kunjung menyelesaikan novel sejarahnya, serta konflik rumah tangganya dengan istri, Kin. Novel polifonik, penuh monolog internal kacau, satire terhadap proses kreatif, dan permainan bahasa. Menjadi “Buku Prosa Pilihan Tempo 2025”. Gaya eksperimental menuntut fokus, tapi diapresiasi sebagai manifesto kegagalan yang puitis dan kritik terhadap obsesi hasil. Dianggap sesuai atau cocok bagi pembaca yang suka metafiksi dan refleksi tentang menulis.

3. Katri – Adeste Adipriyanti (Kepustakaan Populer Gramedia)

Novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata, tentang Katri, perempuan desa di Klaten yang menjadi korban salah tangkap dan tahanan politik 1965. Ia ditembak saat hamil tujuh bulan, disiksa, dipindah-pindah penjara selama bertahun-tahun, lalu berusaha bertahan hidup. Ditulis dengan empati tinggi, bahasa tegas, dan detail penderitaan yang menyesakkan tanpa dramatisasi berlebihan. Banyak ulasan memuji keteguhan tokoh, kekuatan riset, dan cara novel ini mengingatkan sejarah kelam tanpa propaganda. Debut novel Adeste yang menyentuh dan relevan untuk generasi muda.

4. Seakan Bisa Dipisahkan – Ruhaeni Intan (Kepustakaan Populer Gramedia)

Ini sebenarnya semacam novela ringan tapi emosional tentang Sofia, perempuan muda perantau yang tumbuh dalam keluarga disfungsional: ayah yang cuek/selingkuh dan ibu yang dingin serta keras. Novel ini berfokus pada kompleksitas hubungan ibu-anak, luka masa lalu, dan proses penerimaan. Banyak yang menyebutknya sebagai healing fiction lokal, dengan alur yang menyentuh hati dan akhir terbuka yang memberi ruang refleksi. Dari beberapa review, pembaca merasa ceritanya sedikit tergesa, tapi secara keseluruhan direkomendasikan sebagai bacaan tentang keluarga dan luka yang “tak bisa dipisahkan”.

5. Tersesat Setelah Terlahir Kembali – Yoga Zen (Marjin Kiri)

Novel ini adalah pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023. Mengisahkan seorang lelaki asing (sumando) di tanah Minangkabau yang dipaksa mengikuti tradisi maskulin berburu babi, lalu terjebak obsesi, kegilaan, mitos lokal, dan bayang-bayang sejarah kelam (pembantaian masa lalu). Alur non-linear seperti puzzle, narator yang tak sepenuhnya bisa dipercaya, dan isu-isu sensitif (kesehatan mental, orientasi seksual, kekerasan). Novel ini mendapatkan apresiasi karena keberanian dan kekayaan lokalitas, sekaligus mendapat kritik karena alur yang membingungkan dan penyelesaian yang kurang solid. Novel yang memang membuat pembaca “tersesat”.

Tahun ini, penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan penggunaan bahasa, sudut pandang yang dihadirkan dalam karya, serta respons terhadap berbagai persoalan yang muncul di masyarakat. Dewan Juri juga menilai kontribusi setiap karya terhadap perkembangan sastra Indonesia.

“Selanjutnya, Dewan Juri akan melakukan pembahasan akhir untuk menentukan satu karya terbaik pada setiap kategori yang akan menerima penghargaan tahun ini. Pengumuman pemenang dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilaksanakan secara terpisah,” kata Gema Mawardi dalam keterangan resminya.**

8 Agustus 2026

Sasti Gotama: Dari Tukang Suntik jadi Tukang Tulis

Cerita dari Kusala Kampus

Berita

Sasti Gotama berpendidikan kemudian berprofesi sebagai dokter. Ia pernah menulis skripsi tentang teknik menyuntik agar tidak sakit. Ironisnya, pasien-pasien di puskesmas memprotesnya dengan menyatakan suntikan yang tidak nyeri dianggap tidak manjur. Selain itu, dia juga punya kisah unik digotong oleh pasien ke UGD, karena pingsan saat memeriksa asam urat dari pasien tersebut.

Pada 2018–2019, rasa nyeri yang menetap membuatnya banyak tergeletak. Di tempat tidur itu, seorang teman sejawat mengirimkan sebuah cerpen pendek, sekitar lima ratus kata. Itulah yang membuatnya, untuk pertama kalinya, bertanya kepada dirinya sendiri, “Kamu tidak bisa menulis seperti ini?”

