Laporan Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Pada tahun 2001, Richard Oh, sosok yang atribusinya melintasi dunia sastra dan bidang seni lainnya, bersama rekannya, Takeshi Ichiki, mewujudkan sebuah penghargaan yang kelak dikenang menjadi salah satu peristiwa sastra yang paling dinanti: Khatulistiwa Literary Award (KLA). Seiring waktu, perhelatan ini mengalami perubahan di sana-sini, termasuk adanya kategori yang dipertahankan maupun dikembangkan, serta namanya yang berganti menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) pada 2014. Dalam dua dekade penyelenggaraannya, walau terpaksa mesti terhenti pada 2021 karena tak lama berselang, tepatnya pada 7 April 2022, Richard Oh berpulang, penghargaan ini telah memilih berbagai judul buku sastra karangan penulis Indonesia yang terpujikan.

Zaman bertumbuh, kebiasaan literasi berubah, jumlah pembaca maupun pengarang juga terus bertambah. Mewarisi sebuah penghargaan sastra sebagaimana yang kini coba dirawat melalui Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI), lembaga yang didirikan sejak 2024 dengan maksud menjaga visi dan kecintaan Richard Oh terhadap sastra Indonesia, mesti diakui merupakan upaya yang penuh tantangan. Mula-mula pasti dari sisi teknis: bagaimana harus menjaga kebersinambungan. Soalnya, KSK diniatkan sebagai apresiasi dan edukasi, usaha yang tidak menghasilkan keuntungan ekonomi karena sejak awal ia berciri filantropis. Apalagi sejak dihidupkan kembali pada 2025, KSK menyasar peran turut menumbuhkan ekosistem sastra dengan membagi nilai hadiahnya antara penulis dan penerbit, termasuk mengembangkan program lain yang mempertemukan pengarang dengan pembacanya sehingga terjadilah silang wawasan yang saling memperkaya. Dapat dibayangkan betapa gigih usaha yayasan ini dalam mengetuk pintu-pintu para pihak yang peduli pada literasi. Harapan kita hanyalah semoga kian banyak yang tergerak mendukungnya.

Sementara itu, arus informasi maupun bacaan kian membanjir bandang, dan siapa pun pasti punya acuan buku yang paling menggugah. Pertanyaan seberapa perlu kelestarian penghargaan sastra bagi masyarakat yang haus-dahaga itu menjadi penting untuk didiskusikan. Apakah ia hanya sebagai tambahan referensi bacaan dari tahun ke tahun, katakanlah karya yang dianggap baik, sehingga barangkali bisa memperdalam pengalaman serta pengetahuan penikmatnya? Ataukah ia menunjukkan tanda-tanda perkembangan mutu selama puluhan tahun usia kepengarangan di Indonesia, atau sependek umur penghargaan KSK?

Segelintir pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh KSK semata, melainkan berpulang kembali kepada para pembaca, penerbit, pemerhati literasi, dan unsur-unsur lain yang membentuk ekosistem sastra itu sendiri. Tak jarang kita jumpai adanya konsep karya yang menarik, tetapi justru ditolak penerbitnya; atau buku yang menjanjikan, tetapi kesulitan diapresiasi pembacanya; atau penikmat yang mendambakan penyegaran di tengah bacaan yang begitu-begitu saja. Ada persepsi yang mengental dalam benak setiap unsur itu, menciptakan jarak tentang apa yang dianggap bagus. Dalam situasi yang sedikit banyak mencerminkan potret ekosistem literasi kita itu, kiranya peran penghargaan sastra apa pun, selain untuk menghormati kesungguhan upaya dan karya para pengarang, bisa saja sekaligus merangsang atau bahkan mengganggu persepsi yang melekat, mudah-mudahan dengan dasar pertimbangan yang jelas, sehingga satu sama lain bisa saling menelisik pilihan-pilihannya, lantas berdialog tentang seperti apa sastra yang diharapkan semua orang.

Proses Penjurian

Berbeda dengan dua dekade penghargaan semasa Richard Oh, sejak 2025 KSK menetapkan tiga kategori, yaitu buku novel, buku kumpulan cerita pendek, dan buku kumpulan puisi. Tata cara penjaringan buku lewat undangan terbuka juga digencarkan, kendati tiap juri masih dibolehkan mencari tambahan judul yang dirasanya layak diikutsertakan. Keseluruhan proses ini dibantu tim panitia yang secara teliti mencatat, mendistribusikan, serta memantau kerja-kerja penjurian berjalan sesuai lini masanya, hingga dapat dipastikan setiap juri mendapat waktu yang cukup untuk membaca buku-buku tersebut. Adapun jumlah buku yang masuk dan dinyatakan lolos seleksi administrasi tahun ini ialah 225 judul (dari total 240 judul awal), terdiri atas 74 buku novel, 46 buku kumpulan cerita pendek, dan 105 buku kumpulan puisi.

Jadwal diskusi disusun bertahap seiring penentuan setiap fase penjurian, baik untuk nomine daftar panjang, daftar pendek, maupun pemenang utama. Karenanya, sangat wajar jika terjadi pembacaan ulang untuk menyelami buku-buku yang ada. Para juri bisa saja berkali-kali menelisik buku jagoannya. Misalnya, ada yang sejak daftar panjang memberi sinyal kuat pada sebuah buku, ternyata pilihannya justru bergeser pada tahap dialog daftar pendek maupun pemenang utama. Ada kalanya argumen dari setiap juri saling melengkapi, dan tidak jarang terjadi silang pendapat untuk menimbang kembali pandangan-pandangan yang mengemuka. Bagaimanapun, Dewan Juri berharap karya pemenang maupun yang masuk dalam nominasi akan terus dibaca serta dibincangkan karena semuanya memiliki nilai yang berharga untuk sastra Indonesia.

Secara umum, seperti visi yang disampaikan tim Kurator YRKI dan panitia, KSK ingin mencari buku-buku yang menyajikan keluasan cakrawala puitik dan naratif, bertumpu pada kekriyaan bahasa, keutuhan konsep artistik, ketajaman gagasan, serta pengerahan kerja kreatif yang memperluas wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas. Khusus pada penjurian tahun ini, setiap anggota Dewan Juri sepakat bahwa karya-karya yang masuk memiliki capaian artistik dan pengayaan tematik yang sangat memikat. Dengan caranya masing-masing, setiap penulis berusaha mengisi, mengembangkan, serta memberi kemungkinan lain dari karya-karya sastra yang telah ada di Indonesia. Usaha pencarian ini patut untuk dihargai.

Akhir kata, Dewan Juri yang terdiri dari Andina Dwifatma, Arif Bagus Prasetyo, Martin Suryajaya, Ni Made Purnama Sari, dan Saras Dewi mengungkapkan penghargaan kepada para penulis maupun penerbit yang telah mengerahkan kerja-kerja kreatifnya sehingga tahun 2025 terasa semarak dengan hadirnya buku-buku sastra yang bermutu. Begitu pula kepada para pembaca yang masih mencintai sastra serta para pihak yang menaruh perhatian dengan mendukung penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 ini.

Kolase Wajah Manusia dalam Cerpen

Dibandingkan kategori lainnya, jumlah buku kumpulan cerita pendek yang masuk sungguh paling sedikit. Situasi ini bisa memantik pertanyaan, mengapa dalam kebiasaan membaca era kini yang konon serba ringkas akibat percepatan dunia digital, cerpen yang biasanya menyajikan narasi pendek dan pembacaannya dapat diselesaikan sekali duduk ternyata masih terbatas penerbitannya. Namun, jika dilihat dari siapa saja pengarangnya, kategori ini cukup menggembirakan karena muncul nama-nama yang relatif baru dikenal, setidaknya menurut jangkauan beberapa juri, dan menjadikan proses membaca diwarnai rasa keingintahuan sekaligus pengharapan bahwa mereka akan terus mengolah cerpen sebagai cara bertutur yang diminatinya.

Karena kekhasan bentuknya, cerpen selalu membutuhkan kekriyaan tersendiri. Keringkasannya mestilah sarat pertimbangan agar sekaligus dapat memproyeksikan kompleksitas. Mudah dibaca cepat tapi tetap menyisakan resapan lekat, semacam gema yang samar, tetapi senantiasa terdengar. Peristiwa kisahnya kadang serupa isyarat atas kenyataan sebenarnya, membentuk lapis demi lapis penafsiran yang kaya. Kelugasan daya berbahasa berpadu dengan daya saran atas rekaan yang menggoda pembaca memasuki dan menghuni dunianya. Bahkan, sering tidak ada kesempatan untuk berakrobat kata-kata, karena kualitasnya diukur dari kemampuannya menyajikan sesuatu yang bermakna. Betul-betul tantangan yang menggairahkan, sekaligus menggelisahkan, sebab si pengarang mesti mengukur sendiri pada titik mana cerita itu sudah cukup dikatakan tuntas dan bernas.

Corak realis yang mewartakan peristiwa dalam kesaksian personal para tokoh sedikit banyak masih mendapat perhatian juri dan pilihan bercerita ini umumnya muncul dalam beberapa buku yang merespons sejarah atau kejadian aktual lainnya. Walau begitu, tidak sedikit pengarang yang bermain-main dengan sudut pandang dan teknik penceritaan sehingga riwayat dalam kisah, betapapun faktual sumbernya, tidak menjelma serupa laporan jurnalistik, melainkan tetap bekerja dalam wilayah ambigu sebuah prosa. Dan meskipun ada yang melompat lebih jauh dengan membangun dunia yang tampak sepenuhnya fiktif dan liar, tetapi irisannya dengan realitas kita masih tetap terasa. Semua kemungkinan itu, yang menunjukkan kolase pencarian dalam cerita pendek, kurang lebih tampak pada pilihan daftar panjang, dan mengerucut dalam nominasi daftar pendek. Dan beberapa kata di bawah ini adalah ulasan singkat terhadap lima antologi cerpen yang terpilih dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.

Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya dari penerbit baNANA berupaya memusatkan cerita-ceritanya pada pergelutan keseharian perempuan dan kehidupan kelas pekerja di perkotaan. Setiap cerita Hantu Ulang-alik menggambarkan unsur penindasan terhadap tubuh perempuan dan juga tubuh-tubuh pekerja, yang bermuara pada perampasan agensi diri sampai yang tersisa dari kita hanya kelelahan saja. Berlatar belakang masyarakat urban, Hantu Ulang-alik menangkap ragam kehidupan orang-orang kota dengan segala kecemasannya. Namun, bukan berarti semua cerita Hantu Ulang-alik menonjolkan kemalangan dunia saja, tetapi mengantarkan pembaca untuk mendengar bahwa sering kali ada suara yang dipinggirkan karena struktur masyarakat yang ada. Cerita perempuan yang dibebani ekspektasi orang-orang terdekatnya, pelayan restoran merangkap kasir sekaligus penyanyi yang masuk enam hari kerja, ataupun hantu kursi reyot yang bersyukur setidaknya dia tidak lagi bisa menjadi objek laki-laki, menggambarkan wujud nyata dari sistem patriarki-kapitalisme yang mengikat kita semua. Kedua dimensi inilah yang senantiasa hadir di cerita-cerita Hantu Ulang-alik.

Berbeda dengan Cara Kita Menghadapi Kehilangan karya Yetti A.KA, penerbit DIVA Press, yang sesuai dengan namanya menyoroti berbagai cerita kehilangan dari orang-orang. Kumpulan cerita ini tidak membedakan kehilangan dari segi besar atau kecilnya, familiar atau asingnya, dan bahkan saat kehilangan itu masih sulit dinamakan. Baik itu kehilangan hubungan hangat dari ibu-anak saat anak beranjak dewasa, anak kecil yang pandai berpura-pura di ujung akhir pernikahan orang tuanya, atau meratapi calon bayi yang tidak perlu lahir di keluarga yang dingin. Namun, yang selalu menonjol dari setiap karakter Cara Kita Menghadapi Kehilangan adalah luka kehilangan itu tak membuat mereka menarik diri dari kehidupan. Justru itu cara bagi sebagian orang untuk memanggul kekosongannya dan melanjutkan kenestapaan hidup.

Membahas konflik multikulturalisme dan juga sejarah militerisme Indonesia selalu menjadi pembicaraan yang sulit dalam bentuk fiksi. Selengkap apa pun fakta perlu dibicarakan, ia harus tetap terasa dekat dan personal. Permasalahan ini yang ingin dibicarakan melalui cerita fiksi Jose Kecil dalam Dirimu dan Cerita-Cerita Lainnya karya Kaisar Deem, penerbit Bara Books. Bayang-bayang konflik sosial terus-menerus ada dan melatarbelakangi setiap cerita pendek yang ada di buku ini tetapi tetap dikemas secara sederhana. Jose Kecil dalam Dirimu yang dilatari budaya daerah Makassar menjelma sebagai siasat penulis untuk merefleksikan kesengsaraan pribadi maupun perselisihan sosial. Dengan mengangkat pluralisme nilai di masyarakat Indonesia, lantas buku cerpen ini menaruh kembali perbedaan ke atas meja sekaligus mendorong mereka yang membacanya untuk merenungkan kembali makna keragaman.

Ada juga Misi Menggagalkan Doa karya Yoga Palwaguna, penerbit Langgam Pustaka, yang menggambarkan keluguan beserta kenaifan dari pembangkangan anak kecil melawan orang tua. Sudah hakikat dari anak-anak untuk selalu mempertanyakan semua peraturan yang mengekang mereka. Anak tak menganggap logika otoritas, entah sumbernya dari orang tua ataupun agama, menjadi tembok penghalang yang harus diterima begitu saja. Mereka berusaha memutarbalikkan, mencongkel, dan membongkar yang tabu untuk dipertanyakan agar terlihat sebagai suatu cara berpikir yang absurd. Jaring pendisiplinan ini pun luas. Mulai dari doa orang tua yang tak bisa dibantah sampai norma sosial di masyarakat yang menjadi acuan “kenormalan”. Berbagai cerita pendek di Misi Menggagalkan Doa ingin memperlihatkan ke para pembacanya bagaimana anehnya masalah yang diada-adakan oleh manusia sendiri. Selayaknya tingkah anak yang sering kali dicap “nakal”, tetapi sesungguhnya cuma perlu didengarkan dengan lapang dada dan menerimanya tanpa menghakimi kemanusiaannya.

Serangkaian cerpen Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri karya T. Agus Khaidir, cetakan Penerbit Buku Kompas, mengantarkan pembaca ke dalam satu tenunan cerita yang kadang menyambung, kadang juga melompat. Ketersambungan yang biasanya dirajut oleh tema dan di cerita lain oleh nama. Maka tak heran apabila pada kata pengantar T. Agus Khaidir menggunakan yang disebut “karnaval nama-nama”. Dari berbagai buku cerpen yang masuk, Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri yang kentara jelas pengaruh kemelayuan dalam penulisan. Kekhasan ini menjadi angin segar yang mendistingsikan dengan buku cerpen lainnya. Ada juga realitas keseharian yang jadi tema penyambung di antara cerita-cerita yang ada, tetapi diakhiri dengan misteri ataupun absurdisme, yang membuat pembaca larut dalam pertanyaan. Dari sudut pandang inilah cerpen ini akan membicarakan berbagai konflik sosial yang ada di masyarakat, mulai dari hubungan keluarga sampai dengan pembunuhan maupun kematian yang menimbulkan tanda tanya. Semua kejadian ini dilatari dengan nuansa religi dari budaya Melayu. Alhasil, Waktu itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri akan lebih mudah menyasar kesadaran kolektif sembari mengutak-atik cara pandang kultural dalam membaca ragam spektrum pengalaman manusia.

Setelah beberapa kali sesi diskusi dan pembacaan mendalam terhadap lima antologi cerpen daftar pendek tersebut, Dewan Juri memutuskan Hantu Ulang-alik sebagai pemenang pada kategori cerpen. Keunggulan dari karya ini untuk mengeksplorasi berbagai cerita dengan mendekatkannya pada realitas sehari-hari perempuan pekerja urban, menyuarakan secara utuh kelelahan yang dialami kehidupan hari-hari ini. Setiap tokohnya diambil dari sudut pandang perempuan dan perspektif kelas pekerja yang terus diperas serta ditindas oleh sistem yang mengakar, yang tak pernah puas melahap semua. Karya ini juga mampu mengemas isu-isu partikular agar mampu dimaknai secara luas dengan menunjukkan kesamaan kecemasan yang sangat manusiawi.

Napas Panjang Novel Indonesia

Dokumentasi perjalanan kepengarangan novel Indonesia boleh dikatakan relatif lengkap karena inisiatif berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadapnya. Selain penerbitannya yang terus bergairah dari tahun ke tahun, tercatat aneka perhelatan yang memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi karya novel terbaik. Semuanya itu, terlepas soal masalah-masalah teknis untuk menjadikan ajangnya tetap berkala dan lestari, menunjukkan novel sebagai genre dengan kreativitas yang diminati, terus bertumbuh, dan senantiasa menantang dijelajahi. Terpilihnya judul-judul novel dalam kurasi penerbitan maupun kompetisi itu kiranya dapat menjadi salah satu cerminan karya yang dianggap baik, di mana pengarang selanjutnya boleh memetik peluang pengayaan penciptaan di masa-masa selanjutnya, yang dengan antusias dilakukan sampai hari ini.

Gairah eksplorasi kepengarangan tentu masih terasa dalam kurasi Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2026 ini. Karena kualitasnya yang hampir sepadan, boleh dibilang sungguh tidak mudah bahkan untuk memilih sepuluh judul kategori daftar panjang, dan jauh lebih sulit lagi ketika memasuki penentuan daftar pendek. Hal-hal yang mengemuka dalam diskusi juri di antaranya pendalaman aspek tematik, misalnya sejauh mana karya tersebut menjadi khas di tengah kecenderungan topik serupa yang pernah ada, atau bagaimana penulisnya menemukan sudut pandang penceritaan lain yang menguatkan tema pilihannya. Usaha menemukan kesegaran perspektif memang selalu menantang: di bagian manakah kita bisa menorehkan tambahan sapuan warna pada pusparagam tema yang telah lebih dulu diciptakan itu? Tahun ini, ada beberapa karya yang berani mengambil jalan yang mungkin tampak sepele, yang sekilas jauh dari pewacanaan intelektual dan perpanjangan pesan, serta kembali pada kehadiran novel sebagai “cerita”. Ada yang mengetengahkan potongan kisah hidup yang mengingatkan kita akan makna mendasar suatu budaya. Atau karya yang menuliskan ulang sejarah dengan pendekatan yang membumi dan berempati pada pengalaman orang-orang di dalamnya. Dewan Juri sangat menghargai semua usaha semacam ini, yang melihat novel sebagai bagian dari pernyataan antarmanusia.

Dalam beberapa diskusi, para juri berusaha melihat secara dekat, menelisik sampai ke kalimat-kalimat dialog maupun deskripsi yang spesifik guna merunut kepaduan bercerita si pengarang. Kita tahu novel merupakan prosa yang membutuhkan napas penciptaan panjang. Selain aspek-aspek teknis dalam menyusun babakan cerita, dilihat pula sejauh mana konsistensi pengisahan, kekuatan watak tokoh yang menentukan alur logika dan dramatika, hingga ungkapan-ungkapan penuh daya saran atas pengalaman berbahasa kita. Tidak semua pengarang memiliki stamina untuk menggali serta menyajikan seluruh hal tersebut, yang ini hanya bisa dicapai dengan pengayaan dan penghayatan sepenuh hati atas seluk-beluk masalah manusia. Walau demikian, bukan berarti karya terpujikan yang memenuhi semua aspek tadi tidak ditemukan dalam kurasi tahun ini.

Berikut ini merupakan ulasan untuk lima buku yang terpilih dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 berdasarkan judul yang disusun alfabetis.

Novel Alok karya Arie Saptaji, penerbit Post Press, membangkitkan kembali daya angan tentang mistisisme Jawa yang menghubungkan dunia lahiriah dan alam ruh, bukan sebagai bentangan nilai yang saling bermusuhan, melainkan beriringan dalam keharmonian yang dicita-citakan masyarakat Timur. Peristiwa kematian, arwah gentayangan, dan perjalanan menguak tabir misteri diuntai bersama filosofi hidup yang mentradisi serta narasi hangat sebuah keluarga, mengingatkan bahwa persaudaraan bukan hanya terjalin di muka bumi, tetapi bertaut pula sampai ke dunia yang tak kasatmata. Kekhasan itu menjadikan Alok mengisi ruang-ruang pemaknaan seputar alam gaib yang selama ini dipenuhi horor, kengerian, dan ketakutan, baik dalam budaya populer maupun kesusastraan kita. Adapun aspek-aspek lain yang barangkali dapat menjadi saran bagi penulis ialah pertimbangan pilihan dialog yang sewajarnya, penataan penceritaan yang lebih menggugah, mengikuti alur kegelisahan batin para tokohnya.

Sementara itu, premis novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal, penerbit Kepustakaan Populer Gramedia sepintas sederhana, tentang seorang pengarang yang terus-menerus menunda menyelesaikan masterpiece novelnya. Namun, perlahan-lahan, pembaca diajak untuk melihat bahwa si tokoh rupanya tidak hanya menunda menulis, tetapi juga hampir seluruh hal dalam hidupnya. Dari situlah kemudian novel ini bisa berbicara banyak hal: tentang keluarga, kehidupan kelas menengah kota, hingga zaman keberlimpahan informasi yang membuat manusia justru lupa cara memberi makna. Keunggulan novel ini jelas pada kematangan berbahasa dan kelincahan penulis dalam mengolah kata. Ia bermain-main dengan panjang-pendek kalimat, kosakata bahasa daerah, dan berbagai istilah yang tajam dan cerdas. Dan, yang paling sulit ditandingi oleh karya lain pada tahun ini adalah kemampuan pengarangnya untuk benar-benar memberi nada suara yang berbeda bagi setiap tokoh. Sudut pandang “aku” yang digunakan setiap berganti tokoh tidak membuat pembaca sulit menebak-nebak siapa yang sedang berbicara, karena setiap karakter memiliki kekhasan nada tersendiri, seperti alat musik yang berbeda-beda. Bersama-sama, nada-nada dari instrumen yang berbeda itu dijahit oleh pengarang menjadi sebuah simponi yang rapi.

Peristiwa pembantaian 1965-1966 akan selalu menjadi sejarah kelam bangsa Indonesia dan kita perlu lebih banyak karya fiksi mengenainya. Untuk itu, Katri karya Adeste Adipriyanti, penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, layak masuk ke dalam daftar pendek KSK tahun ini. Ditulis dengan detail yang mengagumkan, novel ini mengambil sudut pandang korban perempuan yang pada akhirnya mampu bangkit dan menata ulang kehidupannya. Novel ini amat jelas terbaca sebagai hasil riset yang panjang dan rinci, tetapi barangkali justru di situ letak celahnya: ia kemudian terbaca mirip sebuah laporan feature jurnalistik yang panjang dan “sastrawi”. Meski demikian, novel ini tetap mampu menunjukkan bahwa peristiwa 1965-1966 yang konon menargetkan anggota dan simpatisan partai komunis, nyatanya sangat banyak memakan korban yang bukan keduanya. Mereka yang tidak terlibat aktivitas kepartaian menanggung beban di luar batas kemanusiaan. Dan barangkali itulah yang terus-menerus perlu digaungkan kepada publik luas, agar segala stigma perlahan-lahan dapat terkikis hingga habis.

Adapun novel Seakan Bisa Dipisahkan karya Ruhaeni Intan, penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, mengungkap tema hubungan antara ibu dan anak perempuan belum banyak dieksplorasi dalam khazanah sastra Indonesia. Mungkin saja karena bahasan tentang “keluarga” masih dipandang terlalu keseharian dan remeh. Namun, novel ini berhasil membuktikan bahwa tema domestik dapat diolah dan disajikan menjadi kisah yang lembut tanpa kehilangan daya gedor. Novel ini dapat dibaca sebagai kisah perjalanan menuju kedewasaan (coming of age) dengan premis yang agak berbeda dari novel sejenis. Bila umumnya novel-novel serupa cenderung menekankan pada kebebasan individu untuk melepaskan diri dari berbagai ikatan sosial yang membelenggu, novel ini justru memberi pesan sebaliknya: ikatan tersebut tidak dapat, dan memang tidak perlu, mudah dipisahkan. Justru dengan belajar memaknai dan melampaui segala yang menyedihkan dan membahagiakan dari ikatan-ikatan tersebut, seseorang dapat memulai babak kehidupannya sebagai manusia dewasa. Penggunaan simbol sederhana seperti jajanan pastel sebagai penanda konflik dan resolusinya, menunjukkan kelihaian pengarang dalam membangun struktur cerita yang kokoh dan padu.

Novel Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen, penerbit Marjin Kiri, ditulis dengan kemampuan berbahasa yang terpujikan, mengajak pembaca larut mengikuti kisahan dalam setiap halamannya. Tafsir misteri tentang pikiran dan laku manusia terangkai secara apik melalui penuturan sepihak si tokoh utama, seorang menantu pria dalam keluarga Minang yang harus beradaptasi dengan lingkungan serba-asing, dan keasingannya itu justru menjerumuskannya pada pilihan-pilihan sikap yang mengejutkan. Latar budaya serta sejarah di Sumatra Barat, tema yang cukup sering muncul dalam kepengarangan di Indonesia, ditulis begitu mengalir dan penulisnya mampu menyiratkan refleksi tentang makna maskulinitas dalam kultur matrilineal, sesuatu yang betapapun rapuh, tetapi berusaha terus direngkuh tokoh-tokohnya. Akibatnya, kisah pun diwarnai kelokan peristiwa yang kontradiktif, ironi, hingga bernuansa kekerasan. Dengan keunikan sudut pandang serta keberaniannya menukik pada masalah-masalah yang khas tersebut, novel ini sanggup mengungkap konsekuensi pelestarian nilai kultural, semacam kesadaran kolektif yang mentradisi, yang memengaruhi kebebasan sikap orang per orang.