Dari perjumpaan awal dengan cerpen, lahirlah flash fiction karya pertamanya yang kacau, penuh kesalahan tata bahasa, yang diunggahnya di Facebook. Saat itu, dia menulis bukan untuk menjadi sastrawan, melainkan menjadikannya katarsis, mengalihkan nyeri yang diderita, dan melepaskan beban di benak.

Karena itulah, Dalam pembuka Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, dia menulis bahwa hidup hanyalah upaya untuk mempersedikit kesakitan. Kalimat itu bukan slogan. Itu adalah catatan dari tubuh yang pernah terlalu lama berbaring.

Sasti baru mulai menulis pada tahun 2019. Setiap bulan, dia mengirimkan dua atau lebih cerpen ke media. Yang ditolak, ia unggah di media sosial. Dari sana, kritik pun datang dengan keras: norak, monoton, metafora yang dipaksakan. Ada yang menggunakan kata-kata yang “mencabik-cabik”.

Dia sempat mutung. Sempat ingin berhenti. Namun kritik itu dijadikannya pijakan. “Yang ingin saya kalahkan adalah diri saya sendiri,” ujarnya. Dia terus belajar, bereksperimen dengan bentuk, struktur, diksi. Dia mengikuti kelas menulis. Hingga pada 2020, cerpennya tembus di Kompas.

Dari kumpulan cerpen yang sebelumnya ditolak, lahir Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam—buku yang masuk daftar pendek Tempo dan menjadi juara Sayembara Rasa 2023. Lalu novel Korpus Uterus, yang ditulis dalam dua bulan karena tantangan teman dan sayembara DKJ. Dan akhirnya Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, yang meraih tiga besar Buku Sastra Pilihan Tempo 2024 sebelum menjadi juara Kusala.

Dalam kumpulan cerpen itu, Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu, Sasti menyoroti orang-orang yang terpinggirkan, terutama perempuan. Domestikasi digambarkan sebagai harimau yang dipaksa menjadi kucing. Konflik di Maluku Utara tidak dibaca semata sebagai benturan agama, melainkan perebutan tanah. Ada tokoh yang lahir dari epitaf di makam kolonial, ada yang membawa gangguan kepribadian: OCD, NPD, neurosis. Dia memasukkan teori Freud tentang mekanisme pertahanan ego. “Masa kuliah adalah masa riset,” katanya.

Inspirasi datang dari mana saja: pasien, esai Linda Kristanti, film Fight Club, bahkan tulisan di batu nisan. dIa punya “bank premis” yaitu sebuah ruang di mana setiap ide, sekecil apa pun, disimpan. Bahkan yang muncul saat jongkok di toilet.

Di tengah pandemi, dia dihadapkan pada pilihan untuk terus sebagai ASN atau melepaskannya. Ia memilih untuk resign. “Saya sempat limbung, merasa tidak ada,” akunya. Tapi sastra menyelamatkannya. “Dengan sastra, saya merasa ada. Saya mengada.”

Sejak itu ia mengeluarkan tujuh buku dan tujuh terjemahan, menjadi editor, kurator, pengajar. Ia lebih sibuk, tetapi lebih bahagia. “Dulu saya bilang saya tersesat. Sekarang saya bilang saya menemukan jalan yang benar.” Sasti meminjam istilah Simone de Beauvoir: sastra memungkinkannya melampaui diri sendiri. “Bila dulu menulis adalah katarsis untuk melewati nyeri demi nyeri, sekarang dengan sastra saya bisa mengada. Dan saya berharap, dengan Kusala ini, saya akan lebih-lebih lagi melampaui diri saya yang saat ini.”

24 Agustus 2025

Esha Tegar Putra: Puisi Tidak Bisa Dilepaskan dari Hidup

Cerita dari Kusala Kampus

Berita

Pada malam pengumuman Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, Esha Tegar Putra berada di rumah orang tuanya di Padang. Dia sengaja menyerahkan handphonenya. “Kalau handphone saya berdering sekitar pukul 00.00 atau 00.30, berarti saya menang,” katanya. Banyak bunyi WhatsApp yang datang. Begitulah cara dia mengetahui bahwa Hantu Padang dinobatkan sebagai pemenang kategori kumpulan puisi.

Dia memohon maaf karena tidak hadir di malam itu. Bukan hanya karena tugas, melainkan juga karena perasaan yang “sangat tidak enak”. Sejak tahun 2000-an dia sudah mengenal perjalanan Kusala, pernah beberapa kali bukunya masuk penilaian, dan malam itu dia memilih menyerahkan hasilnya kepada siapa saja yang menang. “Saya tidak akan kecewa,” ujarnya.