Setelah membaca secara lebih mendalam serta mendiskusikan capaian kreatif atas kelima novel pada daftar pendek tersebut, Dewan Juri sepakat untuk memilih Ikhtiar yang Tak Benar-Benar sebagai pemenang kategori novel. Selain memberikan pengalaman membaca yang mengalir sekaligus cerdas menyikapi elemen bahasa yang menguatkan inti cerita, karya ini juga mengetengahkan daya gugah atas refleksi hidup tanpa sekalipun terasa menggurui. Setiap tokohnya bersuara dengan kepribadian khas yang sulit ditemui pada novel-novel lain, suatu keragaman polifonik yang unggul dan seluruhnya diramu sebagai orkestrasi penuh harmoni. Novel ini mengembalikan penghayatan kita pada persoalan-persoalan yang dekat, perihal relasi remeh dalam keluarga yang luput dilihat, tentang waktu, budaya, dan maupun sikap-sikap personal lainnya–sebuah ikhtiar untuk mengisi lapis pemaknaan lain atas hubungan antarmanusia yang kian terkikis akibat gempuran perubahan zaman.

Puisi dan Jalan Lain Tradisi Lirik

Puisi masih mendominasi panorama sastra Indonesia tahun 2025. Setidaknya, demikianlah yang tampak dari buku-buku sastra yang terjaring dalam penjurian Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Dari dua ratusan buku sastra yang masuk, sebanyak 105 di antaranya merupakan buku puisi – jumlah yang jauh melampaui novel maupun kumpulan cerita pendek. Sekian banyak buku puisi tersebut menempati spektrum puitik yang sangat luas, memperlihatkan bagaimana bahasa ditarik ke berbagai arah secara ekstrem: mulai dari kelirisan sunyi, permainan satire urban, penggalian pengalaman banal keseharian, problematisasi filsafat, penebalan warna lokal, pembocoran arsip sejarah, hingga eksperimentasi konseptual yang menguji batas bahasa maupun menggaris ulang kemungkinan puisi itu sendiri.

Dalam melakukan penilaian, Dewan Juri terutama bertumpu pada pengetahuan sastra dan pengalaman panjang membaca puisi, sekaligus mempertimbangkan sejumlah aspek yang secara umum biasa digunakan untuk menilai mutu buku puisi. Landasan penilaian meliputi kekuatan bahasa dan diksi, orisinalitas metafora dan citraan, kesegaran tema dan penggarapannya, kedalaman gagasan atau kompleksitas emosional, eksplorasi bentuk dan teknik, konsistensi estetik dalam keseluruhan buku, serta kontribusi terhadap perkembangan puisi Indonesia kontemporer.

Secara khusus, Dewan Juri terutama mencari buku puisi yang menunjukkan keberanian estetik dalam mengeksplorasi bentuk-bentuk pengungkapan baru. Kami memberi perhatian lebih pada karya yang berusaha keluar dari tradisi perpuisian Indonesia yang selama ini terlalu dikuasai oleh lirisisme, baik liris sunyi maupun liris oratoris. Kami mencari puisi yang memperlakukan bahasa sebagai laboratorium, bukan sekadar medium penyampai amanat atau pelampiasan emosi; karya yang berupaya melakukan terobosan konseptual dengan menantang atau menggeser batasan konvensional puisi. Kami mengapresiasi karya yang bersedia mengambil risiko estetik dengan meninggalkan instrumen puitik yang mapan demi menemukan suara baru.

Pada saat yang bersamaan, Dewan Juri juga menghargai puisi yang memiliki kepekaan emosional dan daya gugah tinggi, termasuk secara politis dalam arti luas. Kami mencari puisi yang dengan intens membangun ungkapan yang bertenaga, memilih bentuk yang tepat untuk pesan yang hendak diguratkan, serta menggerakkan empati atas kondisi manusia. Itulah puisi dengan daya magis bahasa yang menyentuh perasaan, menggetarkan tubuh, dan menggugah kesadaran. Meskipun demikian, puisi tetap harus mampu menjaga jarak estetik sehingga pembaca tidak hanya diajak merasakan, tetapi juga merenungkan kembali cara kita memandang realitas serta mengonstruksi makna.

Lima buku puisi yang masuk Daftar Pendek KSK tahun ini menunjukkan usaha untuk menolak tradisi lapuk lirisisme Indonesia. Meskipun masing-masing menempuh jalan yang berbeda, kesemuanya berikhtiar menemukan suara puitik yang lain.

Ke Arah Museum Revolusi karya Nirwan Dewanto memperlihatkan pencapaian formal yang sangat kokoh. Setiap unsur puisi di buku ini disusun dengan ketelitian seorang perajin bahasa yang memahami secara mendalam arsitektur puisi. Setiap ungkapan dalam puisinya seakan saling mengunci secara presisi. Sebagaimana di buku-buku puisinya yang terdahulu, Nirwan memperluas kemungkinan bentuk puisi-prosa melalui metafora yang padat dan jaringan intertekstualitas yang kaya. Yang berbeda dalam buku ini ialah munculnya unsur biografis sang penyair – sesuatu yang cukup mengejutkan karena Nirwan dikenal sebagai penyair yang berpandangan bahwa puisi merupakan “pelarian dari kepribadian”. Meskipun demikian, secara keseluruhan, obsesi estetiknya tetap konsisten dengan karya-karya terdahulu yang menolak tunduk pada pengaruh lirisisme yang sangat kuat dalam puisi Indonesia. Buku ini memperpanjang perlawanannya terhadap tradisi lirik lewat bentuk puisi yang berciri diskursif secara mencolok. Khususnya, ia terus menjadikan puisi sebagai ruang untuk memikirkan hakikat puisi itu sendiri, menghadirkan metapuisi, sekaligus secara paradoksal menyuarakan “pesan” bahwa puisi tidak dapat direduksi menjadi sekadar penyampai pesan.

Kutu-Kutu Joni karya Julia Gerhani Arungan menyegarkan lirisisme dengan menghadirkan dunia keseharian yang jarang memperoleh perhatian dalam puisi Indonesia. Tema-tema yang tampak remeh, kadang lucu, kadang absurd, diolah menjadi pengalaman puitik melalui bahasa yang lugas, komunikatif, dan memiliki keterbacaan tinggi. Namun, kelugasan itu tidak membuat puisinya dangkal. Di balik kesederhanaan pengucapan, ada kecermatan dalam memilih kata dan membangun suasana. Julia berhasil mengolah kesahajaan menjadi suara yang khas. Nuansa humor dalam puisinya hadir sebagai efek alami: sejumlah puisinya terasa lucu tanpa berusaha melucu. Julia berhasil mengkurasi unsur kelisanan sehari-hari ke dalam bingkai tematik hubungan guru dan murid yang unik, tampil segar tanpa beban harus bergaya puitis. Dengan teknik penyusunan kata yang cerdik, tetapi tetap wajar, pembaca tidak merasa disiasati dengan menu tema keseharian yang dimasak secara piawai.

Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat memberikan pemaknaan baru pada tradisi puisi lirik Indonesia yang berbasis nyanyi sunyi. Jika kesunyian dalam arus utama lirisisme Indonesia berhulu pada keterasingan individu di ranah spasial/sosial, buku puisi ini menjangkarkan kesunyian pada keterasingan kolektif temporal. Bertolak dari rentang sejarah Nusantara sejak abad ke-7 hingga akhir abad ke-20, Ari menghadirkan sejarah bangsa sebagai keping-keping ingatan yang berserakan. Tindakan mengingat sejarah menjadi absurd, berujung pada labirin peristiwa dan citraan yang hampir-hampir tidak menyodorkan pemahaman. Itulah amnesia dalam bentuk keterasingan sebuah bangsa dari sejarahnya sendiri. Sejarah yang banyak diangkat Ari adalah riwayat tentang kehilangan traumatis, cerminan dari amnesia sejarah yang membuat bangsa kehilangan identitasnya. Ari membangun puisi yang mengubah sejarah menjadi pengalaman emosional dan refleksi atas identitas bangsa. Suara kritis puisinya terdengar nyaring di lanskap Indonesia mutakhir, ketika otoritas politik sering memproduksi amnesia kolektif melalui pembungkaman sejarah, manipulasi kurikulum, penghilangan narasi korban, dan sebagainya. Buku ini menyingkapkan bahwa amnesia sejarah bukan sekadar absennya ingatan kolektif, melainkan puncak labirin keterasingan sebuah bangsa. Memadukan bahasa yang sederhana dengan lapisan makna yang kompleks, kritik terhadap sejarah dan kekuasaan dihadirkan bukan sebagai slogan politik yang monodimensional, melainkan sebagai pengalaman puitik yang prismatik.

Pagar Rumahku Berubah Warna karya Ama Gaspar membuktikan bahwa pembaruan puisi tidak selalu harus ditempuh dengan meninggalkan lirisisme, tetapi dapat diselenggarakan dengan cemerlang melalui revitalisasi tradisi lirik itu sendiri. Bertumpu pada bahasa sehari-hari yang bersih, jernih, dan mengalir, Ama mengolah pengalaman domestik yang tampak sederhana menjadi pengalaman puitik yang dalam, kompleks, dan kaya makna. Benda rumah tangga, ruang domestik, memori, dan hubungan interpersonal yang intim diolah menjadi simbol-simbol emosional yang berbicara tentang kehilangan, tetapi juga menyiratkan harapan dan penyembuhan. Kesedihan tidak dipamerkan, hanya diterima perlahan tanpa nada pasrah atau putus asa. Kehilangan tidak muncul sebagai ratapan atau amarah, hanya sebagai getar-getar kecil bergema yang menjalar dari pengucapan lembut. Perubahan-perubahan banal dalam kehidupan sehari-hari pun terjelma menjadi alegori yang hidup dan menyentuh. Diksi yang hemat bersahaja memungkinkan emosi bekerja secara halus untuk menghasilkan puisi-puisi yang memberi bobot lain pada keharuan, tanpa terjebak dalam melankoli dan sentimentalitas. Buku puisi ini berbicara lirih, tetapi kata-katanya bergaung nyaring.

Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra menunjukkan pencarian bentuk pengucapan di luar tradisi lirik dengan bergerak ke wilayah filsafat. Puisi-puisi dalam buku ini seperti ungkapan filosofis yang mengajak berpikir dan menjanjikan pemahaman. Namun, janji pemahaman itu tidak pernah ditepati. Seolah usaha berpikir itu akhirnya sia-sia belaka karena kepastian makna tetap tak bisa dipegang, pemahaman selalu tak dapat diraih. Puisi menjadi ruang untuk memperlihatkan keterbatasan bahasa dalam mengungkapkan makna dan memahami dunia, sekaligus ketidakterbatasan bahasa untuk memberikan makna pada dunia. Melalui puisi yang seperti menyimpan teka-teki, Heru menyindir mereka yang merasa telah memiliki pengetahuan mapan, seraya menunjukkan bahwa setiap usaha memahami sesuatu selalu berhadapan dengan ambiguitas. Menariknya, eksplorasi filosofis itu tetap berpijak pada kesadaran kuat terhadap sejarah puisi Indonesia. Jejak pencapaian para penyair modern pendahulu, tradisi sastra sufi, permainan bunyi, rima, hingga pantun hadir sebagai gema yang diolah kembali menjadi bentuk baru dalam puisi. Heru memperlihatkan kemampuan menggabungkan pemikiran yang kompleks dengan ekonomi kata yang ketat, menghasilkan puisi-puisi yang ringkas tetapi meninggalkan gema panjang. Dalam puisi-puisi Heru yang paling memikat, percik pemikiran filosofis muncul membayang, tetapi kemudian dibuyarkan oleh citraan sekilas, kelebat sesuatu yang kecil, tetapi bekasnya tergurat kuat.

Memilih yang terbaik di antara keragaman suara puitik yang mewarnai Daftar Pendek KSK ini memang tidak mudah. Lebih-lebih karena setiap buku puisi tersebut memiliki kekuatan yang sukar sekali dibuat sebanding satu sama lain, hampir sama susahnya seperti memilih yang terbaik di antara warna merah, hijau, dan biru. Jika keragaman suara itu, berikut ukuran estetika masing-masing, hendak diperbandingkan satu sama lain, maka dapat dikatakan bahwa kita berhadapan dengan sebuah spektrum yang terbentang di antara abstraksi murni dan konkretisasi sepenuhnya, yakni antara puisi yang bercorak diskursif-serebral pada ujung ekstrem yang satu dan puisi yang bercorak afektif-sensoris pada ujung ekstrem yang lain. Dalam spektrum itu, kita dapat mengurutkan mulai dari karya Nirwan Dewanto, Heru Joni Putra, Ari Pahala Hutabarat, Ama Gaspar, hingga akhirnya Julia Gerhani Arungan. Namun, pada akhirnya, puisi yang berhasil adalah puisi yang mampu berbicara pada kedua register itu secara bersamaan, yakni puisi yang mampu mendobrak kebekuan pikiran sembari menggetarkan afek-afek pembaca, puisi yang diskursif tanpa kehilangan ikatannya pada semesta afek dan puisi yang afektif tanpa harus mengosongkan diri dari segala diskursus.