Agustus 2025 menandai dua puluh tahun proses kepenulisannya. Semuanya berawal dari satu malam di Fakultas Sastra Universitas Andalas pada 2005: Malam Tadarus Puisi, tradisi menyambut mahasiswa baru. Puisi dibacakan, diteaterkan, didendangkan dari setelah Isya hingga subuh. Satu puisi seniornya, Agus Hermawan, yang berjudul Narasi di 3 Hari, memikatnya hingga sekarang. Puisi tentang wajah Melayu yang tiris, perdamaian yang mungkin hanya ada di ujung jari, dan kota suci yang menyimpan ratapan. “Puisi inilah yang memantik saya untuk pertama kali menulis puisi,” kenangnya.

Sepulang dari acara itu, dia naik ke atap kampus bersama teman-teman, memandang lampu kota Padang dan laut yang masih terlihat jelas. Pagi harinya, dia meminjam komputer teman sekamar dan menulis puisi pertamanya.

Sebelum itu, sastra hampir tidak pernah hadir dalam hidupnya. Dia tumbuh di perkampungan pinggiran Danau Singkarak, anak seorang guru kesenian SMP yang suaranya indah dan gemar menyanyikan lagu-lagu Minangkabau. Halaman rumahnya sering penuh orang yang berlatih menari, menyanyi, dan sandiwara. Kesenian sudah dekat sejak kecil, tetapi sastra tidak. Di SMA, majalah Horison hanya dibaca untuk menggunting sketsa-sketsanya yang bagus.

Selesai SMA tahun 2003, yang ada di kepalanya hanyalah merantau. Seperti banyak teman sebaya di kampungnya, rantau berarti membawa sesuatu pulang—mobil, atau setidaknya sumbangan besar ke masjid. Dia pergi ke Bandung, bekerja di Depot Jamu yang sebenarnya 80 persen menjual alkohol untuk ojek pangkalan. Lalu pindah ke warung nasi di Limbangan Garut sebagai tukang cuci piring dan pengangkut air. Pernah berdagang plastik di Pasar Minggu, menjadi tukang jualan kain di pasar grosir Cipulir dan Tanah Abang, bahkan tukang cabut benang di konveksi Warung Kunci. Semua dijalani dengan kegagalan. “Saya sadar ternyata saya tidak punya bakat untuk dagang,” katanya.

Setelah gagal total, dia memilih pola rantau yang lain: merantau lewat sastra. Dia masuk Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas bukan karena cinta sastra, melainkan karena passing grade-nya paling rendah. Dia ingin kuliah di universitas negeri yang murah. Dua tahun jeda setelah SMA membuatnya merasa tertinggal. Teman-teman sudah bisa menulis cerpen, sementara dia tidak bisa menulis apa-apa. Dia mengejar ketertinggalan itu dengan membaca dan menulis tanpa henti. Tulisan di koran daerah memberinya honor Rp25.000 atau Rp50.000—uang yang berarti pada masa itu—serta kemudahan meminjam buku dari senior dan traktiran dari dosen.

Puncaknya datang tahun 2007, ketika puisinya dimuat di Tempo dan Kompas. Belum pernah ada senior sepuluh tahun di atasnya yang tembus di kedua media itu, kecuali Agus Hermawan, penulis puisi yang memantiknya dua tahun sebelumnya. “Enak juga diapresiasi,” kenangnya. Sejak itu dia semakin rajin mengirim karya dan mulai diundang ke berbagai festival.

Padang menjadi kota kelahiran kedua. Di sanalah cara pikir dan landskap puisinya dibangun. Dia merawat kenangan kecil: jalan di belakang terminal yang kini menjadi plaza, tempat adiknya pernah meraung meminta robot remote control; hotel tempat dia sesekali menginap bersama orang tua; bus yang mangkal di Tarandam. Dia menyisir kembali karya-karya sastra tentang Padang, mendengarkan lagu-lagu Minang, dan mencari jejak sastrawan seperti Idrus yang dimakamkan di kota itu namun kuburannya tak ditemukan. “Padang bagi saya adalah puisi itu sendiri,” ujarnya.

Lalu datang perantauan ulang-alik antara Padang dan Jakarta–Depok. Tubuh di satu kota, pikiran terbelah di dua kota. Peristiwa ini menjadi inti Hantu Padang. Dia menulis tema-tema kecil: anak yang sakit sementara dia tidak di sampingnya, debu yang turun dari plafon kamar kos, suara kipas angin, paku di belakang pintu, jaket kumal tukang ojek, suara kuali yang dipukul spatula. Dia memadukan penglihatan Jakarta dengan rasa bahasa yang dibawa dari Padang. “Saya tidak punya hasrat untuk berpretensi menulis tema-tema besar. Hanya tema-tema tentang saya,” katanya. Dia menerima jika orang menyebut puisinya sebagai biografi pribadi.

Empat kali bukunya masuk penilaian Kusala. Dalam Lipatan Kain daftar pendek 2015, Sarinah daftar panjang 2016, Setelah Gelanggang daftar pendek 2020, dan akhirnya Hantu Padang yang memenangkan. Penghargaan itu bukan tujuan, tetapi membuatnya cukup kuat dan mengantarkan hal-hal baik. Dia menganggapnya sebagai sesuatu yang mesti dijaga.

Di akhir, dia berterima kasih kepada Allah atas liku-liku hidup yang dijadikan puisi, kepada orang tua dan keluarga, kepada kota kelahiran, kota kelahiran kedua, dan kota persinggahan. Juga kepada langgam Minang yang diserap dari dendang hingga lagu modern, dan kepada pembaca yang memberi keyakinan bahwa proses menjalani hidup adalah juga proses menjalani puisi.

Bagi Esha Tegar Putra, segala sesuatu bisa menjadi puisi. Bahkan ketika dia memandang orang di hadapannya, dia sudah memandangnya dengan kacamata puitik. Hidup dan puisi, pada akhirnya, tidak lagi bisa dipisahkan.

24 Agustus 2025

Cicilia Oday: Menulis dengan Kejujuran

Cerita dari Kusala Kampus

Berita

Berdiri di depan peserta Kusala Kampus, Cicilia Oday tidak mampu menyembunyikan kegugupannya. “Sejujurnya saya sangat gugup karena saya tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak,” katanya. “Kalau disuruh memilih menulis di sebuah ruangan sendirian atau berbicara di depan orang banyak, saya akan memilih yang pertama. Karena saya orang yang suka bersembunyi.”

Dia membayangkan karyanya sebagai gunung es yang mencuat di permukaan laut. Dirinya sendiri adalah bagian dominan yang tersembunyi di bawahnya. Untuk hadir di Jakarta hari itu, dia harus melintasi lautan, pulau-pulau, bahkan perbedaan zona waktu. Namun dia bangga menjadi bagian dari angkatan pertama pemenang yang berkontribusi dalam program baru Kusala Sastra Khatulistiwa.

Sedari kecil dia tidak merasa percaya diri memiliki kriteria untuk menjadi penulis. Masa kecilnya lebih banyak terpapar media visual: sinetron, telenovela, film-film India. Dia sering tidak bisa memilih apa yang dikonsumsi. Namun di situ justru tumbuh benih pencerita. Setiap kali selesai menonton, dia mengulang penggalan adegan di dalam kepala dengan dialog-dialog yang disusun sendiri. Media visual menjadi referensi membangun cerita. Ketika bertemu medium teks, dia langsung terdorong menulis cerpen dengan bahasa yang masih sangat terbatas. “Menulis membantu menjaga kewarasan,” ujarnya. “Gambaran yang tadinya hanya ada di kepala bisa dituangkan ke atas kertas dalam bentuk kata-kata.”

Sayangnya asupan bacaan jarang. Dia iri pada penulis yang familiar dengan buku sejak kecil. “Seandainya masa kecil saya seperti itu, mungkin saya sudah menjadi penulis yang lebih baik. Bahkan mungkin sudah menerima penghargaan ini lebih awal.” Tapi itu hanya mungkin. Motivasi menulisnya bukan sekadar untuk memenangkan penghargaan. Ketika ditanya kenapa menulis, jawabannya sempat kabur. Lalu dia menemukan dua alasan yang lebih jujur: karena tidak bisa menggambar, dan karena mimpi berakting di masa remaja tidak mendapat ruang penyaluran. Kecintaan pada seni peran mentok di ekstrakurikuler teater dan satu project film pendek tingkat kabupaten. “Ketika satu pintu tertutup, maka pintu yang lain akan terbuka. Melalui pintu yang terbuka itulah pertemuan saya dengan dunia sastra dimulai.”

Pernah dia menulis seperti orang yang tidak tahu cara lain untuk hidup. Padahal dia sendirian, tidak berada di lingkungan orang-orang yang juga menulis. Bahan bakarnya datang dari membaca. Di masa muda, kebanyakan bacaan adalah sastra populer terjemahan, ditambah sastra lokal yang, menurutnya, “serius”. Bagi dia waktu itu semua tulisan adalah produk pemikiran yang setara. Cerpen pertamanya yang terbit di Kompas mendapat banyak pujian dan untuk pertama kali dia mendengar kata “surialisme”. Pembaca menganalisis karyanya dengan teori-teori filsafat yang tidak dipahaminya.