Atas dasar itulah, kami memilih sebagai pemenang KSK kategori puisi tahun ini Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat. Buku puisi ini mampu mempertemukan banyak hal sekaligus: mulai dari sejarah dalam skalanya yang paling kolosal hingga pengalaman personal yang paling privat, mulai dari bentuk sajak naratif dengan kalimat bulat sempurna hingga bentuk fragmentatif yang bekerja dengan lompatan, elipsis, dan non sequitur, selamanya berayun dalam tegangan antara motif ingatan dan pelupaan, dan berhasil menata komposisi dari semua unsur itu ke dalam sebuah buku puisi yang koheren dari segi bentuk maupun tematika. Sang penyair juga berhasil mengoplos keragaman pengaruh dari sejarah (sastra) dunia ke dalam sejarah (sastra) Indonesia sehingga potret Indonesia yang tampil di sini betul-betul mencerminkan keserentakan dari semua sejarah, rakitan dari beragam-ragam pecahan kepribadian. Membaca buku ini adalah seperti membaca sebuah puisi epik yang panjang alih-alih sekadar kumpulan puisi yang kebetulan dijadikan satu buku. Keutuhan yang disangga oleh keragaman unsur itulah, selain variasi bentuk yang terkandung di dalamnya, yang pada akhirnya menuntun kami selaku Dewan Juri untuk memilih Nusantara, Amnesia sebagai yang terbaik di antara lima karya yang baik dalam perhelatan KSK tahun ini.

Buku pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026:

  • Kategori Kumpulan Cerita Pendek diraih oleh Hantu Ulang-alik  karya Ratri Ninditya.
  • Kategori Novel diraih oleh Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal.
  • Kategori Kumpulan Puisi diraih oleh Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat.

Selamat kepada para pemenang.

  

Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Ketua:
Ni Made Purnama Sari

Anggota:
Andina Dwifatma
Arif Bagus Prasetyo
Martin Suryajaya
Saras Dewi


Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Penjurian Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 telah sampai pada penghujung, yakni penentuan pemenang untuk buku kategori Novel, Kumpulan Cerita Pendek, dan Kumpulan Puisi. Setelah melakukan pembacaan secara mendalam dan bertahap, Dewan Juri yang terdiri dari sastrawan serta pemerhati sastra, yaitu Andina Dwifatma, Arif Bagus Prasetyo, Martin Suryajaya, Ni Made Purnama Sari, dan Saras Dewi, mengungkapkan apresiasi bagi para penulis maupun penerbit yang telah mengerahkan kerja-kerja kreatifnya sehingga tahun 2025 terasa semarak dengan hadirnya buku-buku sastra yang bermutu.

Selama proses penilaian tersebut, Dewan Juri mencermati keluasan cakrawala puitik dan naratif, bertumpu pada kekriyaan bahasa, keutuhan konsep artistik, ketajaman gagasan, serta pengerahan kerja kreatif yang memperluas wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas.

“Setiap anggota Dewan Juri sepakat bahwa karya yang masuk memiliki capaian artistik dan pengayaan tematik yang sangat memikat. Dengan caranya tersendiri, setiap penulis berusaha mengisi, mengembangkan, maupun memberi kemungkinan lain dari karya-karya sastra yang telah ada di Indonesia, dan usaha pencarian ini patut untuk dihargai,” ujar Ni Made Purnama Sari.

Karena kualitas karya yang hampir sepadan, diskusi yang mendalam dalam menentukan pemenang pun dilakukan. Ada kalanya argumen dari setiap juri saling melengkapi, dan tidak jarang terjadi silang dialog untuk menelisik kembali pandangan-pandangan personal setiap juri. Pada akhirnya, Dewan Juri berharap karya yang terpilih maupun masuk dalam nominasi akan terus dibaca serta dibincangkan karena semuanya memiliki nilai yang berharga untuk sastra Indonesia.

Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 diraih oleh novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal (Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia), buku kumpulan cerpen Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya (Penerbit baNANA), dan buku kumpulan puisi Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat (Penerbit Lampung Literature).

Andina Dwifatma menyebutkan novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar unggul lewat teknik bercerita yang matang, serta keberhasilan dalam menghadirkan novel polifonik yang berisi aneka suara dan gagasan. “Pengarang dapat mengisahkan suara bermacam-macam karakter di dalamnya tanpa terjebak ke dalam nada yang serupa. Selain itu, pengarang juga berhasil mengolah tema domestik menjadi penjelajahan estetik yang berbobot,” ujarnya.

Sementara itu, buku kumpulan cerpen Hantu Ulang-alik menunjukkan keberanian dalam bereksperimen dengan bahasa urban yang tanpa pretensi. “Karya ini juga memperlihatkan ketajaman perspektif dalam menangkap suara perempuan pekerja serta gaya penceritaan yang mengalir alami,” ungkap Martin Suryajaya.

Arif Bagus Prasetyo memberikan catatan bahwa buku puisi Nusantara, Amnesia berhasil mempertemukan banyak unsur sekaligus, mulai dari sejarah paling kolosal hingga pengalaman privat. “Karya ini dengan gemilang mengolah trauma sejarah menjadi pengalaman puitik yang kaya, mendobrak kebekuan pikiran sembari menggetarkan emosi melalui komposisi yang padu secara bentuk maupun tema,” ujarnya.

“Kepada seluruh penulis dan penerbit yang terus setia merawat napas daya cipta sastra, kami haturkan hormat setinggi-tingginya. Semoga karya-karya terpilih tahun ini makin memantik inspirasi, memperluas imajinasi, dan mendorong kemungkinan kreativitas baru pada masa mendatang,” demikian disampaikan Saras Dewi.

Pratiwi Juliani Ketua Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia sebagai pelaksana menyampaikan bahwa bagi Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia, Kusala Sastra Khatulistiwa merupakan sebuah ikhtiar untuk mempertemukan pembaca dengan buku-buku sastra Indonesia yang bermutu untuk dirayakan dalam keberagaman karya dan terus dibicarakan.

“Setiap tahun, kami ingin agar judul-judul yang lahir dari proses seleksi tidak berhenti sebagai daftar pengumuman semata, melainkan menjadi semacam peta kecil bagi pembaca, atau sebuah rujukan untuk menemukan karya yang bermutu, beragam, dan mampu memperluas cara kita melihat manusia serta dunia di sekitar kita,” jelas Pratiwi.

Pengumuman Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa dilakukan secara daring melalui kanal resmi Kusala Sastra Khatulistiwa pada Minggu, 23 Agustus 2026. Sementara itu menurut Direktur Program Kusala Sastra Khatulistiwa Gema Mawardi, pembacaan laporan pertanggungjawaban Dewan Juri dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 akan dilakukan pada gelaran Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2026, Sabtu, 12 September 2026, di Graha Utama, Gedung A Lantai 3 Kemendikdasmen, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.

“Ini dibedakan dari pelaksanaan KSK tahun-tahun sebelumnya di mana pengumuman dari Dewan Juri dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa dilaksanakan pada hari yang sama. Tahun ini, Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa dilaksanakan setelah sebelumnya para pemenang diumumkan kepada publik,” papar Gema Mawardi.

Tahun ini, juri dipilih oleh para kurator Kusala Sastra Khatulistiwa yaitu Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria.

“Kami berupaya menjaga kemandirian dan independensi Kusala Sastra Khatulistiwa dengan membangun fondasi dukungan yang semakin luas dan beragam. Pada tahun pertama, dukungan pemerintah menjadi bagian penting dalam mengembalikan KSK ke dalam ekosistem sastra Indonesia. Memasuki tahun kedua, tantangannya adalah memastikan keberlanjutan KSK setelah fase pemulihan tersebut, sekaligus memperkuat kelembagaan dan memperluas jejaring yang menopangnya. Karena itu, kami ingin mendorong keterlibatan yang lebih luas, dengan mempertemukan dukungan pemerintah, sektor swasta, lembaga kebudayaan, penerbit, komunitas sastra, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan sastra Indonesia,” jelas Hasan Aspahani, salah seorang kurator Kusala Sastra Khatulistiwa.

Pelaksanaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan LPDP, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Astra, Falcon Pictures, Balai Sastra HB Jassin, dan Komunitas Utan Kayu.

Selamat kepada para pemenang dan sampai jumpa pada gelaran Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.


Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) merupakan penghargaan bagi karya sastra terbaik yang terbit sepanjang tahun, yang menunjukkan pengerahan kerja kreatif sastrawan Indonesia, pengembangan potensi estetis bahasa Indonesia, serta perluasan wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas kehidupan masyarakat.

Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) menyelenggarakan KSK 2026 dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiaraya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tahun ini, KSK juga didukung oleh Astra serta kolaborasi dengan Falcon Pictures. Dalam penyelenggaraan KSK, yayasan didampingi tiga orang kurator: Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria yang melaksanakan peran strategis dalam merancang program, mendampingi proses penyelenggaraan, termasuk memilih Dewan Juri.

“Sebelumnya, pada 20 Juni 2026, KSK telah mengumumkan Daftar Panjang yang memuat karya-karya pilihan hasil seleksi awal. Dari daftar tersebut, Dewan Juri melanjutkan pembacaan, pembahasan, serta penilaian secara lebih mendalam sehingga didapatkan Daftar Pendek, yakni lima judul terbaik dari masing-masing kategori Novel, Kumpulan Cerita Pendek, dan Kumpulan Puisi.

Pengumuman Daftar Pendek ini merupakan tahapan penting menjelang penetapan penerima Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Selanjutnya, Dewan Juri akan melakukan pembahasan akhir untuk menentukan satu karya terbaik pada setiap kategori yang akan menerima penghargaan tahun ini. Pengumuman pemenang dan Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini akan dilaksanakan secara terpisah,” demikian disampaikan Direktur Program Kusala Sastra Khatulistiwa Gema Mawardi.

Secara umum, penilaian mempertimbangkan kecakapan penulis dalam mendayagunakan bahasa sebagai medium artistik, kemampuan menghadirkan perspektif yang membuka cara pandang baru terhadap berbagai fenomena kehidupan, serta ketajaman dalam menanggapi persoalan-persoalan yang mengemuka di masyarakat. Selain itu, Dewan Juri juga mencermati sejauh mana setiap karya mampu memperkaya capaian kreatif yang telah ada sekaligus menawarkan kemungkinan-kemungkinan estetik baru yang berpotensi memberi arah bagi perkembangan sastra Indonesia pada masa mendatang.

Melalui pertimbangan tersebut, Daftar Pendek KSK 2026 ditetapkan dengan memberikan perhatian utama pada kualitas kekaryaan dan kekriyaan yang ditawarkan para penulis. Karya-karya yang terpilih diharapkan merepresentasikan capaian artistik yang paling menonjol di antara buku-buku sastra Indonesia yang terbit sepanjang tahun 2025, sekaligus menjadi penanda penting bagi dinamika kesusastraan Indonesia hari ini.

Berikut Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Daftar Pendek Kategori Novel

  1. Alok (Penulis: Arie Saptaji, Penerbit: POST Press)
  2. Ikhtiar yang Tak Benar-Benar (Penulis: Nukila Amal, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  3. Katri (Penulis: Adeste Adipriyanti, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  4. Seakan Bisa Dipisahkan (Penulis: Ruhaeni Intan, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  5. Tersesat Setelah Terlahir Kembali (Penulis: Yoga Zen, Penerbit: Marjin Kiri)

 Daftar Pendek Kategori Kumpulan Cerpen

  1. Cara Menghadapi Kehilangan (Penulis: Yetti A.KA., Penerbit: DIVA Press)
  2. Hantu Ulang-alik (Penulis: Ratri Ninditya, Penerbit: baNANA)
  3. Jose Kecil Dalam Dirimu (Penulis: Kaisar Deem, Penerbit: Bara Books)
  4. Misi Menggagalkan Doa (Penulis: Yoga Palwaguna, Penerbit: Langgam Pustaka)
  5. Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri (Penulis: T. Agus Khaidir, Penerbit: Buku Kompas)

 Daftar Pendek Kategori Kumpulan Puisi

  1. Ke Arah Museum Revolusi (Penulis: Nirwan Dewanto, Penerbit: Warning Books)
  2. Kutu-Kutu Joni (Penulis: Julia F. Gerhani Arungan, Penerbit: DIVA Press)
  3. Nusantara, Amnesia (Penulis: Ari Pahala Hutabarat, Penerbit: Lampung Literature)
  4. Pagar Rumahku Berubah Warna (Penulis: Ama Gaspar, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama)
  5. Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan (Penulis: Heru Joni Putra, Penerbit: Teroka Press)


Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) merupakan penghargaan bagi karya sastra terbaik yang terbit sepanjang tahun, yang menunjukkan pengerahan kerja kreatif sastrawan Indonesia, pengembangan potensi estetis bahasa Indonesia, serta perluasan wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas kehidupan masyarakat. Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) menyelenggarakan KSK 2026 dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia Raya, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dalam penyelenggaraan KSK, yayasan didampingi tiga orang kurator: Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria yang melaksanakan peran strategis dalam merancang program, mendampingi proses penyelenggaraan, termasuk memilih Dewan Juri.

KSK tahun ini telah sampai pada Daftar Panjang, sepuluh judul buku sastra Indonesia yang terbit pertama kali sepanjang tahun 2025 dalam tiga kategori: Novel, Kumpulan Cerita Pendek, dan Kumpulan Puisi. Daftar ini merupakan hasil seleksi tahap pertama yang dilakukan oleh dewan juri. Selanjutnya, karya-karya yang terpilih akan memasuki tahap penilaian berikutnya untuk menentukan Daftar Pendek dan para penerima Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini. Daftar Panjang bukanlah peringkat, melainkan penanda atas karya-karya yang dinilai memiliki pencapaian artistik dan relevansi penting dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Melalui proses penjurian berjenjang, KSK berupaya menghadirkan pembacaan yang cermat dan bertanggung jawab terhadap keragaman praktik kreatif yang hidup dalam sastra Indonesia hari ini.

Catatan Umum Dewan Juri tentang Daftar Panjang KSK 2026

Setelah melalui serangkaian diskusi, Dewan Juri menetapkan Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2026 untuk kategori Novel, Kumpulan Cerita Pendek, dan Puisi. Seluruhnya merupakan karya yang diterbitkan pertama kali dalam kurun tahun 2025.

Mula-mula yang patut diapresiasi adalah kreativitas para penulis serta ketekunan penerbitan buku-buku sastra yang kian menemukan nuansa keberagamannya. Dari karya-karya tersebut, terlihat sebaran tema yang menyentuh aneka lapis persoalan masyarakat, semisal kegetiran kaum urban, terdesaknya kelompok pinggiran, krisis ekologis, pemaknaan ulang sejarah dan makna budaya, serta lain sebagainya. Seluruhnya dikemas dalam pengerahan kerja kreatif yang khas, baik dari sisi berbahasa maupun konsep artistik, menjadikan terbitan buku sastra sepanjang tahun 2025 terasa semarak.

Meskipun menemukan buku-buku yang menarik perhatian, tidak dimungkiri masih terdapat karya-karya yang disayangkan kurang prima penggarapannya. Masalah-masalah dalam kemampuan bercerita maupun kelemahan strategi berbahasa seringkali dijumpai, menunjukkan kerja kepenulisan bukan hanya membutuhkan ketelatenan dan kepekaan, melainkan pula napas mencipta yang panjang.

Dewan Juri juga sangat menghormati kegigihan berbagai institusi yang secara mentradisi memberikan penghargaan terhadap buku-buku sastra di Indonesia. Tentu akan muncul variasi pilihan, bahwa ada sejumlah buku memiliki irisan kurasi yang sama, dan ada pula yang barangkali berbeda. Daftar panjang kali ini sekaligus diniatkan sebagai apresiasi atas keberagaman ekspresi, suara, serta pencarian estetik para penulis sastra di Indonesia, yang semoga dapat turut mendorong perluasan kemungkinan kreativitas di masa mendatang.

Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2026 adalah sebagai berikut:

Kategori Novel

  1. Alok (Penulis: Arie Saptaji, Penerbit: POST Press)
  2. Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit (Penulis: Dewanto Amin Sadono, Penerbit: Rua Aksara)
  3. Ikhtiar yang Tak Benar-Benar (Penulis: Nukila Amal, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  4. Jagat Rajawali (Penulis: Eko Darmoko, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  5. Katri (Penulis: Adeste Adipriyanti, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  6. Koloni (Penulis: Ratih Kumala, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama)
  7. Nyi Sadikem: Sebuah Novel (Penulis: Artie Ahmad, Penerbit: Marjin Kiri)
  8. Seakan Bisa Dipisahkan (Penulis: Ruhaeni Intan, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia)
  9. Seratus Tahun Kebisuan (Penulis: Wawan Kurniawan, Penerbit: DIVA Press)
  10. Tersesat Setelah Terlahir Kembali (Penulis: Yoga Zen, Penerbit: Marjin Kiri)

Kategori Kumpulan Cerita Pendek

  1. Antara Doa dan Debu (Penulis: Jantan Putra Bangsa, Penerbit: Basabasi)
  2. Cara Menghadapi Kehilangan (Penulis: Yetti A.KA., Penerbit: DIVA Press)
  3. Hantu Ulang-alik (Penulis: Ratri Ninditya, Penerbit: baNANA)
  4. Jasad sang Pelacur dan Pemakaman Keduanya (Penulis: Christian Dan Dadi, Penerbit: Dusun Flobamora)
  5. Jose Kecil Dalam Dirimu (Penulis: Kaisar Deem, Penerbit: Bara Books)
  6. Kebaya Merah di Tebing Kanal (Penulis: Martin Aleida, Penerbit: Buku Kompas)
  7. Kucing Bernama Kura-Kura (Penulis: Ab Asmarandana, Penerbit: Langgam Pustaka)
  8. Misi Menggagalkan Doa (Penulis: Yoga Palwaguna, Penerbit: Langgam Pustaka)
  9. Tata Cara Menikmati Kekasih (Penulis: S Permata, Penerbit: Velodrom)
  10. Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri (Penulis: T. Agus Khaidir, Penerbit: Buku Kompas)

Kategori Kumpulan Puisi

  1. Bahasa Pohon-Pohon Tumbang (Penulis: M. Aan Mansyur, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama)
  2. Ke Arah Museum Revolusi (Penulis: Nirwan Dewanto, Penerbit: Warning Books)
  3. Kutu-Kutu Joni (Penulis: Julia F. Gerhani Arungan, Penerbit: DIVA Press)
  4. Melahirkan Ibu (Penulis: Aghnia Tazqiah, Penerbit: Velodrom)
  5. Nusantara, Amnesia (Penulis: Ari Pahala Hutabarat, Penerbit: Lampung Literature)
  6. Pagar Rumahku Berubah Warna (Penulis: Ama Gaspar, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama)
  7. Rubaiyat Den Sastro (Penulis: Sapardi Djoko Damono, Penerbit: Indonesia Tera)
  8. Seberapa Indie (Penulis: Hamzah Muhammad, Penerbit: Warning Books)
  9. Sehelai Bulu Kosmos (Penulis: Alpha Hambally, Penerbit: Mori)
  10. Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan (Penulis: Heru Joni Putra, Penerbit: Teroka Press)

Pada tahap selanjutnya, Dewan Juri akan menetapkan Daftar Pendek yang akan diumumkan dalam waktu mendatang, sebelum akhirnya memilih karya-karya penerima Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Kami mengucapkan selamat kepada seluruh penulis yang masuk dalam Daftar Panjang tahun ini, serta menyampaikan penghargaan kepada para penerbit, pembaca, dan seluruh pihak yang terus menjaga keberlangsungan ekosistem sastra Indonesia.


Panggilan Terbuka Kusala Sastra Khatulistiwa 2026

Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) merupakan penghargaan sastra bergengsi yang menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001 oleh Richard Oh dan kawan-kawan dengan nama Khatulistiwa Literary Award, penghargaan ini hadir sebagai ruang apresiasi bagi karya-karya sastra Indonesia yang menandai zamannya. Sejak tahun 2014, penghargaan ini berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa, sebagai upaya memperkuat identitas serta konsistensi penggunaan bahasa Indonesia. Selama lebih dari dua dekade, KSK telah mengangkat dan mengapresiasi karya para penulis terkemuka yang memperkaya tradisi prosa maupun puisi Indonesia.

Untuk menjaga kesinambungan penghargaan ini setelah wafatnya Richard Oh pada tahun 2022, keluarga bersama para sahabat dekat kemudian mendirikan Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) pada tahun 2024. Yayasan ini mengemban mandat untuk meneruskan semangat filantropis dan kecintaan Richard Oh terhadap sastra Indonesia, sekaligus menjadi penyelenggara Kusala Sastra Khatulistiwa. Dalam pelaksanaannya, YRKI didampingi oleh tiga orang kurator, yaitu Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria, yang menjalankan peran strategis dalam merancang program, mendampingi proses penyelenggaraan, serta menentukan dewan juri.

Dengan dukungan Dana Indonesiana serta sejumlah mitra lain, Kusala Sastra Khatulistiwa kembali diselenggarakan pada tahun 2025. Pada edisi tersebut, penghargaan diberikan dalam tiga kategori, yaitu kumpulan cerpen, novel, dan kumpulan puisi. Adapun para pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 adalah:

  1. Kategori Kumpulan Cerpen: Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama
  2. Kategori Novel: Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday
  3. Kategori Kumpulan Puisi: Hantu Padang karya Esha Tegar Putra

Keberhasilan penyelenggaraan tahun 2025 menandai babak baru dalam sejarah Kusala Sastra Khatulistiwa, sekaligus mempertegas posisinya sebagai ajang penghargaan yang tidak hanya mengapresiasi karya sastra terbaik, tetapi juga berupaya memperluas jangkauan pembaca melalui program literasi yang lebih inklusif.

Memasuki tahun 2026, Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia kembali menyelenggarakan Kusala Sastra Khatulistiwa sebagai kelanjutan dari komitmen untuk menghadirkan penghargaan sastra yang berkesinambungan. Penyelenggaraan tahun ini diharapkan tidak hanya melanjutkan tradisi yang telah terbangun, tetapi juga semakin memperkuat peran KSK dalam ekosistem kesusastraan Indonesia di masa mendatang.

Dengan ini, YRKI secara resmi mengumumkan syarat dan ketentuan penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa 2026. Informasi lain mengenai hadiah, Daftar Panjang, Daftar Pendek, dan lain-lain akan disampaikan dalam pengumuman berikutnya.


Syarat dan Ketentuan

  1. Terbuka bagi penulis berkewarganegaraan Indonesia. Karya yang diajukan merupakan hasil karya penulis tunggal dan tidak melanggar hak cipta.
  2. Karya yang diajukan berupa buku cetak yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2025.
  3. Karya ditulis dalam bahasa Indonesia.
  4. Tiga kategori karya:
    • Kumpulan cerpen, dengan jumlah minimal dua cerpen.
    • Novel, dengan panjang minimal 30.000 kata.
    • Kumpulan puisi, yang terdiri dari minimal 40 puisi, atau 40 halaman, atau satu puisi panjang dengan total minimal 40 halaman.
  1. Penerbit atau penulis mengirimkan setidaknya dua eksemplar dari setiap judul karya yang diajukan. Pengiriman disertai dokumen pendukung berupa biodata penulis dan mencantumkan informasi kontak.
  2. Karya dikirimkan paling lambat tanggal 28 Februari 2026 (cap pos). Karya dikirimkan ke:

Kusala Sastra Khatulistiwa 2026
ED Cluster No. 2A
Jalan Gunung Indah V
Cirendeu, Ciputat Timur,
Tangerang Selatan, Banten
15445

  1. Daftar panjang dan daftar pendek karya terpilih diumumkan sebelum pengumuman pemenang.
  2. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada acara Malam Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.

Narahubung
Email: info@kusala.id


Laporan Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2025 yang dibentuk oleh penyelenggara telah bekerja maksimal dan sungguh-sungguh berdasarkan penghayatan, pengetahuan, dan pengalaman bergumul dengan karya sastra dan pengetahuan sastra. Dalam menilai dan memutuskan karya sastra mana yang terpilih dalam daftar panjang, kemudian daftar pendek, dan akhirnya pemenang, Dewan Juri bersepakat mengedepankan penilaian-penilaian kepakaran (expert judgmental) yang didasarkan pada pengalaman panjang dan pengetahuan mencukupi di bidang karya sastra.

Selain itu, Dewan Juri juga bersepakat bahwa pertama-tama pembacaan dan penilaian berpusat pada teks, pada karya sastra, bukan pada pertimbangan gender, domisili sastrawan, penerbit, dan sebagainya. Kedaulatan dan otonomi teks sastra menjadi fokus utama, kemudian baru fokus intertekstualitas baik sinkronis maupun diakronis.

Lebih lanjut, Dewan Juri bekerja secara personal dan kolektif untuk memutuskan manakah karya-karya sastra yang lolos daftar panjang, daftar pendek, dan kemudian pemenang. Pada taraf personal, masing-masing juri menghayati, memahami, mencermati, menanggapi, dan menilai karya-karya sastra yang terbit tahun 2024 yang diterima oleh panitia maupun yang dipantau oleh Dewan Juri. Hasilnya kemudian didiskusikan secara kolektif dalam forum-forum pertemuan yang digelar untuk menilai dan memutuskan karya sastra mana yang layak lolos daftar panjang, daftar pendek, dan lalu pemenang. Dengan cara demikian, penilaian dan pengambilan keputusan mana karya sastra yang masuk daftar panjang, daftar pendek, dan lalu pemenang memenuhi standar intersubjektivitas yang biasa digunakan dalam dunia humaniora.

Secara lebih spesifik, penghargaan karya sastra terbaik sepanjang tahun 2024 ini difokuskan untuk memilih karya-karya yang menunjukkan pengerahan kerja kreatif sastrawan Indonesia, pengembangan potensi estetis dalam penggunaan bahasa Indonesia, dan perluasan kemungkinan wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas.

KEMBALI KEPADA HAKIKAT CERPEN

Dunia terus bergerak, Bumi konsisten berputar mengayuh waktu. Memang demikianlah hukum rotasi alam semesta bagi semua planet termasuk yang kita huni selama ini. Oleh karena itu, ketika peradaban beranjak maju, kadang-kadang menemu siklus, seolah-olah blue print kehidupan selain linier juga spiral. Hal itu berlaku hampir untuk semua peristiwa sembari melahirkan sesuatu yang (mungkin) baru. Di sisi langkah kita, peribahasa klise kerap mengganggu: tidak ada yang betul-betul anyar di bawah matahari.