“Saya merasa bodoh, merasa malu karena pembaca lebih mengetahui tentang karya kita daripada kita sendiri.” Belakangan dia mengerti: itulah kekuatan alam bawah sadar. Penulis menampilkan gejala yang ada di dalam diri; pembaca yang lebih ahli mengkaji produk batin itu.

Lalu datang fase gelap. Dia tergila-gila pada teknik, terobsesi menemukan gaya sendiri sampai-sampai tidak mau membaca agar tidak terpengaruh. Proses kreatif macet. Dia mengambil jarak, bekerja di kantor pembiayaan. Mengutip Ayu Utami bahwa menulis itu 60 persen membaca, 40 persen menulis, dia pun kembali membaca apa saja, bukan hanya fiksi. Mesin sehebat apa pun tidak bisa jalan tanpa bahan bakar.

Novel pertama yang terbit bukanlah novel pertama yang ditulisnya. Duri dan Kutuk adalah novel kesekian. Draf pertamanya ditulis secara manual di buku harian sambil mengasuh bayi. Benihnya sudah ada sejak masih lajang: tanaman kemboja di rumah orang tua yang wujudnya ganjil, memicu imajinasi tentang tanaman yang bisa bergerak dan berbicara. Semula berbentuk novela pendek. Masuk kompetisi, hanya sampai daftar panjang. Lalu editor Gramedia meminangnya. Karena formatnya tidak memenuhi kriteria, proyek sempat terhenti. Dia memutuskan menulis ulang, bukan sekadar merevisi atau menyunting, melainkan meruntuhkan bangunan lama hingga nyaris serata tanah dan hanya menyisakan sedikit jejak fondasi. Karakter ditambahkan atau dihilangkan, nama diganti, alur dibuat lebih kompleks, konflik diperjelas, bumbu ironi ditambahkan.

“Hasil akhir dari karya memang tidak pernah saya peroleh dengan hanya satu kali usaha menulis,” katanya.

Dia teringat Haruki Murakami: menulis novel adalah pekerjaan yang sangat tidak efisien dan berbelit-belit. Satu gagasan yang bisa diperoleh dalam tiga menit dari sumber lain, di tangan novelis butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Lalu untuk apa merepotkan diri? Karena terkadang yang terpenting bukan apa yang disampaikan, melainkan bagaimana cerita itu dibawakan melalui medium bernama bahasa. Sejalan dengan kredo Sutarji Calzoum Bachri: kata-kata bukan alat untuk mengantarkan pengertian. Kata adalah pengertian itu sendiri.

Semua penulis yang bukunya pernah dibacanya dianggap sebagai guru menulis, terlepas diidolakan atau tidak. Dari mereka dia belajar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pada 2014 dia mengikuti kelas menulis Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Di pertemuan terakhir di sebuah kedai di kompleks Taman Ismail Marzuki, dia membacakan cerpen baru. Ketika menyodorkan buku saku hanya untuk minta tanda tangan Eka Kurniawan, dia mendapat catatan singkat: “Cerpenmu tadi bagus. Mungkin sedikit lebih dingin dengan narator yang sedikit tersembunyi bisa bagus banget.” Waktu itu dia tidak mengerti. Hampir sepuluh tahun kemudian, saat menulis Duri dan Kutuk  dan karya-karya lain, dia menengok kembali catatan yang sudah dibingkai. Akhirnya dia paham. Narator yang tersembunyi, narasi yang lebih dingin, itulah yang dia terapkan.

Kesadaran itu membuatnya merasa kecil: ada orang yang sejak 2014 sudah mengetahui sesuatu yang baru dimengertinya pada 2024. Kesenjangan besar antara seseorang yang sudah khatam karya-karya kanon sejak muda dengan dirinya yang terlambat mengenal sastra. Namun dari situ juga datang bahan bakar: membaca ulasan The Vegetarian di blog Eka Kurniawan mendorongnya menulis ulang draf Duri dan Kutuk.

Terhadap pertanyaan tentang alam bawah sadar ketika menulis, Cicilia Oday menjawab, “Kita menulis jujur saja. Semakin kita jujur pada diri sendiri ketika menulis, semakin alam bawah sadar itu bisa diakses.” Tidak perlu berpretensi hebat. Tidak perlu merasa berbakat. Jujur saja.

Lantas kalau disuruh memilih lagi antara menulis sendirian di sebuah ruangan atau berdiri di depan orang banyak, jawabannya sudah berubah. “Mungkin saya bisa pilih kedua-duanya. Mungkin saya tidak harus bersembunyi. Mungkin saya bisa berdiri bersandingan dengan karya saya sendiri.”

24 Agustus 2025