Dalam pencarian satu bidang seni saja, dalam hal ini sastra, kami belum tentu menemukan. Saat kami menemukan karya cipta dengan batasan kurun waktu singkat—setahun saja—tidak dapat dipastikan bahwa itu yang kami cari. Namun, alangkah repot dan naif bila semua unsur harus menjadi penghalang kehadiran anak kreatif yang mungkin merupakan perasan pikiran, spiritual, pengalaman, dan keterampilan bagi rahimnya. Berbeda dengan kelahiran bayi biologis yang bergantung kepada Takdir (t besar), munculnya karya sastra seolah-olah diatur oleh takdir (T kecil) lain. Pengarang bisa atau boleh menjadi tuhan meski beberapa pujangga juga menyebutkan bahwa inspirasi dan gagasan menggerakkan tangannya untuk menuliskan peristiwa—seakan-akan tanpa ia sadari.

Lima kumpulan cerpen yang kelak harus kami pilih satu di antara mereka sebagai yang “terbaik” semoga memenuhi kriteria secara umum kendati tidak semua pembaca—tentu saja termasuk dewan juri—memiliki selera yang sama. Justru keberagaman pandangan, layaknya rahmat, memberi kami kekayaan batin dan pikir satu sama lain. Perdebatan sejak awal sudah terjadi untuk mendapatkan mula-mula sepuluh dari sekian yang kami baca, tetapi bukan pertengkaran yang kami cari. Pandangan lazim dan argumentasi yang saling menonjok, ternyata mirip batu asah yang sedang menyigar dan memangkas intan untuk menjadi berlian.

Kini tersisa—lebih tepat terwakili—lima kumpulan cerpen dengan menepikan persoalan gender dan geografis para penulisnya. Kami memilih melalui pengamatan yang fokus terhadap teks karena ini karya sastra yang semestinya melingkupi perkara antara lain gagasan dan cara bertutur yang ditawarkan, percobaan yang diupayakan, dan pijar kacil yang menggugah kesadaran kami untuk mengatakan bahwa ini elok. Apakah elok yang kami maksud merupakan gabungan antara etik, estetik, eksotik, dan eklektik? Bisa ditafsir demikian walau dalam penilaian karya seni, tidak ada bungkus yang tepat dan memadai selain pertanggungjawaban sewaktu-setempat yang diharapkan kokoh dan dipercaya.

Kehadiran para pengarang “baru” seperti kebetulan mengisi ruang kompetisi dan itu menarik perhatian kami. Setidaknya kami mengamati karya-karya yang melepaskan diri dari epigonisme sekaligus memberikan percik asyik. Giringan pembacaan itu membawa kami untuk memasuki ruang renung yang berbeda, kegelisahan yang lain, gaya berdongeng yang tidak diikat kaidah-kaidah lama. Seiring teknologi yang seolah-olah melompat sejak kedatangan internet dan difungsikan secara mau-tak-mau sepanjang pandemi Corona, jaringan pun meluas dengan sendirinya. Kegelisahan atau ruang renung yang semula privat dikobarkan dengan melepaskan diri dari personalitas menuju universalitas. Mungkin masing-masing pengarang sedang dirundung kutuk untuk segera menuangkan gagasan dalam teks sehingga yang monofonik berubah menjadi polifonik.

Membincang tema, pada dasarnya semua berangkat dari “aku” yang mewakili masyarakat atau karakter komunal. Kemudian, satu demi satu melangkah pada tradisi tertentu, mengulik kesehatan mental, persoalan unik dialektika, harapan yang sebagian besar masygul, absurditas justru tentang realita yang kadang-kadang melampaui fantasi. Ketika menghadapi kondisi—di luar situasi politik—yang rumit itu membuat para pengarang membuka gembok katarsis, kami ingin menggarisbawahi: inilah kekinian yang sedang berlangsung.

Iblis Tanah Suci karya Arianto Adipurwanto menyajikan berbagai titik nadir manusia dalam suatu masyarakat yang masih meyakini mitos terkait roh leluhur. Dua wilayah dimensi yang berbeda diibaratkan ruang ulang-alik yang setiap pribadi boleh menyatakan sebagai kebenaran. Kesengsaraan tampak sangat lugas, bahkan negara seperti tidak hadir dalam ranah itu. Sementara itu, Keluarga Oriente karya Armin Bell memutar lensa zoom in untuk mendapatkan kisah-kisah setengah heroik dalam lokasi kecil. Ada unsur parodi yang penulisnya—sebagaimana syarat seorang komika—"tidak boleh ikut tertawa”. Ironisme hadir begitu halus tertutup oleh kesederhaannya bertutur dengan liku-liku yang strategis dan simpulan untuk terperangah.

Dalam Mei Salon karya Iin Farliani, tampak cerita-cerita serupa biji jagung yang ditebar di hamparan tanah, meluncur ke sana-kemari. Yang semula dalam genggaman, bisa berakhir di utara atau barat, sebelum pelbagai burung (pembaca) mematukinya. Sebetulnya kehidupan yang panjang bagi setiap insan, ada kalanya mendapati episode tidak memiliki tujuan atau sedang sangat peduli terhadap keadaan sosial di sekitarnya. Kepedulian yang boleh jadi mengusik kemerdekaan pribadi di tengah tarik-menarik kepentingan itu mengakibatan mental kita terganggu. Dengan memasuki dan memerankan tokoh yang tidak selalu manusia, Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu karya Sasti Gotama menyodorkan semacam kertas kerja atas pasien yang tidak tahu apa penyakitnya. Gaya tuturnya memberi warna baru dengan menyediakan labirin dalam plot yang secara umum perlu dibaca ulang. Di akhir kisah tercantum twist yang menyaru. Sang penulis demikian detail menggambarkan perangkat dalam pokok pembicaraan, juga menjuluki para tokoh sesuai karakternya.

Satu-satunya yang sudah mengarungi pengalaman panjang dalam dunia penulisan adalah Kiki Sulistyo dengan kumpulan cerpen Musik Akhir Zaman. Soal kepiawaian mengolah ide dan menyajikan sebagai menu spesial di meja makan—yang wadag atau maya—masih bertahan. Harmoni antara realisme dan surealisme kadang-kadang mendedahkan kritik simbolik terhadap kemapanan keyakinan, termasuk sisipan tragedi masa lalu yang memang tidak tuntas sebagai bahan pembicaraan. Saat bermain memindahkan point of view, misalnya, membuat kami seperti sedang melihat karya seni psikologis.

Dari daftar pendek berupa lima kumpulan cerpen tersebut, tanpa sengaja kami bagai kembali kepada prinsip cerita pendek yang memang pendek. Mengapa cerpen harus panjang seolah-olah berkhianat terhadap “rukun”-nya kemudian dibuat istilah cerpen panjang atau setenag novela? Dengan keterbatasan ruang, bahkan untuk media massa cetak, seolah-olah hal itu menjadi rintangan. Namun, seorang cerpenis tidak boleh kehilangan daya. Dengan kebiasaan para pembaca instan dan penganut iformasi digital, medium pun berubah. Kini, bukan hanya soal ruang, melainkan mereka juga bertarung dengan waktu. Maka wajar jika penulis cerpen yang “pintar” akan mengambil peluang jitu memburu pembacanya dengan kisah-kisah ringkas. Dengan demikian pemeo lawas bahwa “cerpen habis dibaca dalam sekali duduk” sungguh menjadi tantangan. Bagaimana taktiknya? Misalnya dengan memperkecil jumlah konflik, mengurangi tokoh, membatasi paparan yang tidak berguna …. Ahai, tentu ini bukan nasihat dewan juri tahun ini yang sekali waktu mengalami hal yang sama dalam menulis cerpen.

Buku kumpulan cerpen terbaik yang kami pilih mahir meramu ironi guna menyoroti masalah-masalah kesehatan mental ataupun menyingkap sisi lain dari realitas. Masing-masing cerita memiliki pusat yang tidak selalu manusia dan oleh karena itu menghadirkan dunia yang unik. Ketelitian penulis tampak dalam ketangkasannya menggunakan bahasa, latar, dan konflik yang taut-menaut membangun dunia dalam cerpen-cerpennya.

TEKS PANJANG NOVEL
PADA ERA KESINGKATAN DAN MYSIDE THINKING

Zaman kontemporer adalah zaman yang menawarkan kesingkatan, termasuk terkait teks, dan tradisi myside thinking, kegemaran untuk ikut-ikutan berpendapat tanpa menimbang kepakaran. Ditarik ke ranah produksi teks kreatif, dua karakteristik itu sepintas tampak menyusun ekosistem yang tidak mendukung produksi novel. Karakteristik pertama bertentangan dengan karakteristik novel sebagai satu tipe teks fiksi yang identik dengan naratif panjang. Karakteristik kedua bertentangan dengan karakteristik novel sebagai satu tipe teks fiksi yang menuntut keutuhan tematis, satu hal yang hanya dimungkinkan oleh penguasaan atas tema itu sendiri.

Lantas, kita mungkin bertanya-tanya seperti apakah nasib novel dalam situasi semacam itu? Berdasarkan jumlah novel yang masuk ke dalam seleksi awal Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 maka kita mendapatkan perkiraan kasar bahwa sepanjang tahun 2024 terbit 6 novel tiap bulan, jumlah yang sedikit lebih banyak dari antologi cerpen, tetapi lebih sedikit dari antologi puisi. Tentu ada banyak faktor lain yang memengaruhi komparasi tersebut, tetapi setidaknya bisa kita katakan bahwa iklim kegandrungan akan kesingkatan ternyata tidak banyak memengaruhi ekosistem tempat para novelis kita bekerja.

Pengaruh itu mungkin justru lebih tampak dalam karakteristik yang kedua, penguasaan novelis akan tema yang disodorkan dalam novel. Penguasaan atas apa yang disodorkan, sebagaimana juga penguasaan atas naratologi, cara menyodorkan naratif, tidak selalu tampak pada novel-novel yang tercantum dalam daftar novel masuk untuk diseleksi oleh dewan juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Kelima novel yang kami pilih sebagai Daftar Pendek ini merupakan novel-novel yang setelah melalui perdebatan panjang kami putuskan paling memenuhi timbangan kami terkait kesegaran, kreativitas berbahasa, dan potensi nilai pentingnya sebagai satu teks sastra.

Novel pertama, BEK karya Mahfud Ikhwan, menyajikan kekhasan tema yang disampaikan dengan gaya bahasa naratif pengarangnya yang juga tidak kalah khas, mencerminkan pergulatan panjang pengarangnya dengan dunia prosa. Novel ini tampak hadir pertama-tama sebagai novel, yakni prosa yang, dengan mode perlokusi, mencoba memantik kenikmatan pembaca melalui naratif, melalui keprigelan pengarangnya menggunakan bahasa. Akan tetapi hal tersebut bukan menandakan bahwa novel ini jatuh menjadi sekadar prosa hiburan, melainkan justru sebaliknya, isu-isu penting yang tidak pernah lekang dari hidup, semisal isu ekonomi, hadir terselip dengan natural sehingga menciptakan komposisi holistis sebuah novel, padu antara bentuk dengan konten.

Dengan gaya berbeda dari BEK, Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday menampilkan kisah yang menempatkan jelajah batin karakter-karakternya sebagai poros. Kesegaran hadir dalam kemungkinan tautan antara kisah tersebut dengan gema teori sastra Ekokritik dan lebih spesifik lagi Ekofeminisme. Tautan dengan teori-teori terbaru dalam Ilmu Sastra tersebut, berbeda dengan yang ditemukan dalam apa yang lazim disebut sebagai sastra bertendens, bukan hadir secara terang-benderang melainkan hanya mungkin hadir setelah melalui penapisan cermat di sela kenikmatan jelajah naratif.

Dua novel selanjutnya, Matthes karya Alan Th dan Paya Nie karya Ida Fitri, secara khusus memosisikan sejarah sebagai urat tunggang, satu upaya yang membutuhkan keprigelan tersendiri karena terpeleset sedikit saja akan menjatuhkan teks novel menjadi hanya pengulangan teks sejarah. Sejarah dalam Matthes bertolak dari sejarah teks-teks klasik, terutama I La Galigo, sebuah teks tentang teks. Naratif kemudian bergerak menghasilkan jahitan rapi dengan berbagai isu yang kerap luput dalam pembicaraan sejarah, termasuk gairah penemuan sampai penerjemahan teks terkait pada periode yang jauh. Dibaca pada masa kini, elaborasi semacam itu bisa menjadi semacam pengingat pada kerja pengarsipan teks kesusastraan kita yang pernah dilakukan dengan tekun oleh H.B. Jassin sekaligus sindiran halus betapa semakin memudarnya gairah semacam itu seiring terjadinya pergantian generasi.

Adapun novel Paya Nie bertolak dari peristiwa besar yang mengendap sebagai memori perjumpaan paksa dan tragis antara penduduk sipil dan militer di Aceh. Endapan senada memang sudah berkali-kali muncul sepanjang dua dekade terakhir kesusastraan kita, baik berupa letupan ataupun bisikan, baik dalam bentuk puisi ataupun terutama prosa. Akan tetapi Paya Nie memiliki kekhasan naratif berupa percampuran lokalitas dengan keindonesiaan yang natural serta penempatan perempuan dan anak-anak sebagai poros naratif, dua pihak yang kerap terabaikan dalam narasi-narasi rekaman gemuruh konflik bersenjata yang cenderung bersifat falik.

Terakhir, Oni Jouska karya Asep Ardian adalah novel yang bisa dikatakan hadir pada momen tepat dengan takaran pas dari segi tematik. Novel ini semacam fabel kontemporer yang menyajikan tema terkait isu sangat urgen pada masa kini, yakni isu ekologi. Dengan menempatkan lautan sebagai latar dan ikan remora kecil sebagai narator, novel menggelitik pembaca untuk melakukan kontemplasi ulang terkait relasi antara manusia dengan lingkungan. Secara lebih spesifik lagi relasi antara manusia dengan apa yang oleh Helen Czerski disebut sebagai Mesin Biru, kekayaan alam Indonesia yang, setelah lama terlantar, kembali mendapat perhatian kembali belakangan ini, baik disebabkan oleh kesadaran akan nilai penting relasi tersebut ataupun sekadar didorong oleh memori akan kejayaan maritim di masa lampau.

Menjelajahi dunia novel kontemporer kita dan berakhir, untuk sementara, dengan memutuskan memilih kelima novel ini sebagai representasi novel kita selama satu tahun terakhir, kami menemukan keluasan tema dan cara penyajian yang disajikan oleh para novelis, baik pemula ataupun yang sudah memiliki rekam jejak panjang. Terlepas dari karakteristik negatif zaman kontemporer yang sudah disinggung di awal, perkembangan teknologi juga memudahkan penerbitan novel dan akses atas berbagai informasi terbaru, dua hal yang dengan sentuhan kreatif seorang pengarang idealnya mampu memproduksi novel yang menjanjikan.

Namun, di tengah potensi positif tersebut, tak terhindarkan tetap hadir berbagai fenomena warisan, termasuk tegangan antara sifat lokusi dan perlokusi sebuah novel. Tegangan semacam itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan debat kusir, melainkan membutuhkan ketulusan untuk bersama-sama kembali pada satu dari sekian prinsip yang pernah ada dalam naratologi. Saat persoalan ini mengemuka, kami berpegang pada prinsip bahwa sebuah novel pertama-tama dan terutama adalah sebuah novel, bahwa sebuah novel bukan merupakan gelanggang tempat oposisi biner berperang, melainkan sebuah ruang dialektika antara makna tekstual dan makna referensial.

Dengan kata lain, kelima novel di atas dipilih pertama-tama dan terutama berdasarkan jelajah anasir intrinsiknya sebagai novel, bukan karena pertimbangan anasir ekstrinsik apa pun. Dari prinsip tersebut, keragaman pun terutama tampak pada segi tema dan gaya penulisan novel. Adapun keragaman anasir ekstrinsik yang juga hadir, baik itu terkait penerbit ataupun latar belakang, gender, dan rekam jejak pengarang, percayalah bahwa keragaman tersebut hadir sebagai tambahan, tanpa kesengajaan.

Selanjutnya, novel terbaik yang kami pilih menampilkan kisah yang menempatkan jelajah batin karakter-karakternya sebagai poros. Kesegaran hadir dalam tema yang berlapis sehingga menampilkan karakter yang tidak tunggal nilai didukung oleh cara bercerita yang mewakili keberagaman suara naratif. Penulis secara sadar memilih peristiwa-peristiwa yang merupakan metafora getirnya hubungan manusia dengan alam.

MENGOLAH PERANGKAT PUITIK UNTUK PUISI

Pertimbangan terhadap buku-buku puisi pilihan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 berkisar pada diskusi atas beberapa pertanyaan.

Pertama, apakah perpuisian kita belakangan telah menunjukkan tanda-tanda arah baru yang menjanjikan cakrawala lain penciptaan? Cara yang agaknya paling mudah untuk mulai menelisiknya barangkali dengan memperhatikan tumbuhnya keberagaman ucap dan tema, yang makin subur dalam perkembangan situasi sosial budaya kita saat ini, sekaligus ditunjang oleh iklim penerbitan yang berpegang pada kurasi khasnya masing-masing. Ini memberikan corak amat menarik, yang andai kita memandangnya dari kejauhan akan tampak serupa sebaran akar-akar yang menjulur dengan jalannya sendiri; ada yang menukik makin dalam ke celah tanah, ada yang menyisir ke permukaan dan gampang dijangkau siapa saja, ada yang membelit ke benda-benda dan membentuk suatu rupa yang mungkin tampak asing.

Maka demikianlah daftar panjang kategori puisi disusun sebagai sebuah lanskap dari apa yang kita miliki hari ini. Kita masih dapat melihat adanya elaborasi kreativitas yang setia mengolah metafora dan perangkat puitika, kehendak untuk mengeksplorasi cara tutur atau kelisanan, hingga menantang kemungkinan puisi dalam memaknai ulang wacana yang ada di masyarakat. Strategi-strategi penciptaan ini sangat mungkin menjadi tunas baru, meski mana di antaranya yang akan berumur panjang dan lestari diikuti oleh generasi berikutnya, hanya akan bisa dijawab oleh waktu.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana si penyair menggunakan puisinya sebagai reaksi atas tegangan-tegangan kreatif yang bersumber dari dalam maupun luar dirinya? Hal ini kiranya cukup relevan diajukan agar kita selalu memiliki kesempatan untuk menafsir ulang makna puisi dalam kehidupan kita sehingga ia tidaklah hadir sebagai sebuah entitas yang berjarak. Kendati begitu, respons kreatif itu mau tak mau perlu diperbandingkan dan ditimbang ulang lagi dengan kepekaan mengolah perangkat bahasa sebagai usaha menghargai keberaksaraan puisi, atau adakah tanggapan-tanggapan itu sudah cukup sering dilakukan oleh penyair lain maupun oleh si penyairnya sendiri.

Diskusi pada poin ini tak termungkiri beririsan dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terperinci dalam membaca sajak per sajak dan bukan secara selayang pandang sebuah buku. Tanpa bermaksud meniadakan yang umum karena hendak menilik yang khusus, ini kiranya semata dorongan untuk memperhatikan keteguhan sikap sang penyair, baik terhadap tema yang dipilihnya, bahasa yang diolahnya, maupun dunia yang mau dibangunnya dalam buku puisi yang ditulisnya. Dan tidak termungkiri pula, ini menimbulkan debat yang seru di kalangan para juri dan boleh dibilang nyaris tidak ada suara yang cukup solid dalam memilih bahkan untuk daftar pendek.

Walau demikian, pilihan daftar pendek akhirnya ditetapkan juga dan ditulis secara urutan acak, yaitu Hantu Padang karya Esha Tegar Putra, Nyawa Tinggallah Sejenak Lebih Lama karya Pranita Dewi, Dengung Tanah Goyah karya Iyut Fitra, Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api karya Syaiful Alim, dan Tilas Genosida karya A. Muttaqin.

Dengan menggunakan penomoran sebagai judul puisi, Hantu Padang, yang mengolah beragam objek tanpa terkurung pola-pola umum lirisisme, menghimpun puisi-puisi yang berdiri sendiri, tapi saling menyambung, merangkai elegi panjang yang menghamparkan lanskap emosional pada setiap bagiannya. Kepulangan penuh luka ke kota yang memeram trauma hadir melalui imaji yang padat dan khas. Masa lalu dengan segenap kenangan dan ingatan buruk selalu bangkit tiap kali aku lirik terhubung kembali dengan objek yang sama; objek alam, makanan, bunyi dan musik, bahkan objek mistis seperti mantra dan kuburan lama. Hal tersebut melahirkan ketegangan puitik yang disikapi aku lirik tanpa melodramatik. Penyair mampu menahan diri untuk tidak berlarat-larat dalam sentimentil atau keharuan yang berlebihan.

Penggarapan bentuk yang ketat, namun cukup cair adalah hal baik karena bahasa tidak dilihat penyairnya sebagai sesuatu yang menegangkan. Teknik-teknik puitik seperti metafora, metonimia, catachresis, simile, personifikasi, simbol, berbagai jenis citraan, rima, dan sebagainya, dikuasai penyair dengan matang, lalu digunakan secara tangkas, lincah, dan cermat untuk membangun puisi-puisi yang kuat dalam rasa dan bentuk pada buku ini.

Sementara itu, tiga puluh puisi dalam Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama menghadirkan keragaman tema dan sudut pandang yang tak tunggal atas berbagai persoalan. Suara-suara yang lahir dari aku lirik pun muncul dalam wujud yang beragam—dari makhluk mitologi, pahlawan, tokoh fiksi, hingga sosok-sosok anonim. Mereka membawa kisah, menggenggam luka, dan memeram kegelisahan. Kelahiran dan kematian, ketegangan relasi, baik dengan Tuhan, alam, maupun sesama manusia, berulang kali muncul sebagai gema yang menggugah. Tak jarang, persoalan-persoalan itu disambut dengan respons yang getir, bahkan dramatik oleh para aku lirik.

Secara umum, penyair cukup piawai menggunakan teknik-teknik puitik seperti alegori, ironi, oksimoron, personifikasi, metafora, dan simbolisme untuk membangun puisi-puisinya, juga cermat menyisipkan bentuk repetisi seperti anaphora dan epizeuksis demi memperkuat daya sugestif puisi, sekaligus menegaskan bagian-bagian tertentu yang dianggap penting dalam struktur balada, epik, monolog dramatis, maupun jenis puisi lainnya yang termuat dalam buku ini.

Dengung Tanah Goyah secara ajek menghadirkan dunia buruk rupa dengan segala problemnya. Tema seputar penyalahgunaan kekuasaan, keegoisan manusia, kerusakan alam hingga kerusakan puisi tergarap dengan rapi, mendalam dan tuntas dalam puisi-puisi pada buku ini. Subjek orang ketiga tunggal, “ia”, sebagai yang didera berbagai derita fisik dan batin di dunia buruk rupa, ditampilkan penyair sebagai sosok yang bereaksi tidak berlebihan. Penyair cukup mampu menahan diri dengan membiarkan sang “ia” melihat, menyulut api dan menjaganya, lalu terus berjalan, setelah atau sambil mencatat, dengan atau tanpa menyeka air mata. Penyair kuasa mengekang hasrat untuk mengomentari, menyinyiri, menghakimi, apalagi membuat definisi-definisi yang bikin puisi menjadi cerewet dan berisik. Keheningan yang tetap mendapat tempat di tanah yang goyah dan diriuhi dengung menciptakan keseimbangan suasana puitik yang apik.

Baris dan bait dalam 41 puisi yang terkumpul dalam Dengung Tanah Goyah memuat rangkaian diksi yang merepresentasikan warna dan situasi dunia yang hendak dihadirkan oleh penyair. Dengan terampil penyair merangkai pilihan kata konkret dan abstrak menjadi metafora, simile, dan personifikasi yang tidak sekadar menginformasikan suasana lahir dan batin subjek puisi, tetapi juga menghidupkannya secara intens melalui citraan dan nuansa emosional. Di samping itu, penyair secara konsisten menyisipkan bentuk repetisi serta kutipan sebagai bagian bait pada hampir seluruh puisi dalam buku ini.

Selaras dengan judulnya, Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api ini memiliki dua bagian yang secara garis besar menawarkan cara lain dalam melihat sosok yang selama ini telah lekat dengan mitos. Pada bagian pertama, penyair menghadirkan tokoh yang spesifik, yakni Syekh Siti Jenar. Di bagian ini (dalam buku dikelompokkan sebagai suhuf pertama) secara historis, penyair membuat perhitungan-perhitungan baru terhadap yang lama, yang memang tidak menempati wacana arus utama dalam perbincangan. Sementara pada bagian kedua, penyair menghadirkan tokoh-tokoh anonim. Jenarisme digunakan penyair sebagai sarana dialektika dan mengkritik kondisi saat ini, khususnya situasi masyarakat yang berpandangan kaku nyaris beku terhadap agama.

Buku ini cukup berhasil mengangkat tema religiusitas tanpa terjebak dalam banalitas dakwah, berkat keberhasilan penyair menjaga kualitas puitiknya. Ragam nada—dari sinis, jenaka, melankolis, hingga sentimentil—menghidupkan puisi-puisi dengan pendekatan yang beragam. Kekayaan diksi, mulai dari bahasa Jawa hingga bahasa gaul, dimanfaatkan untuk membangun citraan, metafora, dan bentuk-bentuk repetisi dalam struktur puisi yang bervariasi.

Terbagi ke dalam dua bagian utama yang masing-masing dipecah lagi menjadi dua subbagian, Tilas Genosida memuat 29 puisi dengan cara ungkap, sudut pandang, dan persoalan yang cukup heterogen. Dengan keberpihakan yang jelas terhadap yang lemah dan terpinggirkan, penyair meramu berbagai objek, rujukan, serta topik-topik besar yang sudah jamak dikenal. Bagian pertama buku ini menyuguhkan kearifan yang terkandung dalam rahim alam: objek-objek yang akrab dengan kehidupan petani seperti padi, pedati, dan sungai dihidupkan menjadi subjek yang menyuarakan nilai-nilai kebijaksanaan dengan tenang dan jernih. Setelah subbagian ini, puisi-puisi yang menghadirkan dunia santri, rumah tangga, hingga ruang bar hadir secara bergantian, membawa tema-tema seputar religiusitas, spiritualitas, kematian, asmara, dan isu kemanusiaan

Secara umum, perangkat puitik seperti metafora, aliterasi, repetisi, dan citraan digunakan penyair dengan terampil untuk membangun dunia putiknya. Tampak pula jejak pencarian ekspresi yang dinamis, antara lain melalui strategi menjadikan objek-objek puitik sebagai subjek yang menyuarakan permenungan maupun persoalan sosial. Penyair juga menunjukkan keberanian menjelajah di luar konvensi puisi liris dan naratif, serta bereksperimen dengan menyisipkan baris-baris yang memuat pertentangan makna sebagai cara membangun ketegangan dalam teks.

Buku puisi terbaik yang kami pilih mengolah beragam objek tanpa terkurung pola umum lirisisme, menghimpun puisi-puisi yang berdiri sendiri, tapi saling menyambung, merangkai elegi panjang yang menghamparkan lanskap emosional pada setiap bagiannya. Kepulangan penuh luka ke kota yang memeram trauma hadir melalui imaji yang padat dan khas. Masa lalu dengan segenap kenangan dan ingatan buruk selalu bangkit tiap kali aku lirik terhubung kembali dengan objek yang sama; objek alam, makanan, bunyi dan musik, bahkan objek mistis seperti mantra dan kuburan lama. Hal tersebut melahirkan ketegangan puitik yang disikapi aku lirik tanpa melodramatik. Penyair mampu menahan diri untuk tidak berlarat-larat dalam sentimental atau keharuan yang berlebihan.

Berdasarkan hal di atas, buku pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025:

  1. Kategori Cerpen diraih oleh Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama.
  2. Kategori Novel diraih oleh Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday.
  3. Kategori Puisi diraih oleh Hantu Padang karya Esha Tegar Putra.

Selamat kepada para pemenang.

 

Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2025
Ketua: Djoko Saryono

Anggota:

  1. Kurnia Effendi
  2. Asep Subhan
  3. Ni Made Purnama Sari
  4. Inggit Putria Marga


https://www.youtube.com/watch?v=UqfcchhswrU&t=2120s

  Unduh Buku Program Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

 


Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Jakarta, 16 Juni 2025 — Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) memulai rangkaian penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) tahun ini dengan menunjuk tiga orang kurator: Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria. Selanjutnya, melalui Konferensi Pers yang dilaksanakan pada bulan Januari lalu, KSK secara resmi dinyatakan diselenggarakan kembali. Tahapan demi tahapan penjurian telah dilaksanakan dan sampailah kita pada Daftar Pendek KSK 2025.

Kusala Sastra Khatulistiwa adalah penghargaan bagi karya sastra terbaik sepanjang tahun, yang menunjukkan pengerahan kerja kreatif sastrawan Indonesia, pengembangan potensi estetis dalam penggunaan bahasa Indonesia, dan perluasan kemungkinan wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas kehidupan masyarakat Indonesia.

Buku-buku yang dinilai adalah buku-buku yang diterbitkan sepanjang tahun 2024, terbagi dalam tiga kategori: Kumpulan Cerpen, Novel, dan Kumpulan Puisi. Pelaksanaan KSK tahun ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Berikut adalah keputusan Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Kategori Kumpulan Cerpen

  1. Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama
  2. Iblis Tanah Suci karya Arianto Adipurwanto
  3. Keluarga Oriente karya Armin Bell
  4. Mei Salon karya Iin Farliani
  5. Musik Akhir Zaman karya Kiki Sulistyo

Kategori Kumpulan Puisi

  1. Dengung Tanah Goyah karya Iyut Fitra
  2. Hantu Padang karya Esha Tegar Putra
  3. Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama karya Pranita Dewi
  4. Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api karya Syaiful Alim
  5. Tilas Genosida karya A. Muttaqin

Kategori Novel

  1. BEK Karya Mahfud Ikhwan
  2. Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday
  3. Matthes karya Alan TH
  4. Oni Jouska karya Asep Ardian
  5. Paya Nie karya Ida Fitri

Daftar Pendek ini disusun berdasarkan urutan abjad.


Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Jakarta, 17 Mei 2025 -- Setelah tidak hadir selama tiga edisi, Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) kembali hadir di tahun 2025 ini. Bermula dari gagasan pemilik toko buku, penulis, sekaligus sutradara film Richard Oh, penghargaan sastra ini telah berlangsung sejak 2001. Kehadirannya tak hanya merayakan pencapaian-pencapaian dalam prosa dan puisi Indonesia, tapi juga memperkaya ekosistem perbukuan dan kesusastraan. Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 diselenggarakan oleh Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia, didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Sebagaimana telah menjadi tradisi, pengumuman pemenang akan diselenggarakan dalam tiga tahap. Kami akan memulainya dari Daftar Panjang, kemudian Daftar Pendek, hingga terpilih satu pemenang di masing-masing kategori.

Hari ini kami dengan penuh rasa syukur mengumumkan Daftar Panjang berisi sepuluh judul buku untuk kategori Cerita Pendek, Puisi, dan Novel. Tim juri telah memilih dengan pembacaan cermat, juga perdebatan hangat. Mereka masih akan terus bekerja, membaca dengan lebih cermat untuk menentukan Daftar Pendek (lima judul buku tiap kategori). Ada jarak satu bulan dari pengumuman Daftar Panjang ke Daftar Pendek. Kami memang meminta juri untuk memberi ruang waktu agar publik bisa ikut menilai. Penerbit dan toko buku akan memiliki cukup waktu juga untuk mempromosikan buku-buku tersebut. Kami yakin inilah cara Kusala Sastra Khatulistiwa memberi sedikit dampak baik bagi ekosistem sastra kita secara keseluruhan, yaitu buku-buku yang baik terpromosikan dengan cukup dan sebanyak-banyaknya sampai di tangan pembaca.

Daftar Panjang di bawah ini adalah karya sastra terbaik untuk tahun ini, terpilih dari buku yang terbit sepanjang tahun lalu yang dinilai juri. Kami senang dapat mendukung munculnya karya-karya sastra terbaik. Kita berharap karya-karya sastra itu dapat memperkaya jiwa masyarakat Indonesia, serta dapat menjadi sumber inspirasi, semangat, dan harapan kita dalam memahami dunia yang berubah begitu cepat hari ini.

Selamat untuk para penulis buku-buku tersebut, dan selamat merayakan kesusastraan kita hari ini bagi kita semua.

Tim Kurator Kusala Sastra Khatulistiwa
Eka Kurniawan
Hasan Aspahani
Nezar Patria


Daftar Panjang Kategori Kumpulan Cerpen*

  1. Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama
  2. Cerobong Tua Terus Mendera karya Raudal Tanjung Banua
  3. Iblis Tanah Suci karya Arianto Adipurwanto
  4. Kebun Jagal karya Putra Hidayatullah
  5. Keluarga Oriente karya Armin Bell
  6. Mei Salon karya Iin Farliani
  7. Musik Akhir Zaman karya Kiki Sulistyo
  8. Musim di Rambut Ibu karya Mashdar Zainal
  9. Pelayaran Terakhir karya Anggit Rizkianto
  10. Pengetahuan Baru Umat Manusia karya Ken Hanggara

Daftar Panjang Kategori Kumpulan Puisi*

  1. CICA 96 Puisi Cyntha Hariadi karya Cyntha Hariadi
  2. Dengung Tanah Goyah karya Iyut Fitra
  3. Ekphrasis karya Tan Lioe Ie
  4. Hantu Padang karya Esha Tegar Putra
  5. Hidup Tetap Berjalan dan Kita Telah Lupa Alasannya karya Ibe S. Palogai
  6. Jejak Lintasan karya Raudal Tanjung Banua
  7. Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama karya Pranita Dewi
  8. Selamat Malam, Kawan! karya Muhaimin Nurrizqy
  9. Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api karya Syaiful Alim
  10. Tilas Genosida karya A. Muttaqin

Daftar Panjang Kategori Novel*

  1. Ajengan Anjing karya Ridwan Malik
  2. BEK: Sebuah Novel karya Mahfud Ikhwan
  3. Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday
  4. Ingatan Ikan-ikan karya Sasti Gotama
  5. Inyik Balang karya Andre Septiawan
  6. Mari Pergi Lebih Jauh karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
  7. Matthes karya Alan TH
  8. Oni Jouska karya Asep Ardian
  9. Paya Nie: Sebuah Novel karya Ida Fitri
  10. Taksi Malam karya T. Agus Khaidir

*Urutan berdasarkan abjad, bukan peringkat.

---Selesai---



Panggilan Terbuka Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

Pada tahun 2001, seorang penulis, pemilik toko buku, dan sutradara film Richard Oh, memiliki gagasan untuk menghadirkan sebuah penghargaan sastra yang kemudian ia beri nama Khatulistiwa Literary Award. Nama ini berubah di tahun 2014, setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk untuk lebih konsisten mempergunakan bahasa Indonesia, menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa. Melalui tangan dinginnya, juga kegigihannya menghadapi berbagai rintangan termasuk pandemi Covid 19, penghargaan ini terus berlangsung setiap tahun.

Sejumlah nama sastrawan Indonesia pernah mendapatkan penghargaan tersebut, baik untuk kategori prosa maupun puisi. Seno Gumira Ajidarma, Linda Christanty, Goenawan Mohamad, Hamsad Rangkuti, Acep Zamzam Noor, Nirwan Dewanto, Kiki Sulistyo, Ayu Utami, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Okky Madasari, Iksaka Banu, Leila S. Chudori, Inggit Putria Marga, Aan Mansyur dan banyak nama lainnya pernah naik ke panggung penghargaan ini, yang biasanya dilaksanakan di Plaza Senayan, Jakarta.

Kabar duka datang di tahun 2022, ketika Richard Oh, sang penggagas dan motor utama penghargaan ini meninggal. Pada tahun itu, Kusala Sastra Khatulistiwa berhenti. Di tahun berikutnya, pembicaraan mengenai pentingnya menghadirkan kembali Kusala Sastra Khatulistiwa mulai terdengar di antara orang-orang terdekat Richard Oh maupun dari komunitas sastra yang lebih luas.

Digerakkan oleh istri Richard, Pratiwi Juliani, dan adiknya, Linda Oh, Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) didirikan tahun 2024. Lembaga ini berinisiatif meneruskan apa yang telah dibangun oleh semangat filantropis dan kecintaan terhadap kesusastraan dari seorang Richard Oh.

Dengan dukungan Dana Indonesiana serta sejumlah sponsor lain, YRKI menghadirkan kembali Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun 2025 ini. Yayasan telah menunjuk tiga orang kurator program yaitu Nezar Patria, Eka Kurniawan, dan Hasan Aspahani.

Ada beberapa hal baru dalam penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini. Penghargaan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu untuk buku puisi, novel, dan cerpen.
Pembagian ini diputuskan untuk memberi ruang berkembang yang lebih besar pada cerpen yang memiliki perkembangan sangat penting dalam tradisi sastra Indonesia. Buku-buku yang dinilai adalah karya berbahasa Indonesia yang terbit sepanjang tahun 2024.

Hal lain yang juga baru adalah tambahan hadiah berupa pembelian buku pemenang senilai Rp25 juta. Buku akan disebarkan ke sekolah, komunitas, dan perpustakaan/taman bacaan masyarakat, sebagai dukungan pada penerbit, serta perluasan pembaca karya sastra yang berkualitas. Adapun hadiah untuk tiga buku terbaik masing-masing Rp75 juta. Dengan demikian maka total nilai hadiah masing-masing pemenang menjadi Rp100 juta


Syarat dan Ketentuan

  1. Terbuka bagi penulis berkewarganegaraan Indonesia. Karya yang diajukan merupakan hasil karya penulis tunggal dan tidak melanggar hak cipta.
  2. Karya yang diajukan berupa buku cetak yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2024.
  3. Karya ditulis dalam bahasa Indonesia.
  4. Tiga kategori karya:
    • Kumpulan cerpen, dengan jumlah minimal dua cerpen.
    • Novel, dengan panjang minimal 30.000 kata.
    • Kumpulan puisi, yang terdiri dari minimal 40 puisi, atau 40 halaman, atau satu puisi panjang dengan total minimal 40 halaman.
  1. Penerbit atau penulis mengirimkan setidaknya dua eksemplar dari setiap judul karya yang diajukan. Pengiriman disertai dokumen pendukung berupa biodata penulis dan mencantumkan informasi kontak.
  2. Karya dikirimkan paling lambat tanggal 20 Februari 2025 (cap pos). Karya dikirimkan ke:

Kusala Sastra Khatulistiwa 2025
ED Cluster No. 2A
Jalan Gunung Indah V
Cirendeu, Ciputat Timur,
Tangerang Selatan, Banten
15445

  1. Daftar panjang dan daftar pendek karya terpilih diumumkan sebelum pengumuman pemenang.
  2. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada acara Malam Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Narahubung
Email: info@kusala.id